Interpreter

Berubah Mengikuti Perkembangan Zaman

Ada segmen Profil CEO dalam Harian Kompas edisi Senin, 18 Maret 2019 menampilkan Presiden Direktur Astra Grup Prijono Sugiarto yang bercerita mengenai perusahaan perlu adaptif, trengginas, dan inovatif agar mampu menghadapi tantangan. Beliau mencontohkan Astra yang tadinya memiliki porsi bisnis otomotif sebanyak 90% pada tahun 2001, kini menjadi sekitar 39%. Saya juga pernah mendengar langsung mengenai perubahan yang dilakukan oleh Fujifilm setelah bisnis film foto tidak lagi laku dengan semakin populernya kamera digital dan ponsel yang dapat digunakan juga untuk memoto.

Apa yang dilakukan oleh kedua contoh perusahaan tersebut adalah dalam rangka mempertahankan bisnis untuk tetap berjalan, sekalipun tantangan yang dihadapi dan kegiatan usaha yang dilakukan berbeda dengan pada saat awal berdirinya perusahaan.

Menurut saya, dunia penjurubahasaan Jepang-Indonesia pun mengalami berbagai macam tantangan dalam 10 tahun ini. Saya masih ingat sekitar tahun 2010, ketika itu banyak perusahaan manufaktur Jepang yang ekspansi ke Indonesia. Kawasan industri sepanjang jalan tol Cikampek pun menjadi semakin ramai. Permintaan juru bahasa Jepang untuk mendampingi survei lokasi pabrik, pengurusan izin, rekrutmen karyawan baru, dan hal-hal yang berhubungan dengan pendirian perusahaan sangat ramai.

Dua atau tiga tahun setelahnya, kali ini ramai dengan isu demo pekerja. Menjadi juru bahasa di antara dua pihak yang bertantangan menjadi pengalaman tersendiri karena di luar kemampuan berbahasa, kemampuan berkomunikasi, mengontrol emosi, dan menunjukkan sikap yang tidak berpihak adalah hal yang harus dimiliki dalam situasi tersebut.

Pada tahun 2014-2015, industri otomotif Indonesia menjadi lesu. Saya juga turut merasakan dampaknya karena mendapat cukup banyak pembatalan job juru bahasa dari pabrik-pabrik Jepang karena alasan efisiensi biaya.

Namun, di saat yang bersamaan, industri pariwisata justru sangat menggeliat. Apalagi Tokyo telah ditetapkan sebagai tuan rumah Olimpiade 2020 sehingga Jepang sangat giat untuk menarik wisatawan asing datang ke Jepang. Salah satu bentuk keseriusan tersebut adalah dengan mengajak 1.000 pelaku usaha industri Jepang ke Indonesia dalam rangka melakukan promosi wisata Jepang (https://www.id.emb-japan.go.jp/news15_46.html). Konon, kegiatan tersebut menjadi ‘panen raya’ bagi para juru bahasa Jepang karena permintaannya yang banyak. Bahkan karena kehabisan ‘stok’ juru bahasa Jepang-Indonesia, siapa pun yang bisa bahasa Jepang diajak untuk terlibat dalam rangkaian acara tersebut.

Dalam 2-3 tahun terakhir ini, permintaan juru bahasa yang berhubungan dengan bisnis dan pemerintah semakin meningkat. Hal ini konon dipacu oleh berkurangnya investasi langsung, tetapi semakin meningkatnya kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan SDM dan kerja sama teknis.

Bercermin dari Astra dan Fujifilm seperti pada contoh di atas, menurut saya seorang juru bahasa, khususnya juru bahasa lepas, pun harus bisa berubah mengikuti zaman. Jika dulu cukup hanya memiliki pengetahuan mengenai gemba, kini akan lebih baik jika memiliki pengetahuan juga mengenai manajemen perusahaan, khususnya bidang legal dan akuntansi. Pengetahuan mengenai kebijakan pemerintah, baik Indonesia dan Jepang juga sebaiknya dimiliki agar dapat membaca tren perubahan atau tantangan yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Bagaimana pun juga, pada akhirnya menjadi juru bahasa lepas sama dengan melakukan usaha. Sebuah usaha yang dilakukan secara profesional oleh individu seperti halnya pengacara atau dokter praktik. Agar usahanya dapat berjalan dengan lancar, tentunya perlu membuat strategi. Salah satunya adalah dengan membaca peluang pasar dan menyiapkan pengetahuan yang diperlukan untuk menghadapinya.

