Arsip Tag: tips

(Jangan) Menilai Buku dari Sampulnya

Alkisah Abu Nawas diundang oleh raja untuk makan di istana. Abu Nawas pun berangkat memenuhi undangan tersebut dengan mengenakan pakaian sekadarnya. Sesampainya di istana, penjaga gerbang menahannya dan menanyakan keperluannya.

“Saya datang diundang oleh raja”, jawab Abu Nawas.

“Maaf, tolong kenakan pakaian yang lebih pantas jika hendak masuk ke dalam istana”, pinta sang penjaga.

Abu Nawas pun kembali ke rumahnya dan berganti pakaian. Kali ini dia mengenakan pakaian paling bagus yang dimilikinya. Penjaga yang melihat Abu Nawas telah berganti pakaian pun puas dan mengizinkannya untuk masuk ke dalam istana.

Abu Nawas kemudian masuk ke ruang jamuan dan menunggu makanan dihidangkan. Setelah itu, dia mengambil piring yang berisi makanan tersebut dan menumpahkannya pada bajunya. Raja dan para tamu lain terkejut melihat perbuatannya.

“Apa yang kau lakukan, Abu Nawas?”, tanya sang raja.

“Aku memberi makanan pada pakaianku, wahai raja”, jawab Abu Nawas.

“Kenapa kau melakukan hal itu?”

“Karena aku diizinkan masuk ke sini setelah berganti pakaian. Itu artinya, pakaianku lah yang diundang, bukan diriku”.

 

————————————-

Berbeda dengan penerjemah simultan yang bekerja di dalam bilik, penerjemah konsekutif umumnya bekerja berdampingan dengan pembicaranya. Sehingga, mata para pendengar akan tertuju kepada sang penerjemah ketika dia berbicara.

Para klien atau user pun memiliki harapan agar rupa penerjemah sesuai dengan harapan mereka. Tidak jarang diantara mereka yang sejak awal telah memberitahukan persyaratan fisik yang mereka cari. Dalam beberapa forum seperti grup Facebook atau Whatsapp, ada rekan-rekan penerjemah yang mengeluhkan persyaratan seperti ini.

“Penerjemah, ‘kan, yang penting kemampuannya. Memangnya fisik berpengaruh pada kemampuan penerjemah?”

Itu adalah tanggapan paling umum ketika melihat lowongan penerjemah yang mencantumkan persyaratan fisik harus menarik.

Dulu pun saya berpikir seperti itu, hingga ada kejadian yang membuat saya berpikir ulang mengenai makna ‘fisik’ tersebut. Ketika itu saya sedang dikontrak oleh sebuah pabrik selama beberapa bulan dalam rangka persiapan ISO. Pakaian yang dikenakan di sana adalah seragam kerja. Setiap pagi para karyawannya datang dengan pakaian bebas, kemudian menukarnya dengan seragam kerja di ruang loker.

Awalnya saya datang dengan T-shirt yang apa adanya dan juga memakai sepatu kets biasa. Suatu saat salah seorang staf berkata kepada saya, “Saya perhatikan Pak Hanif selalu memakai T-shirt biasa setiap datang ke sini. Sayang, lho, pak. Saya tidak tahu berapa honor bapak, sih, tapi saya yakin honornya besar. Seharusnya bapak pakai pakaian yang lebih rapi, supaya kelihatannya pantas”.

Saya terkejut juga dengan ucapannya. Saya perhatikan staf tersebut memang selalu berpakaian rapi ketika datang. Dia selalu mengenakan kemeja, celana kain, dan sepatu pantofel, walaupun nantinya semua itu akan diganti dengan seragam kerja dan sepatu kerja yang seragam juga.

Mendengar ucapannya tersebut, saya jadi teringat dengan cerita Abu Nawas di atas dan artikel mengenai kesan pertama. Dalam artikel yang saya baca tersebut mengatakan bahwa pakaian merupakan salah satu yang orang perhatikan ketika bertemu untuk pertama kalinya. Rasanya seperti tidak adil jika orang dinilai melalui pakaiannya, tetapi kenyataannya orang menilai penampilan seseorang baik sengaja maupun tidak.

Semenjak kejadian itu, saya selalu memikirkan pakaian apa yang akan saya kenakan dalam pekerjaan-pekerjaan saya. Contohnya, ketika menjadi penerjemah untuk konferensi pers di hotel, saya lebih memilih batik karena audiensnya lebih banyak orang Indonesia. Untuk acara jamuan yang diselenggarakan oleh perusahaan Jepang dengan tamu yang lebih banyak berasal dari Jepang langsung, saya memilih setelan jas.

file_000
Sebagai penerjemah dalam gala dinner bersama pembeli apartemen Branz Simatupang

Dengan mengenakan pakaian yang tepat dan tidak salah kostum, hal itu ternyata membuat klien atau user saya percaya dan yakin bahwa saya akan menerjemahkan dengan benar, walaupun saya belum bekerja (baca: menerjemahkan). Lawan bicara atau audiens dari klien/user saya pun demikian. Tentunya ini juga meningkatkan kepercayaan diri saya.

