Interpreter

Berubah Mengikuti Perkembangan Zaman

Ada segmen Profil CEO dalam Harian Kompas edisi Senin, 18 Maret 2019 menampilkan Presiden Direktur Astra Grup Prijono Sugiarto yang bercerita mengenai perusahaan perlu adaptif, trengginas, dan inovatif agar mampu menghadapi tantangan. Beliau mencontohkan Astra yang tadinya memiliki porsi bisnis otomotif sebanyak 90% pada tahun 2001, kini menjadi sekitar 39%. Saya juga pernah mendengar langsung mengenai perubahan yang dilakukan oleh Fujifilm setelah bisnis film foto tidak lagi laku dengan semakin populernya kamera digital dan ponsel yang dapat digunakan juga untuk memoto.

Apa yang dilakukan oleh kedua contoh perusahaan tersebut adalah dalam rangka mempertahankan bisnis untuk tetap berjalan, sekalipun tantangan yang dihadapi dan kegiatan usaha yang dilakukan berbeda dengan pada saat awal berdirinya perusahaan.

Menurut saya, dunia penjurubahasaan Jepang-Indonesia pun mengalami berbagai macam tantangan dalam 10 tahun ini. Saya masih ingat sekitar tahun 2010, ketika itu banyak perusahaan manufaktur Jepang yang ekspansi ke Indonesia. Kawasan industri sepanjang jalan tol Cikampek pun menjadi semakin ramai. Permintaan juru bahasa Jepang untuk mendampingi survei lokasi pabrik, pengurusan izin, rekrutmen karyawan baru, dan hal-hal yang berhubungan dengan pendirian perusahaan sangat ramai.

Dua atau tiga tahun setelahnya, kali ini ramai dengan isu demo pekerja. Menjadi juru bahasa di antara dua pihak yang bertantangan menjadi pengalaman tersendiri karena di luar kemampuan berbahasa, kemampuan berkomunikasi, mengontrol emosi, dan menunjukkan sikap yang tidak berpihak adalah hal yang harus dimiliki dalam situasi tersebut.

Pada tahun 2014-2015, industri otomotif Indonesia menjadi lesu. Saya juga turut merasakan dampaknya karena mendapat cukup banyak pembatalan job juru bahasa dari pabrik-pabrik Jepang karena alasan efisiensi biaya.

Namun, di saat yang bersamaan, industri pariwisata justru sangat menggeliat. Apalagi Tokyo telah ditetapkan sebagai tuan rumah Olimpiade 2020 sehingga Jepang sangat giat untuk menarik wisatawan asing datang ke Jepang. Salah satu bentuk keseriusan tersebut adalah dengan mengajak 1.000 pelaku usaha industri Jepang ke Indonesia dalam rangka melakukan promosi wisata Jepang (https://www.id.emb-japan.go.jp/news15_46.html). Konon, kegiatan tersebut menjadi ‘panen raya’ bagi para juru bahasa Jepang karena permintaannya yang banyak. Bahkan karena kehabisan ‘stok’ juru bahasa Jepang-Indonesia, siapa pun yang bisa bahasa Jepang diajak untuk terlibat dalam rangkaian acara tersebut.

Dalam 2-3 tahun terakhir ini, permintaan juru bahasa yang berhubungan dengan bisnis dan pemerintah semakin meningkat. Hal ini konon dipacu oleh berkurangnya investasi langsung, tetapi semakin meningkatnya kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan peningkatan kemampuan SDM dan kerja sama teknis.

Bercermin dari Astra dan Fujifilm seperti pada contoh di atas, menurut saya seorang juru bahasa, khususnya juru bahasa lepas, pun harus bisa berubah mengikuti zaman. Jika dulu cukup hanya memiliki pengetahuan mengenai gemba, kini akan lebih baik jika memiliki pengetahuan juga mengenai manajemen perusahaan, khususnya bidang legal dan akuntansi. Pengetahuan mengenai kebijakan pemerintah, baik Indonesia dan Jepang juga sebaiknya dimiliki agar dapat membaca tren perubahan atau tantangan yang akan terjadi di masa yang akan datang.

Bagaimana pun juga, pada akhirnya menjadi juru bahasa lepas sama dengan melakukan usaha. Sebuah usaha yang dilakukan secara profesional oleh individu seperti halnya pengacara atau dokter praktik. Agar usahanya dapat berjalan dengan lancar, tentunya perlu membuat strategi. Salah satunya adalah dengan membaca peluang pasar dan menyiapkan pengetahuan yang diperlukan untuk menghadapinya.

Iklan
Uncategorized

Catatan Awal Tahun 2019

Tahun baru 2019 sudah memasuki hari ke-4. Tadinya saya hendak membuat catatan akhir tahun, tetapi ternyata waktu berlalu begitu cepat…

Tahun 2018 merupakan tahun peringatan ke-60 hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Begitu banyak rangkaian acara seremonial antara kedua negara pada tahun lalu. Saya pun cukup beruntung karena dapat mengikuti beberapa acara di antaranya yang membuat jadwal saya sebagai juru bahasa cukup padat.