Uncategorized

Catatan Awal Tahun 2019

Tahun baru 2019 sudah memasuki hari ke-4. Tadinya saya hendak membuat catatan akhir tahun, tetapi ternyata waktu berlalu begitu cepat…

Tahun 2018 merupakan tahun peringatan ke-60 hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Begitu banyak rangkaian acara seremonial antara kedua negara pada tahun lalu. Saya pun cukup beruntung karena dapat mengikuti beberapa acara di antaranya yang membuat jadwal saya sebagai juru bahasa cukup padat.

Pada tahun lalu juga diselenggarakan Asian Games dan Asian Para Games di Jakarta dan Palembang. Saya sendiri tidak terlibat langsung selama kedua acara tersebut, tetapi saya berkesempatan untuk mengikuti pertemuan yang melibatkan Japan Sport Agency. Apalagi, Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade pada tahun 2020 nanti.

Sementara untuk penerjemahan, tahun lalu akhirnya saya mendapat lagi judul komik versi cetak yang baru. Bidang penerbitan memang menghadapi tantangan yang berat di tengah banyaknya bacaan-bacaan yang dapat dinikmati secara daring. Salah satu berita yang cukup mengejutkan di tahun lalu adalah berakhirnya Tabloid Bola yang terbit sejak tahun 1984. Saya pribadi juga cukup khawatir dengan keberlangsungan komik versi cetak karena penerjemahan komik daring yang saya kerjakan jauh lebih banyak. Untungnya masih ada pecinta komik setia yang rasanya tidak ‘puas’ kalau tidak mengoleksi komik. Selama ceritanya menarik, tampaknya komik versi cetak pun masih akan ada penggemarnya.

Proyek menarik lainnya adalah bekerja sama dengan agensi penerjemah Jepang yang kuat di bidang pertelevisian. Saya mendapat proyek ini berkat rekomendasi salah seorang Jepang yang dulu saya pernah bekerja sama dengannya sebagai juru bahasa. Tema proyeknya adalah memperkenalkan tentang Jepang. Tema yang menurut saya menarik karena membuat saya dapat mengenal Jepang semakin dalam lagi.

Tahun lalu pun saya masih berkesempatan untuk menjadi pembicara di salah satu kampus yang berada di Bekasi. Namun, berbeda dari biasanya yang mengangkat tema seputar penerjemah atau juru bahasa, kali ini saya diminta untuk membicarakan peluang kerja bagi lulusan sastra Jepang. Menurut saya tema ini sangat menarik karena masih banyak yang beranggapan bahwa pilihan karir lulusan sastra Jepang terbatas menjadi penerjemah saja.

Padahal, peluangnya ada macam-macam, apalagi jika memiliki kemampuan selain mampu berbahasa Jepang. Ditambah lagi Jepang juga ke depannya akan semakin terbuka dalam menerima tenaga kerja asing. Salah satu persyaratannya memang harus menguasai bahasa Jepang agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Jika para lulusan sastra Jepang memperkaya kemampuan dirinya dengan bidang yang dibutuhkan oleh Jepang, mereka akan unggul karena seharusnya memiliki kemampuan bahasa Jepang yang lebih baik dibandingkan dengan yang baru belajar bahasa Jepang.

Selain hal-hal yang sudah rutin setiap tahunnya, pada tahun 2018 saya mendapatkan dua pengalaman baru, yaitu menjadi pengajar dan pembawa acara alias MC. Tawaran mengajar pertama datang dari salah satu agensi penerjemahan yang sudah lama bekerja sama dengan saya. Mereka ingin memupuk bibit penerjemah baru untuk persiapan seandainya proyek penerjemahan semakin banyak.

Sejujurnya, saya belum pernah mengajar mengenai penerjemahan secara rutin, kecuali untuk satu kali pertemuan saja sebagai pembicara. Oleh karena itu, awalnya saya sempat ragu untuk menerima tawaran mengajar ini. Sambil membongkar catatan ketika masih kuliah S2, saya pun mulai mencoba menyusun rencana pengajarannya sambil di bantu oleh staf dari agensi tersebut. Hasilnya mungkin belum bisa dikatakan sempurna, tetapi setidaknya para peserta memahami dasar-dasar dari penerjemahan dan menjadi terbuka wawasannya mengenai dunia penerjemahan.

Hal itu juga yang turut membantu saya untuk berani menerima tawaran untuk mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Tawaran ini datang dari salah seorang rekan juru bahasa yang juga merupakan Ketua Prodi Bahasa Jepang di kampus tersebut. Saya pribadi sangat berharap agar akan ada semakin banyak penerjemah bahasa Jepang yang berkualitas di Indonesia. Semoga yang saya lakukan ini juga dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut.

