Uncategorized

Catatan Awal Tahun 2019

Tahun baru 2019 sudah memasuki hari ke-4. Tadinya saya hendak membuat catatan akhir tahun, tetapi ternyata waktu berlalu begitu cepat…

Tahun 2018 merupakan tahun peringatan ke-60 hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Begitu banyak rangkaian acara seremonial antara kedua negara pada tahun lalu. Saya pun cukup beruntung karena dapat mengikuti beberapa acara di antaranya yang membuat jadwal saya sebagai juru bahasa cukup padat.

Pada tahun lalu juga diselenggarakan Asian Games dan Asian Para Games di Jakarta dan Palembang. Saya sendiri tidak terlibat langsung selama kedua acara tersebut, tetapi saya berkesempatan untuk mengikuti pertemuan yang melibatkan Japan Sport Agency. Apalagi, Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade pada tahun 2020 nanti.

Sementara untuk penerjemahan, tahun lalu akhirnya saya mendapat lagi judul komik versi cetak yang baru. Bidang penerbitan memang menghadapi tantangan yang berat di tengah banyaknya bacaan-bacaan yang dapat dinikmati secara daring. Salah satu berita yang cukup mengejutkan di tahun lalu adalah berakhirnya Tabloid Bola yang terbit sejak tahun 1984. Saya pribadi juga cukup khawatir dengan keberlangsungan komik versi cetak karena penerjemahan komik daring yang saya kerjakan jauh lebih banyak. Untungnya masih ada pecinta komik setia yang rasanya tidak ‘puas’ kalau tidak mengoleksi komik. Selama ceritanya menarik, tampaknya komik versi cetak pun masih akan ada penggemarnya.

Proyek menarik lainnya adalah bekerja sama dengan agensi penerjemah Jepang yang kuat di bidang pertelevisian. Saya mendapat proyek ini berkat rekomendasi salah seorang Jepang yang dulu saya pernah bekerja sama dengannya sebagai juru bahasa. Tema proyeknya adalah memperkenalkan tentang Jepang. Tema yang menurut saya menarik karena membuat saya dapat mengenal Jepang semakin dalam lagi.

Tahun lalu pun saya masih berkesempatan untuk menjadi pembicara di salah satu kampus yang berada di Bekasi. Namun, berbeda dari biasanya yang mengangkat tema seputar penerjemah atau juru bahasa, kali ini saya diminta untuk membicarakan peluang kerja bagi lulusan sastra Jepang. Menurut saya tema ini sangat menarik karena masih banyak yang beranggapan bahwa pilihan karir lulusan sastra Jepang terbatas menjadi penerjemah saja.

Padahal, peluangnya ada macam-macam, apalagi jika memiliki kemampuan selain mampu berbahasa Jepang. Ditambah lagi Jepang juga ke depannya akan semakin terbuka dalam menerima tenaga kerja asing. Salah satu persyaratannya memang harus menguasai bahasa Jepang agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Jika para lulusan sastra Jepang memperkaya kemampuan dirinya dengan bidang yang dibutuhkan oleh Jepang, mereka akan unggul karena seharusnya memiliki kemampuan bahasa Jepang yang lebih baik dibandingkan dengan yang baru belajar bahasa Jepang.

Selain hal-hal yang sudah rutin setiap tahunnya, pada tahun 2018 saya mendapatkan dua pengalaman baru, yaitu menjadi pengajar dan pembawa acara alias MC. Tawaran mengajar pertama datang dari salah satu agensi penerjemahan yang sudah lama bekerja sama dengan saya. Mereka ingin memupuk bibit penerjemah baru untuk persiapan seandainya proyek penerjemahan semakin banyak.