Pada tahun lalu juga diselenggarakan Asian Games dan Asian Para Games di Jakarta dan Palembang. Saya sendiri tidak terlibat langsung selama kedua acara tersebut, tetapi saya berkesempatan untuk mengikuti pertemuan yang melibatkan Japan Sport Agency. Apalagi, Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade pada tahun 2020 nanti.

Sementara untuk penerjemahan, tahun lalu akhirnya saya mendapat lagi judul komik versi cetak yang baru. Bidang penerbitan memang menghadapi tantangan yang berat di tengah banyaknya bacaan-bacaan yang dapat dinikmati secara daring. Salah satu berita yang cukup mengejutkan di tahun lalu adalah berakhirnya Tabloid Bola yang terbit sejak tahun 1984. Saya pribadi juga cukup khawatir dengan keberlangsungan komik versi cetak karena penerjemahan komik daring yang saya kerjakan jauh lebih banyak. Untungnya masih ada pecinta komik setia yang rasanya tidak ‘puas’ kalau tidak mengoleksi komik. Selama ceritanya menarik, tampaknya komik versi cetak pun masih akan ada penggemarnya.

Proyek menarik lainnya adalah bekerja sama dengan agensi penerjemah Jepang yang kuat di bidang pertelevisian. Saya mendapat proyek ini berkat rekomendasi salah seorang Jepang yang dulu saya pernah bekerja sama dengannya sebagai juru bahasa. Tema proyeknya adalah memperkenalkan tentang Jepang. Tema yang menurut saya menarik karena membuat saya dapat mengenal Jepang semakin dalam lagi.

Tahun lalu pun saya masih berkesempatan untuk menjadi pembicara di salah satu kampus yang berada di Bekasi. Namun, berbeda dari biasanya yang mengangkat tema seputar penerjemah atau juru bahasa, kali ini saya diminta untuk membicarakan peluang kerja bagi lulusan sastra Jepang. Menurut saya tema ini sangat menarik karena masih banyak yang beranggapan bahwa pilihan karir lulusan sastra Jepang terbatas menjadi penerjemah saja.

Padahal, peluangnya ada macam-macam, apalagi jika memiliki kemampuan selain mampu berbahasa Jepang. Ditambah lagi Jepang juga ke depannya akan semakin terbuka dalam menerima tenaga kerja asing. Salah satu persyaratannya memang harus menguasai bahasa Jepang agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Jika para lulusan sastra Jepang memperkaya kemampuan dirinya dengan bidang yang dibutuhkan oleh Jepang, mereka akan unggul karena seharusnya memiliki kemampuan bahasa Jepang yang lebih baik dibandingkan dengan yang baru belajar bahasa Jepang.

Selain hal-hal yang sudah rutin setiap tahunnya, pada tahun 2018 saya mendapatkan dua pengalaman baru, yaitu menjadi pengajar dan pembawa acara alias MC. Tawaran mengajar pertama datang dari salah satu agensi penerjemahan yang sudah lama bekerja sama dengan saya. Mereka ingin memupuk bibit penerjemah baru untuk persiapan seandainya proyek penerjemahan semakin banyak.

Sejujurnya, saya belum pernah mengajar mengenai penerjemahan secara rutin, kecuali untuk satu kali pertemuan saja sebagai pembicara. Oleh karena itu, awalnya saya sempat ragu untuk menerima tawaran mengajar ini. Sambil membongkar catatan ketika masih kuliah S2, saya pun mulai mencoba menyusun rencana pengajarannya sambil di bantu oleh staf dari agensi tersebut. Hasilnya mungkin belum bisa dikatakan sempurna, tetapi setidaknya para peserta memahami dasar-dasar dari penerjemahan dan menjadi terbuka wawasannya mengenai dunia penerjemahan.

Hal itu juga yang turut membantu saya untuk berani menerima tawaran untuk mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Tawaran ini datang dari salah seorang rekan juru bahasa yang juga merupakan Ketua Prodi Bahasa Jepang di kampus tersebut. Saya pribadi sangat berharap agar akan ada semakin banyak penerjemah bahasa Jepang yang berkualitas di Indonesia. Semoga yang saya lakukan ini juga dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut.

Seperti yang sudah ditulis di atas, pengalaman baru saya lainnya di tahun 2018 adalah menjadi MC. Tawaran ini sebenarnya tidak pernah ada dalam bayangan saya. Awalnya saya hanya bekerja sama dengan sebuah EO (event organizer) sebagai juru bahasa. EO tersebut juga sebenarnya pernah bertanya kepada saya apakah saya tertarik untuk menjadi MC. Oleh karena dunia yang menurut saya sangat berbeda, ketika itu saya hanya berkata akan memikirnnya sambil terus menjadi juru bahasa untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh EO tersebut.