Seperti yang sudah ditulis di atas, pengalaman baru saya lainnya di tahun 2018 adalah menjadi MC. Tawaran ini sebenarnya tidak pernah ada dalam bayangan saya. Awalnya saya hanya bekerja sama dengan sebuah EO (event organizer) sebagai juru bahasa. EO tersebut juga sebenarnya pernah bertanya kepada saya apakah saya tertarik untuk menjadi MC. Oleh karena dunia yang menurut saya sangat berbeda, ketika itu saya hanya berkata akan memikirnnya sambil terus menjadi juru bahasa untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh EO tersebut.

Hingga suatu ketika dalam suatu acara di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, ada EO lain yang memberikan tawaran untuk menjadi MC setelah melihat saya dalam acara tersebut. Saya pun akhirnya menerima tawaran dari mereka karena mereka meyakinkan saya untuk membantu saya agar dapat menjadi MC yang baik dan pada kenyataannya pun memang demikian. Dukungan dari tim yang luar biasa membuat saya dapat terus belajar untuk menjadi MC yang lebih baik lagi. Hal ini pun tidak terlepas dari kemampuan bahasa Jepang yang saya miliki karena klien dari EO tersebut umumnya adalah perusahaan atau organisasi pemerintah Jepang. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih 1 orang MC yang mampu berbicara dalam bahasa Jepang dan Indonesia sekaligus, alih-alih menyediakan 2 orang MC.

Nah, apa yang kira-kira akan terjadi di tahun 2019 ini? Yang pasti, tahun ini merupakan peringatan 30 tahun kota persahabatan antara Jakarta dan Tokyo. Selain itu, menjelang Olimpiade dan Paralimpiade tahun depan di Tokyo, kemungkinan besar masih akan ada banyak acara promosi di bidang pariwisata. Tidak tertutup kemungkinan juga akan ada kegiatan rekrutmen seiring dengan semakin terbukanya Jepang terhadap tenaga kerja asing seperti yang sempat disinggung juga oleh Kaisar Jepang dalam pidato awal tahunnya.

Semoga hubungan Jepang dan Indonesia dapat menjadi semakin erat dan harmonis. Kemudian, semoga semakin banyak penerjemah dan juru bahasa Jepang yang akan menjembatani komunikasi kedua negara. (^^)v

Interpreter, Uncategorized

(Jangan) Menilai Buku dari Sampulnya

Alkisah Abu Nawas diundang oleh raja untuk makan di istana. Abu Nawas pun berangkat memenuhi undangan tersebut dengan mengenakan pakaian sekadarnya. Sesampainya di istana, penjaga gerbang menahannya dan menanyakan keperluannya.

“Saya datang diundang oleh raja”, jawab Abu Nawas.

“Maaf, tolong kenakan pakaian yang lebih pantas jika hendak masuk ke dalam istana”, pinta sang penjaga.

Abu Nawas pun kembali ke rumahnya dan berganti pakaian. Kali ini dia mengenakan pakaian paling bagus yang dimilikinya. Penjaga yang melihat Abu Nawas telah berganti pakaian pun puas dan mengizinkannya untuk masuk ke dalam istana.

Abu Nawas kemudian masuk ke ruang jamuan dan menunggu makanan dihidangkan. Setelah itu, dia mengambil piring yang berisi makanan tersebut dan menumpahkannya pada bajunya. Raja dan para tamu lain terkejut melihat perbuatannya.

“Apa yang kau lakukan, Abu Nawas?”, tanya sang raja.

“Aku memberi makanan pada pakaianku, wahai raja”, jawab Abu Nawas.

“Kenapa kau melakukan hal itu?”

“Karena aku diizinkan masuk ke sini setelah berganti pakaian. Itu artinya, pakaianku lah yang diundang, bukan diriku”.

 

————————————-

Berbeda dengan penerjemah simultan yang bekerja di dalam bilik, penerjemah konsekutif umumnya bekerja berdampingan dengan pembicaranya. Sehingga, mata para pendengar akan tertuju kepada sang penerjemah ketika dia berbicara.

Para klien atau user pun memiliki harapan agar rupa penerjemah sesuai dengan harapan mereka. Tidak jarang diantara mereka yang sejak awal telah memberitahukan persyaratan fisik yang mereka cari. Dalam beberapa forum seperti grup Facebook atau Whatsapp, ada rekan-rekan penerjemah yang mengeluhkan persyaratan seperti ini.