Sejujurnya, saya belum pernah mengajar mengenai penerjemahan secara rutin, kecuali untuk satu kali pertemuan saja sebagai pembicara. Oleh karena itu, awalnya saya sempat ragu untuk menerima tawaran mengajar ini. Sambil membongkar catatan ketika masih kuliah S2, saya pun mulai mencoba menyusun rencana pengajarannya sambil di bantu oleh staf dari agensi tersebut. Hasilnya mungkin belum bisa dikatakan sempurna, tetapi setidaknya para peserta memahami dasar-dasar dari penerjemahan dan menjadi terbuka wawasannya mengenai dunia penerjemahan.

Hal itu juga yang turut membantu saya untuk berani menerima tawaran untuk mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Tawaran ini datang dari salah seorang rekan juru bahasa yang juga merupakan Ketua Prodi Bahasa Jepang di kampus tersebut. Saya pribadi sangat berharap agar akan ada semakin banyak penerjemah bahasa Jepang yang berkualitas di Indonesia. Semoga yang saya lakukan ini juga dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut.

Seperti yang sudah ditulis di atas, pengalaman baru saya lainnya di tahun 2018 adalah menjadi MC. Tawaran ini sebenarnya tidak pernah ada dalam bayangan saya. Awalnya saya hanya bekerja sama dengan sebuah EO (event organizer) sebagai juru bahasa. EO tersebut juga sebenarnya pernah bertanya kepada saya apakah saya tertarik untuk menjadi MC. Oleh karena dunia yang menurut saya sangat berbeda, ketika itu saya hanya berkata akan memikirnnya sambil terus menjadi juru bahasa untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh EO tersebut.

Hingga suatu ketika dalam suatu acara di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, ada EO lain yang memberikan tawaran untuk menjadi MC setelah melihat saya dalam acara tersebut. Saya pun akhirnya menerima tawaran dari mereka karena mereka meyakinkan saya untuk membantu saya agar dapat menjadi MC yang baik dan pada kenyataannya pun memang demikian. Dukungan dari tim yang luar biasa membuat saya dapat terus belajar untuk menjadi MC yang lebih baik lagi. Hal ini pun tidak terlepas dari kemampuan bahasa Jepang yang saya miliki karena klien dari EO tersebut umumnya adalah perusahaan atau organisasi pemerintah Jepang. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih 1 orang MC yang mampu berbicara dalam bahasa Jepang dan Indonesia sekaligus, alih-alih menyediakan 2 orang MC.

Nah, apa yang kira-kira akan terjadi di tahun 2019 ini? Yang pasti, tahun ini merupakan peringatan 30 tahun kota persahabatan antara Jakarta dan Tokyo. Selain itu, menjelang Olimpiade dan Paralimpiade tahun depan di Tokyo, kemungkinan besar masih akan ada banyak acara promosi di bidang pariwisata. Tidak tertutup kemungkinan juga akan ada kegiatan rekrutmen seiring dengan semakin terbukanya Jepang terhadap tenaga kerja asing seperti yang sempat disinggung juga oleh Kaisar Jepang dalam pidato awal tahunnya.

Semoga hubungan Jepang dan Indonesia dapat menjadi semakin erat dan harmonis. Kemudian, semoga semakin banyak penerjemah dan juru bahasa Jepang yang akan menjembatani komunikasi kedua negara. (^^)v

Iklan
Interpreter, Uncategorized

(Jangan) Menilai Buku dari Sampulnya

Alkisah Abu Nawas diundang oleh raja untuk makan di istana. Abu Nawas pun berangkat memenuhi undangan tersebut dengan mengenakan pakaian sekadarnya. Sesampainya di istana, penjaga gerbang menahannya dan menanyakan keperluannya.

“Saya datang diundang oleh raja”, jawab Abu Nawas.

“Maaf, tolong kenakan pakaian yang lebih pantas jika hendak masuk ke dalam istana”, pinta sang penjaga.

Abu Nawas pun kembali ke rumahnya dan berganti pakaian. Kali ini dia mengenakan pakaian paling bagus yang dimilikinya. Penjaga yang melihat Abu Nawas telah berganti pakaian pun puas dan mengizinkannya untuk masuk ke dalam istana.