Bagi klien/user, penerjemah mewakili diri mereka. Khususnya ketika dalam acara promosi atau negosiasi, lawan bicara atau audiens tidak melihat penerjemah sebagai seorang individu yang independen, melainkan sebagai satu kesatuan dari penyelenggara acara atau perusahaan yang diwakilinya. Hal ini lah yang membuat sebagian klien/user memikirkan penampilan fisik dari sang penerjemah.

Penampilan fisik yang menarik bukan berarti harus rupawan, melainkan berpenampilan yang sesuai dengan situasinya. Jangan lupa juga untuk tersenyum. Konon senyum membuat orang jauh lebih menarik daripada tidak berekspresi ketika berbicara.

Sebenarnya saya ingin seperti Mark Zuckerberg yang tidak pernah pusing untuk memilih baju apa yang dikenakannya setiap hari. Namun tidak ada salahnya juga untuk berpakaian dengan rapi sesuai situasinya.

Klien senang, saya pun menjadi percaya diri ^^

Iklan

Membuat Paspor di Kantor Imigrasi Bogor

Dulu, ketika membuat paspor pada tahun 1990-an, membayangkan untuk mengurusnya saja sudah repot. Apalagi ketika itu saya masih di bawah umur, sepertinya ada saja hal-hal yang dipersulit dalam pembuatan paspor.

Namun persepsi tersebut sudah berubah sekarang. Dalam hal ini saya melihat kondisi Kantor Imigrasi Bogor yang menurut saya sudah sangat bagus. Terakhir kali saya memperpanjang paspor 5 tahun yang lalu (2008), ruangannya belum ber-AC. Kini, ruangannya sudah ber-AC. Antrian untuk mendaftar pun sudah tidak serobotan lagi karena sudah pakai sistem nomor panggil. Itu pun dibatasi hanya 150 orang/hari, sehingga ruang tunggu tidak terasa berjejalan. Bagi yang hendak membuat atau memperpanjang paspor di Kantor Imigarsi Bogor, berikut ini adalah persyaratan dan beberapa tips yang bisa saya berikan berdasarkan pengalaman saya pribadi.

Persyaratan

Persyaratan untuk membuat paspor adalah sebagai berikut (disadur dari brosur Informasi tentang Penerbitan Paspor RI):
1. Bukti Domisili (KTP + KK)
2. Bukti Identitas (Akte Kelahiran/Ijazah/Akte Nikah)
3. Surat Ganti Nama (bagi yang pernah mengganti nama sesuai ketentuan yang berlaku)
4. Surat rekomendasi dari kantor bagi pegawai (khusus TKI melampirkan surat rekomendasi dari Kementerian/Dinas Tenaga Kerja)
5. Paspor lama (bagi yang sebelumnya pernah memiliki paspor)

Persyaratan untuk anak di bawah umur (di bawah 17 tahun) ditambah dengan dokumen-dokumen berikut:
1. KTP kedua orangtua
2. Surat nikah orangtua
3. Fotokopi paspor orangtua yang masih berlaku
4. Surat keterangan dari sekolah (bagi yang sudah bersekolah mulai dari TK-SMA)

Seluruh berkas di atas dibawa aslinya dan di fotocopy dengan kertas ukuran A4. Hasil fotocopy jangan dipotong. Biarkan saja tetap berbentuk kertas A4. Jangan lupa untuk mengisi formulir permohonan yang dapat dilakukan secara fisik (kertas) atau pun online. Untuk pendaftaran online bisa dilakukan via situs Dirjen Imigarsi.

Setelah mengajukan permohonan di loket permohonan, petugas akan memberi tanda bukti untuk ambil foto, sidik jari dan wawancara sesuai dengan tanggal yang diberikan sekaligus membayar biaya pembuatannya. Biaya untuk tahun 2012 adalah Rp. 255.000. Pengalaman saya sendiri diminta untuk datang kembali setelah 3 hari kerja. Bagi pemohon online, tanggal untuk foto, sidik jari dan wawancara dapat ditentukan sendiri sesuai dengan waktu yang tersedia.

Setelah proses foto, sidik jari dan wawancara, petugas akan memberi kembali tanda bukti untuk pengambilan paspor. Paspor akan selesai dalam 4 hari kerja.

Tips

Berikut adalah beberapa tips untuk membuat paspor di Kantor Imigrasi Bogor.

1. Formulir permohonan
Formulir kertas bisa diambil di bagian informasi. Lokasinya berada di sebelah kanan setelah masuk dari pintu imigrasi. Formulirnya sendiri gratis, tetapi kita diwajibkan untuk membeli map dan sampul paspor seharga Rp. 15.000 (anggap saja dapat bonus sampul) di koperasi pegawai Imigrasi. Lokasi koperasi ini (lebih tepatnya tukang fotocopy) berada di sisi kiri di luar gedung kantor imigrasi. Sebaiknya formulir diambil terlebih dulu karena mengisinya cukup memakan waktu.