“Penerjemah, ‘kan, yang penting kemampuannya. Memangnya fisik berpengaruh pada kemampuan penerjemah?”

Itu adalah tanggapan paling umum ketika melihat lowongan penerjemah yang mencantumkan persyaratan fisik harus menarik.

Dulu pun saya berpikir seperti itu, hingga ada kejadian yang membuat saya berpikir ulang mengenai makna ‘fisik’ tersebut. Ketika itu saya sedang dikontrak oleh sebuah pabrik selama beberapa bulan dalam rangka persiapan ISO. Pakaian yang dikenakan di sana adalah seragam kerja. Setiap pagi para karyawannya datang dengan pakaian bebas, kemudian menukarnya dengan seragam kerja di ruang loker.

Awalnya saya datang dengan T-shirt yang apa adanya dan juga memakai sepatu kets biasa. Suatu saat salah seorang staf berkata kepada saya, “Saya perhatikan Pak Hanif selalu memakai T-shirt biasa setiap datang ke sini. Sayang, lho, pak. Saya tidak tahu berapa honor bapak, sih, tapi saya yakin honornya besar. Seharusnya bapak pakai pakaian yang lebih rapi, supaya kelihatannya pantas”.

Saya terkejut juga dengan ucapannya. Saya perhatikan staf tersebut memang selalu berpakaian rapi ketika datang. Dia selalu mengenakan kemeja, celana kain, dan sepatu pantofel, walaupun nantinya semua itu akan diganti dengan seragam kerja dan sepatu kerja yang seragam juga.

Mendengar ucapannya tersebut, saya jadi teringat dengan cerita Abu Nawas di atas dan artikel mengenai kesan pertama. Dalam artikel yang saya baca tersebut mengatakan bahwa pakaian merupakan salah satu yang orang perhatikan ketika bertemu untuk pertama kalinya. Rasanya seperti tidak adil jika orang dinilai melalui pakaiannya, tetapi kenyataannya orang menilai penampilan seseorang baik sengaja maupun tidak.

Semenjak kejadian itu, saya selalu memikirkan pakaian apa yang akan saya kenakan dalam pekerjaan-pekerjaan saya. Contohnya, ketika menjadi penerjemah untuk konferensi pers di hotel, saya lebih memilih batik karena audiensnya lebih banyak orang Indonesia. Untuk acara jamuan yang diselenggarakan oleh perusahaan Jepang dengan tamu yang lebih banyak berasal dari Jepang langsung, saya memilih setelan jas.

file_000
Sebagai penerjemah dalam gala dinner bersama pembeli apartemen Branz Simatupang

Dengan mengenakan pakaian yang tepat dan tidak salah kostum, hal itu ternyata membuat klien atau user saya percaya dan yakin bahwa saya akan menerjemahkan dengan benar, walaupun saya belum bekerja (baca: menerjemahkan). Lawan bicara atau audiens dari klien/user saya pun demikian. Tentunya ini juga meningkatkan kepercayaan diri saya.

Bagi klien/user, penerjemah mewakili diri mereka. Khususnya ketika dalam acara promosi atau negosiasi, lawan bicara atau audiens tidak melihat penerjemah sebagai seorang individu yang independen, melainkan sebagai satu kesatuan dari penyelenggara acara atau perusahaan yang diwakilinya. Hal ini lah yang membuat sebagian klien/user memikirkan penampilan fisik dari sang penerjemah.

Penampilan fisik yang menarik bukan berarti harus rupawan, melainkan berpenampilan yang sesuai dengan situasinya. Jangan lupa juga untuk tersenyum. Konon senyum membuat orang jauh lebih menarik daripada tidak berekspresi ketika berbicara.

Sebenarnya saya ingin seperti Mark Zuckerberg yang tidak pernah pusing untuk memilih baju apa yang dikenakannya setiap hari. Namun tidak ada salahnya juga untuk berpakaian dengan rapi sesuai situasinya.

Klien senang, saya pun menjadi percaya diri ^^

Interpreter

Menambah Populasi Penerjemah Jepang

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar cerita bahwa ada sebuah lembaga pemerintah Jepang yang mencari penerjemah (interpreter) Inggris-Indonesia. Ketika pertama kali mendengarnya, saya pikir karena orang asingnya bukan orang Jepang. Namun ternyata yang mengejutkan adalah ternyata justru orang asingnya adalah orang Jepang!