Abu Nawas kemudian masuk ke ruang jamuan dan menunggu makanan dihidangkan. Setelah itu, dia mengambil piring yang berisi makanan tersebut dan menumpahkannya pada bajunya. Raja dan para tamu lain terkejut melihat perbuatannya.

“Apa yang kau lakukan, Abu Nawas?”, tanya sang raja.

“Aku memberi makanan pada pakaianku, wahai raja”, jawab Abu Nawas.

“Kenapa kau melakukan hal itu?”

“Karena aku diizinkan masuk ke sini setelah berganti pakaian. Itu artinya, pakaianku lah yang diundang, bukan diriku”.

 

————————————-

Berbeda dengan penerjemah simultan yang bekerja di dalam bilik, penerjemah konsekutif umumnya bekerja berdampingan dengan pembicaranya. Sehingga, mata para pendengar akan tertuju kepada sang penerjemah ketika dia berbicara.

Para klien atau user pun memiliki harapan agar rupa penerjemah sesuai dengan harapan mereka. Tidak jarang diantara mereka yang sejak awal telah memberitahukan persyaratan fisik yang mereka cari. Dalam beberapa forum seperti grup Facebook atau Whatsapp, ada rekan-rekan penerjemah yang mengeluhkan persyaratan seperti ini.

“Penerjemah, ‘kan, yang penting kemampuannya. Memangnya fisik berpengaruh pada kemampuan penerjemah?”

Itu adalah tanggapan paling umum ketika melihat lowongan penerjemah yang mencantumkan persyaratan fisik harus menarik.

Dulu pun saya berpikir seperti itu, hingga ada kejadian yang membuat saya berpikir ulang mengenai makna ‘fisik’ tersebut. Ketika itu saya sedang dikontrak oleh sebuah pabrik selama beberapa bulan dalam rangka persiapan ISO. Pakaian yang dikenakan di sana adalah seragam kerja. Setiap pagi para karyawannya datang dengan pakaian bebas, kemudian menukarnya dengan seragam kerja di ruang loker.

Awalnya saya datang dengan T-shirt yang apa adanya dan juga memakai sepatu kets biasa. Suatu saat salah seorang staf berkata kepada saya, “Saya perhatikan Pak Hanif selalu memakai T-shirt biasa setiap datang ke sini. Sayang, lho, pak. Saya tidak tahu berapa honor bapak, sih, tapi saya yakin honornya besar. Seharusnya bapak pakai pakaian yang lebih rapi, supaya kelihatannya pantas”.

Saya terkejut juga dengan ucapannya. Saya perhatikan staf tersebut memang selalu berpakaian rapi ketika datang. Dia selalu mengenakan kemeja, celana kain, dan sepatu pantofel, walaupun nantinya semua itu akan diganti dengan seragam kerja dan sepatu kerja yang seragam juga.

Mendengar ucapannya tersebut, saya jadi teringat dengan cerita Abu Nawas di atas dan artikel mengenai kesan pertama. Dalam artikel yang saya baca tersebut mengatakan bahwa pakaian merupakan salah satu yang orang perhatikan ketika bertemu untuk pertama kalinya. Rasanya seperti tidak adil jika orang dinilai melalui pakaiannya, tetapi kenyataannya orang menilai penampilan seseorang baik sengaja maupun tidak.

Semenjak kejadian itu, saya selalu memikirkan pakaian apa yang akan saya kenakan dalam pekerjaan-pekerjaan saya. Contohnya, ketika menjadi penerjemah untuk konferensi pers di hotel, saya lebih memilih batik karena audiensnya lebih banyak orang Indonesia. Untuk acara jamuan yang diselenggarakan oleh perusahaan Jepang dengan tamu yang lebih banyak berasal dari Jepang langsung, saya memilih setelan jas.

file_000
Sebagai penerjemah dalam gala dinner bersama pembeli apartemen Branz Simatupang

Dengan mengenakan pakaian yang tepat dan tidak salah kostum, hal itu ternyata membuat klien atau user saya percaya dan yakin bahwa saya akan menerjemahkan dengan benar, walaupun saya belum bekerja (baca: menerjemahkan). Lawan bicara atau audiens dari klien/user saya pun demikian. Tentunya ini juga meningkatkan kepercayaan diri saya.