Hingga suatu ketika dalam suatu acara di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, ada EO lain yang memberikan tawaran untuk menjadi MC setelah melihat saya dalam acara tersebut. Saya pun akhirnya menerima tawaran dari mereka karena mereka meyakinkan saya untuk membantu saya agar dapat menjadi MC yang baik dan pada kenyataannya pun memang demikian. Dukungan dari tim yang luar biasa membuat saya dapat terus belajar untuk menjadi MC yang lebih baik lagi. Hal ini pun tidak terlepas dari kemampuan bahasa Jepang yang saya miliki karena klien dari EO tersebut umumnya adalah perusahaan atau organisasi pemerintah Jepang. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih 1 orang MC yang mampu berbicara dalam bahasa Jepang dan Indonesia sekaligus, alih-alih menyediakan 2 orang MC.

Nah, apa yang kira-kira akan terjadi di tahun 2019 ini? Yang pasti, tahun ini merupakan peringatan 30 tahun kota persahabatan antara Jakarta dan Tokyo. Selain itu, menjelang Olimpiade dan Paralimpiade tahun depan di Tokyo, kemungkinan besar masih akan ada banyak acara promosi di bidang pariwisata. Tidak tertutup kemungkinan juga akan ada kegiatan rekrutmen seiring dengan semakin terbukanya Jepang terhadap tenaga kerja asing seperti yang sempat disinggung juga oleh Kaisar Jepang dalam pidato awal tahunnya.

Semoga hubungan Jepang dan Indonesia dapat menjadi semakin erat dan harmonis. Kemudian, semoga semakin banyak penerjemah dan juru bahasa Jepang yang akan menjembatani komunikasi kedua negara. (^^)v

Interpreter

Juru Bahasa Bukanlah Kamus Berjalan

Istilah khusus atau senmon yogo sering kali menjadi momok bagi juru bahasa pemula. Banyak yang merasa takut untuk memasuki bidang baru karena tidak tahu istilah-istilah khusus yang biasa digunakan dalam bidang tersebut. Dalam beberapa forum di media sosial pun tidak sedikit yang meminta untuk berbagi daftar istilah khusus bagi yang memilikinya. Namun, apakah jika seorang juru bahasa memiliki daftar istilah khusu tersebut, penjurubahasaannya akan menjadi lebih baik?

Mungkin jawabannya tidak serta merta dapat dikatakan lebih baik. Memiliki daftar istilah khusus memang membantu untuk mengenai padanan kata dalam bahasa sasaran, tetapi yang sering dilupakan adalah bagaimana cara menyampaikannya dalam bahasa sasaran. Sering kali juru bahasa ‘terjebak’ dengan daftar istilah yang dimilikinya sehingga menjadi tidak fleksibel dalam penyampaiannya.

Hal yang paling penting dalam penjurubahasaan adalah menyampaikan pesan dalam bahasa sumber ke bahasa sasaran. Pesan di sini dapat bersifat eksplisit maupun implisit. Mungkin tidak akan ada masalah jika pembucara menyampaikan dalam kata-kata yang eksplisit, tetapi bagaimana jika penyampaiannya dilakukan secara implisit? Apakah mungkin seorang juru bahasa hanya ‘mengganti’-nya dalam bahasa sasaran tanpa memeduli pesan yang hendak disampaikannya?

Jawabannya tentu saja tidak. Sangat penting bagi juru bahasa untuk memahami lebih dalam dari kata-kata maupun kalimat-kalimat yang disampaikan dalam konteks tertentu. Pemahaman tersebut justru lebih penting dari sekadar menghafalkan istilah-istilah khusus. Dengan begitu, juru bahasa akan lebih fleksibel dalam menyampaikan pesan tanpa ‘terkekang’ oleh struktur bahasa maupun nuansa dalam bahasa sumber.

Bahasa Jepang adalah bahasa yang, menurut saya, dapat membuat pendengarnya mudah salah paham. Mulai dari pelafalan kata yang sama, tetapi berbeda huruf kanji sehingga maknanya berbeda, kalimat yang kadang tidak memiliki subjek atau verba, hingga onomatope yang spesifik. Kemudian, tantangannya adalah bagaimana menyampaikan hal-hal tersebut ke dalam bahasa Indonesia yang kosa katanya tidak sekaya bahasa Jepang. Inilah yang membuat juru bahasa tidak bisa mengandalkan daftar istilah saja karena juru bahasa bukanlah kamus berjalan.

Saat ini memang belum ada pelatihan penerjemahan khusus untuk pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Memupuk pengalaman dengan menambah jam terbang menjadi jalan terbaik untuk memperbaiki diri. Akan lebih baik juga jika bertanya kepada user tentang penjurubahasaan yang kita lakukan. Biasanya, user cukup terbuka untuk memberikan masukan karena mereka memang membutuhkan juru bahasa yang mampu menyampaikan pesan dengan baik.

Belajar Bahasa Jepang

Banyak Jalan Menuju JLPT N1

Beberapa waktu yang lalu, untuk pertama kalinya saya menonton serial anime One Punch Man. Sudah lama saya mendengar tentang anime yang satu ini, tetapi tidak sampai tertarik untuk mencarinya sendiri. Hingga akhirnya ditayangkan pada salah satu saluran televisi berbayar, barulah saya menonton serial tersebut.