Saya jadi teringat dengan seminar mengenai Jepang yang diselenggarakan di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu pembicaranya ketika itu membahas mengenai perbandingan pembelajar bahasa Jepang di negara-negara Asia Tenggara. Bagi saya, hasil penelitiannya cukup mengejutkan. Pembicara tersebut mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pembelajar bahasa Jepang terbesar di Asia Tenggara. Indornsia bahkan merupakan negara dengan jumlah pembelajar bahasa Jepang terbesar ke-2 di dunia. Namun jumlah pemegang sertifikat JLPT N1-nya jauh di bawah Thailand dan Vietnam. 

Secara tidak langsung hasil penelitian tersebut berdampak pada cerita di awal. Sedikitnya pembelajar bahasa Jepang yang menguasai bahasa Jepang dengan baik tentunya mempengaruhi jumlah penerjemah bahasa Jepang-Indonesia. Walaupun JLPT bukan alat untuk mengukur kemampuan dalam melakukan penerjemahan, setidaknya hal itu dapat menunjukkan seberapa baik penguasaan bahasa Jepang-nya. Tanpa menguasai bahasa Jepang yang baik, sudah tentu akan sulit untuk menjadi penerjemah yang baik.

Secara pribadi saya senang karena saat ini sudah cukup banyak akses untuk dapat mendengar bahasa Jepang. Mulai dari sekadar salam di restoran Jepang sampai saluran khusus Jepang di televisi berbayar. Saya rasa hal ini dapat menambah “kepekaan” akan bahasa Jepang. Tiket pesawat ke Jepang yang semakin murah dan berlakunua bebas visa bagi pemegang e-paspor juga membuat orang Indonesia semakin mudah untuk mengunjungi Jepang.

Kembali ke masalah penerjemah bahasa Jepang. Saya pribadi tentunya ingin orang Jepang menggunakan penerjemah Jepang-Indonesia, bukan Inggris-Indonesia. Untuk itu perlu dimulai dari menambah populasinya terlebih dulu, khususnya populasi penerjemah freelance. Semakin banyaknya populasi dapat melahirkan persaingan sehingga dapat memunculkan keinginan untuk meningkatkan kemampuan dalam penerjemahan agar dapat terus bersaing.

Semoga ke depannya akan semakin banyak penerjemah bahasa Jepang-Indonesia yang berkualitas, agar “lahannya” tidak diambil oleh penerjemah bahasa asing lain.

Penerjemah

Menilai Kompetensi Penerjemah Bahasa Jepang

Idealnya sebuah profesi memiliki suatu pedoman kompetensi yang objektif agar orang awam dapat mengukur kemampuan yang bersangkutan. Hal yang sama juga berlaku bagi profesi penerjemah. Terlebih lagi pengguna jasa harus percaya bahwa kata-kata atau tulisannya akan disampaikan dengan benar oleh sang penerjemah.

Saat ini boleh dikatakan tidak ada suatu ujian untuk mengukur kompetensi penerjemah pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Dulu pernah ada Ujian Kompetensi Penerjemah (UKP).  Ujian ini terdiri dari ujian teks hukum dan teks umum. Peserta yang lulus ujian teks hukum dengan nilai tertentu (saya tidak tahu persis kriterianya) akan diberi surat keputusan sebagai penerjemah bersumpah. Sayangnya ujian ini sudah vakum cukup lama dan tidak diketahui kapan akan diselenggarakan kembali.

Lalu, bagaimana caranya untuk mengukur kompetensi seorang penerjemah bahasa Jepang? Cara yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mengukur kompetensi bahasa Jepang dan Indonesia sang penerjemah tersebut. Walaupun kemampuan berbahasa yang baik tidak berarti orang tersebut memiliki kemampuan menerjemahkan yang baik, setidaknya hal tersebut dapat dijadikan salah satu tolak ukur kemampuan penerjemah tersebut.

Kemampuan bahasa Indonesia dapat diukur melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara kemampuan bahasa Jepang dapat diukur dengan Japanese Languange Proficiency Test (JLPT).

Saya sendiri tentu menginginkan ada sebuah lembaga di Indonesia ataupun di luar negeri yang menyelenggarakan ujian kompetensi bagi penerjemah pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Selain untuk mengukur kemampuan diri sendiri, saya pun ingin agar pengguna jasa merasa yakin ketika mereka menggunakan jasa saya.

Saya berharap semoga UKP dapat diselenggarakan lagi dalam waktu dekat.