Bagi klien/user, penerjemah mewakili diri mereka. Khususnya ketika dalam acara promosi atau negosiasi, lawan bicara atau audiens tidak melihat penerjemah sebagai seorang individu yang independen, melainkan sebagai satu kesatuan dari penyelenggara acara atau perusahaan yang diwakilinya. Hal ini lah yang membuat sebagian klien/user memikirkan penampilan fisik dari sang penerjemah.

Penampilan fisik yang menarik bukan berarti harus rupawan, melainkan berpenampilan yang sesuai dengan situasinya. Jangan lupa juga untuk tersenyum. Konon senyum membuat orang jauh lebih menarik daripada tidak berekspresi ketika berbicara.

Sebenarnya saya ingin seperti Mark Zuckerberg yang tidak pernah pusing untuk memilih baju apa yang dikenakannya setiap hari. Namun tidak ada salahnya juga untuk berpakaian dengan rapi sesuai situasinya.

Klien senang, saya pun menjadi percaya diri ^^

Uncategorized

Komedi Rasa Jepang di Indonesia 

Saya sangat menyukai komedi Jepang. Konon ada yang mengatakan bahwa apabila kita mengerti lelucon dalam suatu bahasa, maka itu artinya kita telah menguasai bahasa tersebut. Saya sendiri banyak terbantu dengan acara-acara komedi Jepang untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jepang saya. Hampir setiap hari acara TV Jepang menyiarkan acara bagi komedian untuk menampilkan lelucon-leluconnya. 

Salah satu agensi pelawak yang terkenal di Jepang adalah Yoshimoto Kogyo. Banyak pelawak-pelawak terkenal di Jepang berada di bawah agensi tersebut. 

Ketika saya masih di Jepang, saya sempat menyaksikan acara TV tentang rencana ekspansi para pelawak Jepang untuk ke luar negeri. Negara sasaran pertama adalah Tiongkok. Mereka menerjemahkan semua materi lawakan mereka ke dalam bahasa Mandarin. Lawak adalah selera pribadi. Ada beberapa di antara mereka yang disukai dan tentu juga ada yang tidak disukai lawakannya.

Ekspansi ini ternyata terus berlanjut. Mereka memiliki program yang bernama Pelawak Tinggal di Asia. Dalam program tersebut, pelawak-pelawak yang bernaung di bawah Yoshimoto Kogyo akan “dikirim” ke negara-negara Asia untuk menampilkan lawakan mereka kepada penduduk setempat dengan bahasa setempat.

Salah satu negara tujuannya adalah Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, para pelawak tersebut tampil di salah satu pusat perbelanjaan di Bekasi. Mereka adalah Akira, Genki dan The Three. Masing-masing dari mereka memiliki gaya lawak yang berbeda-beda.

Akira banyak menggunakan pernak-pernik dalam melawak.

  
Genki lebih seperti stand up comedy.

  
Sedangkan The Three yang merupakan grup dari 3 orang lebih ke gaya sketsa tanpa dialog yang lebih universal.

  
Bagi saya, sungguh menarik melihat mereka tampil di hadapan penonton Indonesia, khususnya Genki karena dia benar-benar mengolah kata-kata yang sehari-hari digunakan oleh orang Indonesia seperti kepo, PHP dan kata-kata untuk menggombal di dalam lawakannya.

Menarik untuk melihat seperti apa mereka akan berkembang nantinya. Semoga mereka bisa memberikan warna lain bagi panggung komedi di Indonesia.