One Punch Man bercerita tentang tokoh bernama Saitama yang hobinya adalah menjadi hero (pahlawan). Saitama adalah tokoh yang sangat kuat dan hanya membutuhkan sekali pukulan (one punch) untuk mengalahkan musuhnya. Saking kuatnya, bahkan seorang (atau sebuah?) manusia robot pun ingin berguru kepadanya.

Dalam  salah satu episode, Saitama ditanya mengenai rahasia kekuatannya. Bagaimana caranya agar bisa sekuat itu? Saitama pun menjawab bahwa rahasianya adalah setiap har melakukan push up 100 kali, sit up 100 kali, squat 100 kali, berlari 10 km, dan tidak menggunakan AC. Jawaban yang sungguh sederhana, sehingga yang bertanya merasa itu bukan jawaban yang sesungguhnya dan merasa masih ada yang dirahasiakan oleh Saitama.

Saya jadi ingat pernah ada beberapa orang yang bertanya kepada saya tentang bagaimana caranya untuk bisa lulus JLPT N1, apa buku yang saya gunakan, berapa lama waktu belajarnya, siapa yang mengajari, dan sebagainya. Saya pun menjawab sesuai dengan apa yang saya lakukan, yaitu menonton acara televisi Jepang, membaca komik Jepang, dan bermain game dalam bahasa Jepang. Setiap kali saya menjawab seperti itu, setiap kali juga orang tidak percaya dan merasa saya merahasiakan metode belajar saya (padahal memang itu yang saya lakukan…).

Saya sendiri secara pribadi merasa bahwa bahasa adalah suatu alat komunikasi yang harus digunakan. Sehingga menurut saya, cara yang paling efektif untuk menguasainya adalah dengan menggunakannya: berbicara, mendengar, dan membaca.

Sekalipun ketika masih kecil tinggal di Jepang, kemampuan bahasa Jepang saya ketika kuliah hanyalah setara dengan kelas 2 SD. Huruf kanji yang saya ingat hanya sedikit, kosakata yang saya ketahui juga hanya sedikit. Menulis? Saya hanya mampu menulis hiragana dan katakana saja.

Hal yang saya lakukan pertama kali untuk belajar bahasa Jepang adalah menulis kanji. Kebetulan ayah saya masih menyimpan buku kamus kanji yang disertai dengan cara baca dan terjemahannya dalam bahasa Inggirs. Setiap hari saya menyalin 10 kanji dalam buku kotak-kotak. Setiap huruf kanjinya saya salin dalam satu halaman buku kotak-kotak tersebut. Kemudian saya mulai mencoba membaca huruf yang pernah saya salin tersebut di setiap kesempatan, seperti ketika sedang berbelanja, pergi dan pulang kampus, jalan-jalan, dan menonton televisi.

Saya pun akhirnya menyadari bahwa acara televisi Jepang sering menampilkan subtitle dari yang diucapkan oleh pembicara. Sejak saat itu saya mulai rajin menonton acara televisi untuk memperbanyak kanji dan kosakata. Pada awal-awal menonton, saya selalu siap dengan kamus agar memahami topik apa yang sedang dibicarakan.

Ternyata cara ini sangat nyaman bagi saya. Saya berhasil lulus JLPT Level 2 (masih sistem lama yang terdiri dari 4 level) pada tahun pertama saya kuliah (2002) dan tahun berikutnya saya lulus JLPT Level 1 pada keikutsertaan yang pertama. Setelah JLPT berubah menjadi 5 level pun, saya langsung lulus N1 pada keikutsertaan yang pertama.

Seperti yang Saitama lakukan, menurut saya hal yang terpenting adalah konsistensi dalam berinteraksi dengan bahasa Jepang. Sebagai penerjemah, tentu saya selalu berhubungan dengan bahasa Jepang. Namun di luar itu pun, saya masih membaca berita bahasa Jepang dari page Facebook yang saya ikuti, menonton dorama di saluran TV berbayar, dan membaca komik bahasa Jepang.

Bagaimana jika tidak suka menonton atau membaca? Menurut saya, tidak suka menonton tidak menjadi masalah. Namun tidak suka membaca adalah masalah. Bagaimana mungkin dapat mengingat kanji yang lebih dari 2000 huruf dengan kombinasi cara baca yang berbeda-beda tanpa pernah menggunakannya?

Seribu jalan menuju ke Roma. Seribu cara juga untuk belajar. Tips yang dapat saya bagikan adalah:

  1. Temukan sesuatu yang disukai sebagai media untuk berinteraksi dengan bahasa Jepang (contoh: komik, buku, televisi, internet, dsb.)
  2. Konsisten untuk berinteraksi (setiap hari)
  3. Setelah terbiasa berinteraksi secara pasif, mulailah berinteraksi secara aktif (berbicara atau menulis)

Semoga dapat menemukan jalannya sendiri untuk mencapai JLPT N1 (^^)

Interpreter, Uncategorized

(Jangan) Menilai Buku dari Sampulnya

Alkisah Abu Nawas diundang oleh raja untuk makan di istana. Abu Nawas pun berangkat memenuhi undangan tersebut dengan mengenakan pakaian sekadarnya. Sesampainya di istana, penjaga gerbang menahannya dan menanyakan keperluannya.