Penerjemahan

Berbicara dalam Bahasa yang (Tidak) Sama

Inti dari menerjemahan adalah menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Walaupun sepertinya mudah, perbedaan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran membuat penerjemah harus dapat menyampaikan pesan tersebut dalam bahasa yang dimengerti oleh sasaran.

Contoh kata yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam adalah kaizen. Istilah yang populer berkat Toyata ini sering diterjemahkan sebagai perbaikan dalam bahasa Indonesia atau improvement dalam bahasa Inggris. 

Apakah ada yang salah dalam penerjemahan tersebut? Jawabannya tidak. Tetapi kemungkinan besar nuansa yang ditangkap akan berbeda dengan pemahaman orang Jepang. Bagi yang pernah bekerja di pabrik tentunya akan sering mendengar kata ini, tetapi mungkin sering juga dimarahi ketika terjadi lagi masalah yang sama padahal kaizen telah dilakukan.

Penyebabnya adalah perbedaan pemahaman mengenai kaizen itu sendiri. Orang Jepang berpikir apabila telah dilakukan kaizen, maka masalah yang sama seharusnya tidak terjadi kembali. Sementara bagi kebanyakan orang Indonesia, kaizen yang diterjemahkan sebagai perbaikan adalah yang penting tidak bermasalah lagi pada saat tersebut dan jika terjadi masalah kembali, maka cukup diperbaiki kembali.

Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa “bahasa” yang dibicarakan sudah berbeda. Contoh lainnya dalam bahasa Indonesia: Konon, jika kita bertanya tentang jarak kepada orang Jawa dan ia mengatakan “dekat” yang disertai jempol sebagai penunjuk arah, maka itu artinya memang benar-benar dekat. Namun jika mengatakan “dekat” yang disertai dengan jari telunjuk sebagai penunjuk arah, maka sebenarnya jaraknya masih cukup jauh (mohon maaf jika contohnya salah).

Jika orang Jepang yang hanya mengerti bahasa Indonesia saja, kemungkinan besar dia akan menangkap bahwa kedua “dekat” tersebut memiliki makna yang sama. Kesalahpahaman akan makna yang sesungguhnya sering sekali terjadi pada orang Jepang yang baru bisa bahasa Indonesia. Sering kalanya hal-hal sederhana seperti inilah yang membuat komunikasi terhambat.

Say pribadi meyakini bahwa salah satu fungsi penerjemah adalah menjembatani perbedaan budaya tersebut. Saya pernah menjadi juru bahasa bagi orang Jepang yang menurut saya cukup fasih bahasa Indonesia-nya. Namun ia tetap menggunakan jasa saya sebagai juru bahasa pada saat meeting atau pertemuan penting karena ia mengatakan bahwa ia sering mengalami kesulitan memahami makna sesungguhnya yang disampaikan.

Dalam hal ini, juru bahasa khususnya juru bahasa konsekutif memiliki keuntungan dibandingkan penerjemah tulisan. Selain memiliki kesempatan untuk memberikan penjelasan tambahan, dapat berdiskusi terlebih dahulu mengenai tujuan yang hendak disampaikan membuat juru bahasa dapat menyiapkan strategi penerjemahan yang terbaik bagi sasarannya.

Bagaimana pun juga, pemahaman yang baik mengenai kebudayaan yang terkandung dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran akan membuat seorang penerjemah menjadi penyampai pesan yang efektif dan tepat sasaran. Kemudian yang paling penting adalah dapat berbicara dengan bahasa yang benar-benar sama (dimengerti) kepada sasarannya.

Penerjemahan

Proses Penerjemahan Komik Jepang

 Tahun ini saya memasuki tahun ke-6 sebagai penerjemah komik Jepang. Sudah lebih dari 20 judul dengan lebih dari 130 volume komik yang telah saya terjemahkan. Beberapa di antaranya ada yang sudah tamat, tetapi banyak juga yang masih berlangsung serinya.

Dalam blog ini saya pernah berbagi mengenai tips untuk mengikuti tes penerjemah komik. Kali ini saya hendak berbagi mengenai proses penerjemahan komik.

Proses pertama tentunya menerima komik yang akan diterjemahkan dari pihak penerbit. Selain salinannya, penerbit juga menyertakan komik aslinya. Tujuannya adalah untuk memeriksa kelengkapan halaman dan teks-teks yang tidak jelas dalam salinan.