Uncategorized

Melihat Jepang Melalui Dorama

Pada 6 Juni 2015 yang lalu J Series Festival di adakan di Jakarta. Acara tersebut merupakan ajang untuk memperkenalkan drama TV Jepang di Indonesia. Jepang memang sedang berusaha untuk mengenalkan budayanya melalui drama TV, terlebih lagi beberapa tahun belakangan ini drama TV Korea lebih banyak di tayangkan di TV lokal Indonesia.

Saya sendiri suka menonton drama Jepang, apalagi setelah WakuWaku Japan mulai mengudara di TV berbayar. Namanya juga drama, tentu saja adegan-adegannya kadang dibuat berlebihan dan kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Walaupun begitu, secara pribadi saya merasa drama bisa menjadi “pintu masuk” ke dalam kebudayaan Jepang.

Terlepas dari adegan-adegan yang berlebihan, sebenarnya cukup banyak hal-hal umum mengenai Jepang yang dapat dilihat melalui drama. Contohnya adalah minum-minum setelah pulang kerja, festival sekolah, cara berbicara yang berbeda berdasarkan usia dan jenis kelamin, sopan santun dan sebagainya.

Tidak sedikit juga drama yang pada akhirnya memberikan pengaruh pada kehidupan nyata. Salah satu drama yang mempengaruhi kehidupan nyata adalah drama Hanzawa Naoki. Drama yang episode terakhirnya meraih rating lebih dari 40% ini telah mempengaruhi para pekerja Jepang sehingga mereka mulai berani menentang atasan yang sewenang-wenang. Suatu sikap yang tidak terbayangkan pada tahun 1980-an.

Seperti yang disampaikan oleh Yuki Furukawa, aktor yang menjadi bintang tamu di J Series Festival, salah satu daya tarik drama Jepang adalah variasi genrenya. Tidak melulu drama romantis, terdapat juga drama bertema “berat” seperti Hanzawa Naoki yang mengangkat tema ekonomi, selain juga yang umum seperti drama yang bergenre komedi dan keluarga.

Saat ini saya sedang mengikuti drama The Emperor’s Cook yang sedang ditayangkan di WakuWaku Japan setiap Sabtu pukul 20.00. Drama berlatar Jepang di awal tahun 1900-an ini diangkat berdasarkan kisah nyata seorang pemuda yang pada akhirnya menjadi koki Kaisar Jepang. Tahukah anda bahwa hidangan resmi di Istana Kaisar Jepang adalah masakan Prancis? Mungkin nantinya di dalam drama ini akan dijelaskan mengapa bukan masakan Jepang yang dipilih menjadi hidangan resmi istana.

Uncategorized

Demam Batu Akik, Baca Juga Komik Adamas!

Akhir-akhir ini Indonesia sedang dilanda demam batu akik. Saya mulai sering melihat para penjual dan pengasah batu di pinggir jalan. Pameran mengenai batu akik dan batu mulia pun semakin sering diadakan di berbagai kota di Indonesia.

Pada tahun 2012, saya mendapat kesempatan untuk menerjemahkan komik karya Ryoji Minagawa yang berjudul Adamas. Komik ini berceritakan tentang seorang jewerly master atau penguasa batu permata dalam memerangi organisasi jahat yang berusaha menguasai pasar batu permata di seluruh dunia.

DSC_1255

Komik ini pun menceritakan mengenai kekuatan-kekuatan yang dipercayai dimiliki oleh batu permata. Contohnya adalah berlian yang dipercaya sebagai batu yang tidak terkalahkan, alexandrite yang dipercaya dapat memanipulasi cahaya atau kristal yang dipercaya dapat menyembuhkan dan mencegah penuaan.

Bagi yang sedang demam batu akik dan batu mulia, tidak ada salahnya mengikuti kisah dalam komik ini untuk menambah wawasan mengenai seluk-beluk batu.

Uncategorized

Ber-Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

“Sebaiknya sudah punya JLPT (Japanese Languange Proficiency Test) level berapa untuk bisa menjadi penerjemah?”