“Saya datang diundang oleh raja”, jawab Abu Nawas.

“Maaf, tolong kenakan pakaian yang lebih pantas jika hendak masuk ke dalam istana”, pinta sang penjaga.

Abu Nawas pun kembali ke rumahnya dan berganti pakaian. Kali ini dia mengenakan pakaian paling bagus yang dimilikinya. Penjaga yang melihat Abu Nawas telah berganti pakaian pun puas dan mengizinkannya untuk masuk ke dalam istana.

Abu Nawas kemudian masuk ke ruang jamuan dan menunggu makanan dihidangkan. Setelah itu, dia mengambil piring yang berisi makanan tersebut dan menumpahkannya pada bajunya. Raja dan para tamu lain terkejut melihat perbuatannya.

“Apa yang kau lakukan, Abu Nawas?”, tanya sang raja.

“Aku memberi makanan pada pakaianku, wahai raja”, jawab Abu Nawas.

“Kenapa kau melakukan hal itu?”

“Karena aku diizinkan masuk ke sini setelah berganti pakaian. Itu artinya, pakaianku lah yang diundang, bukan diriku”.

 

————————————-

Berbeda dengan penerjemah simultan yang bekerja di dalam bilik, penerjemah konsekutif umumnya bekerja berdampingan dengan pembicaranya. Sehingga, mata para pendengar akan tertuju kepada sang penerjemah ketika dia berbicara.

Para klien atau user pun memiliki harapan agar rupa penerjemah sesuai dengan harapan mereka. Tidak jarang diantara mereka yang sejak awal telah memberitahukan persyaratan fisik yang mereka cari. Dalam beberapa forum seperti grup Facebook atau Whatsapp, ada rekan-rekan penerjemah yang mengeluhkan persyaratan seperti ini.

“Penerjemah, ‘kan, yang penting kemampuannya. Memangnya fisik berpengaruh pada kemampuan penerjemah?”

Itu adalah tanggapan paling umum ketika melihat lowongan penerjemah yang mencantumkan persyaratan fisik harus menarik.

Dulu pun saya berpikir seperti itu, hingga ada kejadian yang membuat saya berpikir ulang mengenai makna ‘fisik’ tersebut. Ketika itu saya sedang dikontrak oleh sebuah pabrik selama beberapa bulan dalam rangka persiapan ISO. Pakaian yang dikenakan di sana adalah seragam kerja. Setiap pagi para karyawannya datang dengan pakaian bebas, kemudian menukarnya dengan seragam kerja di ruang loker.

Awalnya saya datang dengan T-shirt yang apa adanya dan juga memakai sepatu kets biasa. Suatu saat salah seorang staf berkata kepada saya, “Saya perhatikan Pak Hanif selalu memakai T-shirt biasa setiap datang ke sini. Sayang, lho, pak. Saya tidak tahu berapa honor bapak, sih, tapi saya yakin honornya besar. Seharusnya bapak pakai pakaian yang lebih rapi, supaya kelihatannya pantas”.

Saya terkejut juga dengan ucapannya. Saya perhatikan staf tersebut memang selalu berpakaian rapi ketika datang. Dia selalu mengenakan kemeja, celana kain, dan sepatu pantofel, walaupun nantinya semua itu akan diganti dengan seragam kerja dan sepatu kerja yang seragam juga.

Mendengar ucapannya tersebut, saya jadi teringat dengan cerita Abu Nawas di atas dan artikel mengenai kesan pertama. Dalam artikel yang saya baca tersebut mengatakan bahwa pakaian merupakan salah satu yang orang perhatikan ketika bertemu untuk pertama kalinya. Rasanya seperti tidak adil jika orang dinilai melalui pakaiannya, tetapi kenyataannya orang menilai penampilan seseorang baik sengaja maupun tidak.

Semenjak kejadian itu, saya selalu memikirkan pakaian apa yang akan saya kenakan dalam pekerjaan-pekerjaan saya. Contohnya, ketika menjadi penerjemah untuk konferensi pers di hotel, saya lebih memilih batik karena audiensnya lebih banyak orang Indonesia. Untuk acara jamuan yang diselenggarakan oleh perusahaan Jepang dengan tamu yang lebih banyak berasal dari Jepang langsung, saya memilih setelan jas.

file_000
Sebagai penerjemah dalam gala dinner bersama pembeli apartemen Branz Simatupang

Dengan mengenakan pakaian yang tepat dan tidak salah kostum, hal itu ternyata membuat klien atau user saya percaya dan yakin bahwa saya akan menerjemahkan dengan benar, walaupun saya belum bekerja (baca: menerjemahkan). Lawan bicara atau audiens dari klien/user saya pun demikian. Tentunya ini juga meningkatkan kepercayaan diri saya.