  

Proses selanjutnya adalah memberi nomor pada balon-balon dialog, efek suara, narasi, dam teks-teks lainnya yang harus diterjemahkan. Nomor dituliskan secara berurutan dari 1 dengan menggunakan spidol berwarna merah. Pada saat memberikan nomor, kadang ada balon dialog atau teks yang terlewat untuk dinomori. Biasanya saya menyiasatinya dengan memberi tambahan “-1” dari nomor sebelumnya. Contohnya, jika dialog yang terlewat berada di antara no. 103 dan no. 104, maka saya akan beri nomor 103-1 untuk dialog yang terlewat tersebut.

  
Penomoran untuk teks tidak langsung dibubuhkan dalam kotak gambar, melainkan diberi tanda bitang (*). Nomornya sendiri dicantumkan di luar kotak gambar (contoh: *20). Hal ini dikarenakan komik-komik terbitan Level Comics umumnya tidak menerjemahkan teks yang ada di dalam kolom gambar.

  
Setelah penomoran selesai, barulah mulai diterjemahkan di komputer sesuai dengan nomornya. Satu komik rata-rata terdapat 1500 nomor. 

  
Proses selanjutnya adalah memeriksa hasil terjemahan secara keseluruhan. Selain memeriksa kalimat-kalimat yang janggal dan salah ketik, fungsinya adalah untuk mendapatkan gambaran keseluruhan untuk dibuatkan sinopsis yang biasanya dicetak di bagian belakang buku.

Setelah semuanya selesai, file terjemahan dikirim ke redaksi melalui surel. Sedangkan salinan dan komik aslinya dikirim melalui pos.

Batas waktu yang diberikan untuk menerjemahkan komik adalah 2 minggu untuk 1 komik. Bagi saya pribadi waktu yang diberikan tersebut sudah lebih dari cukup. Biasanya saya tidak memerlukan waktu yang lama jika hanya menerjemahkan komik (gambar). Namun untuk komik seperti The Drops of God atau Black Swindler, biasanya lebih lama karena ada narasi di bagian belakangnya.

Mudah-mudahan tulisan di atas bisa menjadi gambaran mengenai proses penerjemahan komik Jepang.

Penerjemahan

Proses Penerjemahan Komik Jepang

 Tahun ini saya memasuki tahun ke-6 sebagai penerjemah komik Jepang. Sudah lebih dari 20 judul dengan lebih dari 130 volume komik yang telah saya terjemahkan. Beberapa di antaranya ada yang sudah tamat, tetapi banyak juga yang masih berlangsung serinya.

Dalam blog ini saya pernah berbagi mengenai tips untuk mengikuti tes penerjemah komik. Kali ini saya hendak berbagi mengenai proses penerjemahan komik.

Proses pertama tentunya menerima komik yang akan diterjemahkan dari pihak penerbit. Selain salinannya, penerbit juga menyertakan komik aslinya. Tujuannya adalah untuk memeriksa kelengkapan halaman dan teks-teks yang tidak jelas dalam salinan.

  

Proses selanjutnya adalah memberi nomor pada balon-balon dialog, efek suara, narasi, dam teks-teks lainnya yang harus diterjemahkan. Nomor dituliskan secara berurutan dari 1 dengan menggunakan spidol berwarna merah. Pada saat memberikan nomor, kadang ada balon dialog atau teks yang terlewat untuk dinomori. Biasanya saya menyiasatinya dengan memberi tambahan “-1” dari nomor sebelumnya. Contohnya, jika dialog yang terlewat berada di antara no. 103 dan no. 104, maka saya akan beri nomor 103-1 untuk dialog yang terlewat tersebut.

  
Penomoran untuk teks tidak langsung dibubuhkan dalam kotak gambar, melainkan diberi tanda bitang (*). Nomornya sendiri dicantumkan di luar kotak gambar (contoh: *20). Hal ini dikarenakan komik-komik terbitan Level Comics umumnya tidak menerjemahkan teks yang ada di dalam kolom gambar.

  
Setelah penomoran selesai, barulah mulai diterjemahkan di komputer sesuai dengan nomornya. Satu komik rata-rata terdapat 1500 nomor. 

  
Proses selanjutnya adalah memeriksa hasil terjemahan secara keseluruhan. Selain memeriksa kalimat-kalimat yang janggal dan salah ketik, fungsinya adalah untuk mendapatkan gambaran keseluruhan untuk dibuatkan sinopsis yang biasanya dicetak di bagian belakang buku.

Setelah semuanya selesai, file terjemahan dikirim ke redaksi melalui surel. Sedangkan salinan dan komik aslinya dikirim melalui pos.