Saya sering mendapat pertanyaan seperti itu dari orang-orang yang ingin menjadi penerjemah bahasa Jepang. Biasanya saya menjawab lebih baik minimal N2 agar kosa katanya sudah cukup banyak. Selain kemampuan bahasa Jepang, usahakan juga untuk belajar lagi Bahasa Indonesia.

Banyak calon penerjemah yang tidak sadar bahwa seorang penerjemah tidak cukup hanya menguasai bahasa asing saja, tetapi juga harus menguasai Bahasa Indonesia. Mengapa demikian? Ketika sedang menerjemahkan seorang penutur asing atau teks dengan bahasa asing, seorang penerjemah tidak cukup hanya memahami pesan dalam bahasa asing tetapi juga harus dapat menyampaikan kembali pesan tersebut dalam Bahasa Indonesia. Penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar diperlukan agar pendengar atau pembaca dapat menangkap dengan benar pesan yang hendak disampaikan.

Mungkin ada yang masih ingat pemberitaan mengenai nilai UN mata pelajaran Bahasa Indonesia yang rendah? Saya pun harus mengakui bahwa NEM (Nilai Ebtanas Murni) saya untuk mata pelajaran Bahasa Indoensia lebih rendah daripada nilai Bahasa Inggris.

Pada saat awal-awal menjadi penerjemah, saya tidak terlalu memikirkan mengenai penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Salah satunya disebabkan karena awalnya saya lebih sering menjadi seorang juru bahasa (interpreter). Tugas utamanya adalah lebih pada menyampaikan pesan dari bahasa Jepang ke dalam Bahasa Indonesia.

Namun setelah mulai banyak menerima pekerjaan penerjemahan (translation), apalagi setelah menjadi penerjemah komik yang hasilnya akan dibaca oleh banyak orang, saya mulai belajar kembali mengenai Bahasa Indonesia. Saya juga mulai sering membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk memastikan ejaan suatu kata.

DSC_1249

Rasanya memang aneh ketika mulai belajar Bahasa Indonesia lagi. Namun akan lebih aneh hasil terjemahannya jika tidak belajar Bahasa Indonesia lagi. Mari kita ber-Bahasa Indonesia yang baik dan benar!

Uncategorized

Mencari Penerjemah Di Indonesia

Sebagai seorang penerjemah, kadang-kadang saya suka dimintai orang untuk dikenalkan dengan penerjemah lain baik. Kalau penerjemah Jepang saya masih bisa kenalkan beberapa orang karena saya memang kenal dengan mereka, tapi tidak begitu dengan penerjemah bahasa lain.

Saya merasa beruntung sebagai anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) karena mereka memiliki Direktori Penerjemah HPI. Di sana pengunjung situs dapat pencari penerjemah berbagai bahasa yang merupakan anggota HPI.

image

Di sana juga terdapat profil dan spesialisasi para penerjemah yang bersangkutan sehingga pengunjung dapat menemukan penerjemah sesuai dengan yang dicarinya.

Bagi yang ingin mencari penerjemah, silakan untuk mengunjungi direktori tersebut. Semoga anda dapat menemukan penerjemah yang sesuai dengan yang anda cari.

Selamat berburu penerjemah!

Uncategorized

Honyaku Konyaku dan Mesin Penerjemah

Bagi yang pernah menonton serial kartun Doraemon, mungkin tahu bahwa Doraemon memiliki alat yang dapat membuat orang mengerti dan dapat berbicara bahasa asing. Nama alat (lebih tepatnya adalah makanan) tersebut dalam bahasa Jepang adalah Honyaku Konyaku. Saya lupa apa versi terjemahan Bahasa Indonesia-nya untuk alat ini.

Siapa pun yang memakan alat (sekali lagi, lebih tepatnya adalah makanan) tersebut, maka secara otomatis akan mampu mengerti dan berbicara bahasa asing bahkan bahasa makhluk di luar bumi.