Jika tidak ingin repot datang ke kantor imigrasi, formulir permohonan juga bisa diisi via online di situs Dirjen Imigrasi. Untuk panduannya pengisiannya, dapat klik di sini.

2. Nomor Antrian
Jumlah pemohon di Kantor Imigrasi Bogor dibatasi hanya 150 orang/hari. Oleh karena itu, kita harus datang pagi-pagi agar bisa mendapat nomor antriannya. Saya sarankan datang pukul 7 pagi agar bisa mendapat nomor di bawah 30. Nomor antrian sendiri baru dibuka pukul 7.30. Ketika mengambil nomor antrian untuk foto juga sebaiknya pagi-pagi. Terutama jika hari untuk mengambil fotonya bersamaan dengan hari kerja terakhir di bulan Desember karena loket pembayaran hanya buka sampai jam 10.00.

3. Berkas-berkas
Pastikan untuk membawa semua berkas aslinya. Untuk fotocopy-nya, gunakan kertas A4 dan jangan dipotong. Bagi WNI keturunan, ada baiknya bawa juga dokumen orangtua mengenai keterangan kewarganegaraan. Bagi ibu rumah tangga, akan lebih baik jika membawa surat keterangan bekerja suami.

4. Surat rekomendasi
Bagi pegawai swasta, surat rekomendasi berisi keterangan mengenai nama dan jabatan yang bersangkutan dengan perihal berjudul rekomendasi untuk permohonan paspor.

5. Surat keterangan dari sekolah
Bagi anak di bawah umur dan sudah bersekolah, minta ke pihak sekolah untuk dibuatkan surat keterangan masih bersekolah. Surat ini tidak diperlukan bagi yang

Semoga penjelasan dan tips di atas berguna. Selamat membuat paspor ^^

Tips Mengikuti Tes Penerjemah Komik Jepang

Saya mau coba bagikan pengalaman saya ketika mengikuti tes untuk menjadi penerjemah komik Jepang.

Tes untuk menjadi penerjemah komik adalah menerjemahkan komik. Ya, ketika itu saya diberikan 20 lembar (1 lembar 2 halaman komik) naskah komik Jepang yang harus diterjemahkan. Dua puluh lembar tersebut terdiri dari 10 lembar komik shonen dan 10 lembar komik shojo. Tata cara tesnya:

1. Waktunya 4 jam
2. Diperbolehkan untuk menggunakan kamus
3. Menuliskan dalam Bahasa Indonesia dialog-dialog pada komik yang balon dialognya sudah diberi nomor

Karena yang diterjemahkan adalah komik, Bahasa Indonesia yang digunakan tidak boleh kaku, tetapi bukan berarti kaedah-kaedah dalam berbahasa Indonesia jadi dilupakan. Lalu, jangan mentang-mentang ‘hanya’ menerjemahkan komik, kita menganggap remeh kegiatan tersebut. Justru karena menerjemahkan komik, kita harus punya pengetahuan umum yang luas. Kenapa? Karena kita tidak tahu komik genre apa dan cerita apa yang ditawarkan. Pengalaman saya sendiri, ketika tes saya diberi komik tentang mobil. Penggalan naskah yang saya dapat sedang menceritakan bagian-bagian dari mesin mobil. Beberapa orang peserta tes wanita yang ikut tes bersama saya mengeluh karena dia sama sekali tidak mengerti dan di kamusnya tidak ada terjemahan untuk nama-nama suku cadang mobil.

Saya coba berikan beberapa tips bagi yang ingin mengikuti tes penerjemah komik:
1. Usahakan punya pengetahuan umum yang cukup luas. Genre cerita komik sangat bervariatif, tidak melulu fighting seperti Naruto atau One Piece.
2. Pakai kamus elektronik. Jika tidak punya, lebih baik bawa laptop sekalian. Kadang-kadang ada huruf yang kita tidak tahu cara bacanya, sebaiknya punya kamus yang bisa mencari tahu cara bacanya. Kamus elektronik yang bisa membaca stroke sangat membantu, tapi kalau tidak punya, bisa pakai fitur IME di komputer yang sudah terinstall Japanese Laguage Pack
3. Baca komik-komik terjemahan. Beberapa kata yang tidak baku seperti nggak atau kata kerja yang berakhiran -in diperbolehkan untuk dipakai. Usahakan untuk memperhatikan penggunaan kata-kata yang ada di komik-komik terjemahan.

Semoga tips diatas bisa membantu. Bagi yang ingin coba ikutan tes, bisa coba lihat disini. Saya tidak tahu apakah lowongannya masih terbuka atau tidak, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba, bukan?

Selamat mencoba! Gambatte kudasai!