Batas waktu yang diberikan untuk menerjemahkan komik adalah 2 minggu untuk 1 komik. Bagi saya pribadi waktu yang diberikan tersebut sudah lebih dari cukup. Biasanya saya tidak memerlukan waktu yang lama jika hanya menerjemahkan komik (gambar). Namun untuk komik seperti The Drops of God atau Black Swindler, biasanya lebih lama karena ada narasi di bagian belakangnya.

Mudah-mudahan tulisan di atas bisa menjadi gambaran mengenai proses penerjemahan komik Jepang.

Penerjemah

Penerjemah Bahasa Jepang Tersumpah

Penerjemah tersumpah adalah seorang penerjemah yang lulus dalam Ujian Kemampuan Penerjemah (UKP) untuk teks hukum dan memiliki surat keputusa (SK) serta diambil sumpahnya oleh Gubernur. Oleh karenanya, penerjemah tersumpah biasanya diperlukan ketika perlu untuk menerjemahkan dokumen-dokumen legal seperti surat perjanjian, akta kelahiran, akta nikah dan dokumen-dokumen berkekuatan hukum lainnya.

Perlu diketahui bahwa seorang penerjemah tersumpah adalah penerjemah untuk dokumen tertulis dan bukan untuk penerjemahan lisan. Sangat disayangkan bahwa UKP untuk menjadi seorang penerjemah tersumpah sudah tidak dilaksanakan lagi sejak sekitar tahun 2012. Oleh karena itu, tidak ada lagi penerjemah tersumpah yang baru pada saat ini.

Jika anda memerlukan penerjemah tersumpah bahasa Jepang, maka anda dapat mencarinya melalui Direktori Penerjemah Himpunan Penerjemah Indonesia. Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Masuk ke dalam situs Direktori Penerjemah HPI

Capture

2. Kemudian pilih “Translator” pada bagian “Profession”

Capture1

3. Pada bagian “Languange pair”, pilih bahasa yang akan diterjemahkan pada bagian “Source”. Contohnya, jika ingin menerjemahkan bahasa Jepang ke bahasa Indonesia, maka pilih “Japanese” pada bagian “Source” dan pilih “Indonesian” pada bagian “Target”.

Capture1

4. Pilih “Sworn translator”

Capture2

5. Kemudian klik “Browse” yang berada di paling bawah laman.

Capture3

6. Hasil akan muncul penerjemah tersumpah Bahasa Jepang.

hasil

Hasil pencarian tersebut terbatas pada penerjemah yang terdaftar sebagai anggota HPI. Untuk saat ini memang hanya ada 1 orang penerjemah tersumpah bahasa Jepang saja. Mudah-mudahan ke depannya ujian untuk menjadi penerjemah tersumpah dapat diadakan lagi agar semakin banyak penerjemah bahasa Jepang yang dapat menjadi penerjemah tersumpah.

Penerjemah

Penerjemah Bahasa Jepang Untuk Negosiasi Bisnis

Saat ini Jepang sedang gencar-gencarnya untuk mempromosikan teknologi yang dimilikinya ke luar negeri. Walaupun Jepang gagal bersaing dengan Tiongkok dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, hal tersebut tidak membuat perusahaan-perusahaan Jepang untuk berhenti mempromosikan keunggulan teknologinya.

Pemerintah Jepang, khususnya pemerintah daerah di tingkat prefektur (setingkat dengan provinsi di Indonesia) sangat gencar untuk membantu perusahaan-perusahaan yang ada di wilayahnya untuk melakukan promosi di luar negeri.

IMG_0052

Metode promosi yang dilakukan adalah dengan mengadakan acara yang biasanya disebut dengan business matching. Dalam acara tersebut, pemerintah prefektur di Jepang akan membawa beberapa perusahaan unggulan di daerahnya untuk dipertemukan dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Tujuan perusahaan Jepang yang ikut serta di dalamnya bermacam-macam, ada yang hanya ingin menjual produknya saja, ada juga yang ingin mencari mitra bisnis untuk membuat perusahaan patungan di Indonesia dan ada juga yang justru mencari perusahaan Indonesia sebagai pemasok mereka.

Business matching ini tentunya tidak akan berjalan lancar jika komunikasi antara perusahaan Jepang dan Indonesia tidak berjalan dengan lancar. Seorang penerjemah yang paham akan bisnis di Jepang dan Indonesia dapat menjembatani komunikasi tersebut agar kebutuhan dari kedua belah pihak dapat diketahui oleh masing-masing.

Bagi yang membutuhkan penerjemeh bahasa Jepang untuk negosiasi bisnis, silakan untuk menghubungi saya melalui email di: me@hanifcahyono.com