Sepertinya pekerjaan penerjemah akan hilang jika alat tersebut benar-benar ada di dalam dunia nyata. Sekalipun Honyaku Konyaku tidak ada dalam dunia nyata, alat untuk menerjemahkan bahasa asing sudah lama ditemukan oleh manusia.

Saat ini, jika diminta untuk menyebut satu nama alat penerjemah, saya yakin hampir semua orang akan menyebut nama Google Translate. Ya, alat ini sungguh sangat mudah digunakan. Hanya dengan menulis kata, kalimat bahkan alamat situs yang ingin kita terjemahkan dan  memilih pasangan bahasanya, kita akan mendapatkan terjemahan yang kita inginkan.

Terlepas dari banyak keluhan bahwa sering kali terjemahannya tidak akurat, tetap saja banyak orang yang menggunakan mesin penerjemah ini. Fitur suara sangat membantu ketika kita tidak tahu bagaimana melafalkan kata terjemahan. Fitur fonetik juga membantu untuk membaca huruf non alfabet seperti bahasa Jepang.

Dalam era globalisasi ini, perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Namun demikian, untuk dapat ‘bertahan hidup’ di tempat yang baru, manusia harus bisa menembus ‘dinding kebudayaan’. Salah satu unsur kebudayaan tersebut adalah bahasa (Koentjaraningrat).

Ketika saya di Jepang pada tahun 2001, jarang bisa menemukan nama stasiun dalam huruf latin kecuali di stasiun-stasiun besar. Namun karena adanya perhelatan Piala Dunia 2002, Jepang pun berbenah untuk mulai mencantumkan huruf latin di stasiunnya.

Kini, menjelang Olimpiade Tokyo di tahun 2020 pun, Jepang kembali bersiap untuk menghilangkan ‘dinding bahasa’. Saya membaca sebuah artikel daring yang memberitakan bahwa sebuah perusahaan Jepang bekerjasama dengan beberapa perusahaan lain untuk membuat mesin penerjemah pasangan bahasa Jepang-Inggris yang sangat powerful.

Mungkin pada saatnya nanti orang asing berbahasa Inggris akan dapat berbicara secara alami dengan orang Jepang seperti saat ini ketika kita berbicara dengan Siri di iPhone.

Jika mengingat ada Honyaku Konyaku, bukan tidak mungkin orang Jepang akan terobsesi untuk mewujudkannya.

Uncategorized

Membaca Kembali Hasil Terjemahan

Dalam blog ini saya pernah menulis tentang kewajaran bahasa dalam penerjemahan. Hasil terjemahan yang terasa wajar bagi pembaca sasaran akan membuat terjemahan tersebut menjadi ‘enak’ dibaca dan tentunya akan membuat penilaian yang baik bagi penerjemahnya.

Cara untuk memeriksanya adalah membaca kembali hasil terjemahan tanpa membandingkan dengan naskah aslinya. Dari situ penerjemah dapat memperbaiki pilihan kata, tata bahasa hingga pencantuman tanda baca.

Saya menemukan contoh ketidakwajaran bahasa seperti yang ada dalam foto di bawah ini.

DSC_0322

Foto di atas adalah tulisan yang tercantum dalam sebuah minimarket (convinience store) di Seoul, Korea Selatan.

Awalnya saya membaca versi bahasa Inggrinya dan merasa ada yang aneh dengan kalimatnya. Namun jujur saja, bahasa Inggris saya juga tidak bagus sekali sehingga mungkin saja saya salah.

Bahasa selanjutnya adalah bahasa Mandarin, saya tidak bisa membaca satu huruf pun.

Bahasa selanjutnya adalah bahasa Jepang. Nah, kalau yang ini saya berani komentar. Kalimatnya sendiri sudah terasa tidak wajar. Ditambah lagi terdapat kesalahan fatal dalam penempatan tanda baca yang membuat kalimat tersebut membingungkan.