Bagi klien/user, penerjemah mewakili diri mereka. Khususnya ketika dalam acara promosi atau negosiasi, lawan bicara atau audiens tidak melihat penerjemah sebagai seorang individu yang independen, melainkan sebagai satu kesatuan dari penyelenggara acara atau perusahaan yang diwakilinya. Hal ini lah yang membuat sebagian klien/user memikirkan penampilan fisik dari sang penerjemah.

Penampilan fisik yang menarik bukan berarti harus rupawan, melainkan berpenampilan yang sesuai dengan situasinya. Jangan lupa juga untuk tersenyum. Konon senyum membuat orang jauh lebih menarik daripada tidak berekspresi ketika berbicara.

Sebenarnya saya ingin seperti Mark Zuckerberg yang tidak pernah pusing untuk memilih baju apa yang dikenakannya setiap hari. Namun tidak ada salahnya juga untuk berpakaian dengan rapi sesuai situasinya.

Klien senang, saya pun menjadi percaya diri ^^

Penerjemahan

Omotenashi: Keramahan Ala Jepang

Sebuah percakapan dalam suatu acara:

“Kenapa orang Jepang-nya pakai penerjemah? Padahal dia cukup fasih bahasa Inggris-nya.”

“Mungkin dia takut tamunya yang tidak bisa bahasa Inggris.”

“Ah, itu tidak mungkin. Tamunya, ‘kan, berpendidikan tinggi semua.”

Saya pernah mengalami percakapan sejenis beberapa kali. Seperti yang pernah saya gambarkan dalam komik 4 panel, ada kalanya salah satu pihak tidak dapat menangkap dengan baik bahasa Inggris pihak lain. Sehingga, keberadaan penerjemah dapat membantu agar penyampaian pesan menjadi jelas.

Satu hal lagi, menurut saya ini merupakan salah satu bentuk dari omotenashi orang Jepang. Omotenashi adalah cara dalam melayani tamu dengan tujuan membuat nyaman sang tamu. Kata omotenashi sendiri sudah ada sejak lama, tetapi kata ini menjadi sangat populer di Jepang karena presentasi Christel Takigawa di International Olympic Committee dalam rangka penentuan tuan rumah Olimpiade tahun 2020. Cara penyampaiannya yang unik ketika mengucapkan omotenashi, membuat kata ini menjadi kata populer di Jepang pada tahun 2013.

Dengan terpilihnya Tokyo sebagai tuan rumah Olimpiade tahun 2020, Jepang mulai berbenah untuk menyambut pada tamu yang akan datang ke negerinya. Hal ini mengingatkan saya ketika penyelenggaraan Piala Dunia tahun 2002. Ketika itu stasiun-stasiun besar yang ada di Jepang mulai dipasangi nama-nama stasiun dalam huruf latin. Selain itu, mereka juga menyiapkan peta area di sekitar stasiun dalam bahasa Inggris.

Belajar dari pengalaman penyelenggaraan Piala Dunia 2002, Jepang merasa mereka perlu meningkatkan lagi pelayanannya menjelang Olimpiade Tokyo 2020, khususnya karena adanya perbedaan budaya. Salah satu upayanya adalah dengan gencar memperkenalkan budaya mereka ke dunia agar orang asing tidak terlalu ‘kaget’ ketika datang Jepang.

Di dalam negeri pun mereka mulai berbenah dengan menempatkan orang-orang yang dapat berbahasa asing di tempat-tempat keramaian. Situs-situs wisata pun mulai tersedia tidak hanya dalam bahasa Inggris saja. Tokyo Disney Resort yang mengelola Tokyo Disneyland dan Tokyo DisneySea bahkan menyediakan situsnya dalam bahasa Indonesia.

Penerjemahan adalah menyampaikan pesan dari suatu bahasa ke dalam bahasa lain. Dalam kasus bahasa Jepang, omotenashi merupakan pesan yang tersirat. Seorang penerjemah bahasa Jepang tentunya harus dapat menangkap pesan tersebut agar keramahan yang dimaksud oleh orang Jepang juga dapat tersampaikan dengan baik.

 

Aplikasi

Menjelajahi Tempat Baru dan Menerjang Kemacetan

Pekerjaan sebagai interpreter lepas membuat saya mendatangi berbagai macam tempat. Ada tempat-tempat yang sudah saya ketahui sebelumnya, ada juga tempat-tempat yang benar-benar baru saya datangi untuk pertama kalinya. Tidak hanya di Jabodetabek saja, pernah juga saya diminta untuk bertemu di Cilegon atau Bandung. Biasanya klien lah yang menentukan ke mana tempat tujuan saya. 

Tentu saja saya tidak selalu mengetahui tempat-tempat yang dimaksud. Klien yang berasal dari Indonesia biasanya akan menjelaskan secara rinci cara untuk mencapai tujuan tersebut. Namun tidak demikian halnya dengan klien dari Jepang. Tidak jarang klien saya adalah orang yang baru pertama kali datang ke Indonesia, sehingga tidak bisa menjelaskan secara rinci bagaimana cara untuk mencapai tempat tujuan yang dimaksud.

Syukurlah saat ini sudah masuk dalam zaman internet. Keberadaan aplikasi Google Maps menjadi penolong dalam memberitahu tempat-tempat yang harus saya tuju. Fitur Street View-nya juga sangat membantu dalam memberikan patokan atau ciri-ciri mengenai tempat tersebut.