Bagian yang saya maksud adalah kalimat berikut:

お客、様楽しみなショ

ッピングしてください。

Pertama kali saya melihatnya, saya bertanya-tanya apa artinya 「様楽」? Setelah melihat secara utuh kalimatnya, saya baru menyadari bahwa kalimat tersebut terputus oleh tanda koma (,). Penempatan tanda baca koma (,) pada kalimat di atas membuat kata 「お客様」terpisah menjadi 「お客」dan「様」.

Selain itu, pemotongan kata 「ショッピング」menjadi 「ショ」dan「ッピング」dibaris selanjutnya membuat kalimat tersebut tidak enak untuk dibaca.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, hasil terjemahan akan menentukan kualitas si penerjemah. Terlebih lagi jika hasil terjemahannya akan dibaca oleh banyak orang dan dipublikasikan. Jangan sampai hasil terjemahannya membuat malu baik klien maupun penerjemahnya itu sendiri.

Uncategorized

Tes Penerjemah Subtitle Film

Saya pernah mendapat tawaran untuk mengikuti tes sebagai penerjemah subtitle film di salah satu penyedia TV berbayar. Saya mengiyakan tawaran tersebut karena saya rasa itu akan menambah pengalaman saya sebagai penerjemah.

Materi tes yang diberikan adalah menerjemahkan cuplikan acara (sekitar 10 menit) dari bahasa asing ke bahasa Indonesia dalam waktu 1 jam. Di sini kemampuan untuk mendengarkan (listening) sangat dibutuhkan karena pada saat tes tidak diberikan skrip dalam bahasa aslinya. Kalimat-kalimat dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sesuai dengan format yang telah ditentukan.

Untuk tesnya sendiri hanya menerjemahkan saja tanpa melakukan timing (menyesuaikan kapan teks terjemahan harus tampil dalam gambar). Waktu yang disediakan adalah 1 jam dan pada hari itu juga hasilnya diumumkan. Apabila dinyatakan lolos, nanti akan diberikan 1 keping DVD berisi sebuah acara utuh untuk latihan menerjemahkan sekaligus timing dengan menggunakan piranti lunak.

Menurut saya sendiri, tingkat kesulitan menerjemahkannya relatif karena tergantung dari konten acara atau filmnya. Hal yang cukup sulit adalah justru menggunakan piranti lunak untuk timing-nya karena bisa memakan waktu lebih banyak dibandingkan dengan menerjemahkan konten itu sendiri. Namun apabila sudah cukup familiar dengan short key-nya, sebenarnya tidak terlalu sulit.

Jika dibandingkan dengan menerjemahkan komik, saya rasa menerjemahkan subtitle adalah seperti menjadi penerjemah dan editornya sekaligus. Ketika menerjemahkan komik, saya hanya cukup fokus dalam proses menerjemahkannya saja. Hal-hal yang berkaitan dengan penempatan ke dalam balon-balon dialog, tidak menjadi tugas saya. Sedangkan dalam menerjemahkan subtitle, selain menerjemahkan, saya juga harus menentukan kapan teks tersebut harus muncul dalam gambarnya.

Tips saya bagi yang ingin mengikuti tes sebagai penerjemah subtitle film:
Tidak perlu terburu-buru hendak menyelesaikan materi tes. Fokus saja dengan yang bisa dikerjakan.
Perhatikan penggunaan EYD.
Ketika hendak memotong kalimat, pastikan agar kalimat berikutnya berbentuk utuh sehingga tidak membingungkan penonton.
Contoh: Dia adalah anak… ( Dia adalah…
  …tetangga yang hilang.      …anak tetangga yang hilang.

Tidak ada hubungannya langsung dengan proses penerjemahan, tetapi pendingin ruangan (AC) di tempat saya tes sangat dingin. Ada baiknya untuk bawa jaket juga.

Jika diberi DVD untuk latihan, usahakan untuk kuasai short key piranti lunak subtitling-nya karena akan lebih cepat dibandingkan klak-klik dengan menggunakan tetikus (mouse).
Semoga bermanfaat. Selamat mencoba dan semoga berhasil ^^