Untuk navigasi sendiri saya sering menggunakan aplikasi Waze. Aplikasi milik Google ini juga mampu memberikan informasi lalu lintas karena sifatnya yang crowdsource. Waktu tempuh yang diperkirakan pun cukup akurat, tetapi dengan catatan lalu lintasnya benar-benar bergerak walaupun kurang dari 10 km/jam. Apabila kondisinya macet total alias sama sekali tidak bergerak, barulah perkiraan waktu tempuhnya menjadi tidak bisa diandalkan. Untungnya aplikasi ini dapat menyarankan beberapa rute, sehingga selalu ada pilihan dalam mencapai tempat tujuan.

Banyak yang berpikir bahwa aplikasi ini memakan banyak data. Sebenarnya tidak. Aplikasi ini sebenarnya lebih banyak memakan daya baterai 😭. Namun untungnya karena digunakan dalam mobil, biasanya saya gunakan sambil dicolok ke pengisi daya dari pemantik api. Selain itu juga biasa saya matikan layarnya dan hanya mendengarkan instruksinya saja apabila berada di jalan tol atau jalan yang sudah saya kenal.

Bahasa yang digunakan untuk navigasi juga ada bermacam-macam. Salah satunya adalah bahasa Jepang. Saya sering menyarankan klien saya yang orang Jepang untuk mengunduh aplikasi ini agar mereka juga dapat memperkirakan waktu yang diperlukan untuk mencapai tempat tujuan.

Mari kita bersama-sama menerjang kemacetan (^^)v

Interpreter

Menambah Populasi Penerjemah Jepang

Beberapa waktu yang lalu saya mendengar cerita bahwa ada sebuah lembaga pemerintah Jepang yang mencari penerjemah (interpreter) Inggris-Indonesia. Ketika pertama kali mendengarnya, saya pikir karena orang asingnya bukan orang Jepang. Namun ternyata yang mengejutkan adalah ternyata justru orang asingnya adalah orang Jepang!

Saya jadi teringat dengan seminar mengenai Jepang yang diselenggarakan di salah satu perguruan tinggi di Indonesia. Salah satu pembicaranya ketika itu membahas mengenai perbandingan pembelajar bahasa Jepang di negara-negara Asia Tenggara. Bagi saya, hasil penelitiannya cukup mengejutkan. Pembicara tersebut mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah pembelajar bahasa Jepang terbesar di Asia Tenggara. Indornsia bahkan merupakan negara dengan jumlah pembelajar bahasa Jepang terbesar ke-2 di dunia. Namun jumlah pemegang sertifikat JLPT N1-nya jauh di bawah Thailand dan Vietnam. 

Secara tidak langsung hasil penelitian tersebut berdampak pada cerita di awal. Sedikitnya pembelajar bahasa Jepang yang menguasai bahasa Jepang dengan baik tentunya mempengaruhi jumlah penerjemah bahasa Jepang-Indonesia. Walaupun JLPT bukan alat untuk mengukur kemampuan dalam melakukan penerjemahan, setidaknya hal itu dapat menunjukkan seberapa baik penguasaan bahasa Jepang-nya. Tanpa menguasai bahasa Jepang yang baik, sudah tentu akan sulit untuk menjadi penerjemah yang baik.

Secara pribadi saya senang karena saat ini sudah cukup banyak akses untuk dapat mendengar bahasa Jepang. Mulai dari sekadar salam di restoran Jepang sampai saluran khusus Jepang di televisi berbayar. Saya rasa hal ini dapat menambah “kepekaan” akan bahasa Jepang. Tiket pesawat ke Jepang yang semakin murah dan berlakunua bebas visa bagi pemegang e-paspor juga membuat orang Indonesia semakin mudah untuk mengunjungi Jepang.

Kembali ke masalah penerjemah bahasa Jepang. Saya pribadi tentunya ingin orang Jepang menggunakan penerjemah Jepang-Indonesia, bukan Inggris-Indonesia. Untuk itu perlu dimulai dari menambah populasinya terlebih dulu, khususnya populasi penerjemah freelance. Semakin banyaknya populasi dapat melahirkan persaingan sehingga dapat memunculkan keinginan untuk meningkatkan kemampuan dalam penerjemahan agar dapat terus bersaing.

Semoga ke depannya akan semakin banyak penerjemah bahasa Jepang-Indonesia yang berkualitas, agar “lahannya” tidak diambil oleh penerjemah bahasa asing lain.

Penerjemah

Menilai Kompetensi Penerjemah Bahasa Jepang

Idealnya sebuah profesi memiliki suatu pedoman kompetensi yang objektif agar orang awam dapat mengukur kemampuan yang bersangkutan. Hal yang sama juga berlaku bagi profesi penerjemah. Terlebih lagi pengguna jasa harus percaya bahwa kata-kata atau tulisannya akan disampaikan dengan benar oleh sang penerjemah.

Saat ini boleh dikatakan tidak ada suatu ujian untuk mengukur kompetensi penerjemah pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Dulu pernah ada Ujian Kompetensi Penerjemah (UKP).  Ujian ini terdiri dari ujian teks hukum dan teks umum. Peserta yang lulus ujian teks hukum dengan nilai tertentu (saya tidak tahu persis kriterianya) akan diberi surat keputusan sebagai penerjemah bersumpah. Sayangnya ujian ini sudah vakum cukup lama dan tidak diketahui kapan akan diselenggarakan kembali.

Lalu, bagaimana caranya untuk mengukur kompetensi seorang penerjemah bahasa Jepang? Cara yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mengukur kompetensi bahasa Jepang dan Indonesia sang penerjemah tersebut. Walaupun kemampuan berbahasa yang baik tidak berarti orang tersebut memiliki kemampuan menerjemahkan yang baik, setidaknya hal tersebut dapat dijadikan salah satu tolak ukur kemampuan penerjemah tersebut.

Kemampuan bahasa Indonesia dapat diukur melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara kemampuan bahasa Jepang dapat diukur dengan Japanese Languange Proficiency Test (JLPT).

Saya sendiri tentu menginginkan ada sebuah lembaga di Indonesia ataupun di luar negeri yang menyelenggarakan ujian kompetensi bagi penerjemah pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Selain untuk mengukur kemampuan diri sendiri, saya pun ingin agar pengguna jasa merasa yakin ketika mereka menggunakan jasa saya.

Saya berharap semoga UKP dapat diselenggarakan lagi dalam waktu dekat.

Penerjemahan

Berbicara dalam Bahasa yang (Tidak) Sama

Inti dari menerjemahan adalah menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Walaupun sepertinya mudah, perbedaan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran membuat penerjemah harus dapat menyampaikan pesan tersebut dalam bahasa yang dimengerti oleh sasaran.

Contoh kata yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam adalah kaizen. Istilah yang populer berkat Toyata ini sering diterjemahkan sebagai perbaikan dalam bahasa Indonesia atau improvement dalam bahasa Inggris. 

Apakah ada yang salah dalam penerjemahan tersebut? Jawabannya tidak. Tetapi kemungkinan besar nuansa yang ditangkap akan berbeda dengan pemahaman orang Jepang. Bagi yang pernah bekerja di pabrik tentunya akan sering mendengar kata ini, tetapi mungkin sering juga dimarahi ketika terjadi lagi masalah yang sama padahal kaizen telah dilakukan.

Penyebabnya adalah perbedaan pemahaman mengenai kaizen itu sendiri. Orang Jepang berpikir apabila telah dilakukan kaizen, maka masalah yang sama seharusnya tidak terjadi kembali. Sementara bagi kebanyakan orang Indonesia, kaizen yang diterjemahkan sebagai perbaikan adalah yang penting tidak bermasalah lagi pada saat tersebut dan jika terjadi masalah kembali, maka cukup diperbaiki kembali.

Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa “bahasa” yang dibicarakan sudah berbeda. Contoh lainnya dalam bahasa Indonesia: Konon, jika kita bertanya tentang jarak kepada orang Jawa dan ia mengatakan “dekat” yang disertai jempol sebagai penunjuk arah, maka itu artinya memang benar-benar dekat. Namun jika mengatakan “dekat” yang disertai dengan jari telunjuk sebagai penunjuk arah, maka sebenarnya jaraknya masih cukup jauh (mohon maaf jika contohnya salah).

Jika orang Jepang yang hanya mengerti bahasa Indonesia saja, kemungkinan besar dia akan menangkap bahwa kedua “dekat” tersebut memiliki makna yang sama. Kesalahpahaman akan makna yang sesungguhnya sering sekali terjadi pada orang Jepang yang baru bisa bahasa Indonesia. Sering kalanya hal-hal sederhana seperti inilah yang membuat komunikasi terhambat.

Say pribadi meyakini bahwa salah satu fungsi penerjemah adalah menjembatani perbedaan budaya tersebut. Saya pernah menjadi juru bahasa bagi orang Jepang yang menurut saya cukup fasih bahasa Indonesia-nya. Namun ia tetap menggunakan jasa saya sebagai juru bahasa pada saat meeting atau pertemuan penting karena ia mengatakan bahwa ia sering mengalami kesulitan memahami makna sesungguhnya yang disampaikan.

Dalam hal ini, juru bahasa khususnya juru bahasa konsekutif memiliki keuntungan dibandingkan penerjemah tulisan. Selain memiliki kesempatan untuk memberikan penjelasan tambahan, dapat berdiskusi terlebih dahulu mengenai tujuan yang hendak disampaikan membuat juru bahasa dapat menyiapkan strategi penerjemahan yang terbaik bagi sasarannya.

Bagaimana pun juga, pemahaman yang baik mengenai kebudayaan yang terkandung dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran akan membuat seorang penerjemah menjadi penyampai pesan yang efektif dan tepat sasaran. Kemudian yang paling penting adalah dapat berbicara dengan bahasa yang benar-benar sama (dimengerti) kepada sasarannya.