Uncategorized

Komedi Rasa Jepang di Indonesia 

Saya sangat menyukai komedi Jepang. Konon ada yang mengatakan bahwa apabila kita mengerti lelucon dalam suatu bahasa, maka itu artinya kita telah menguasai bahasa tersebut. Saya sendiri banyak terbantu dengan acara-acara komedi Jepang untuk meningkatkan kemampuan bahasa Jepang saya. Hampir setiap hari acara TV Jepang menyiarkan acara bagi komedian untuk menampilkan lelucon-leluconnya. 

Salah satu agensi pelawak yang terkenal di Jepang adalah Yoshimoto Kogyo. Banyak pelawak-pelawak terkenal di Jepang berada di bawah agensi tersebut. 

Ketika saya masih di Jepang, saya sempat menyaksikan acara TV tentang rencana ekspansi para pelawak Jepang untuk ke luar negeri. Negara sasaran pertama adalah Tiongkok. Mereka menerjemahkan semua materi lawakan mereka ke dalam bahasa Mandarin. Lawak adalah selera pribadi. Ada beberapa di antara mereka yang disukai dan tentu juga ada yang tidak disukai lawakannya.

Ekspansi ini ternyata terus berlanjut. Mereka memiliki program yang bernama Pelawak Tinggal di Asia. Dalam program tersebut, pelawak-pelawak yang bernaung di bawah Yoshimoto Kogyo akan “dikirim” ke negara-negara Asia untuk menampilkan lawakan mereka kepada penduduk setempat dengan bahasa setempat.

Salah satu negara tujuannya adalah Indonesia. Beberapa waktu yang lalu, para pelawak tersebut tampil di salah satu pusat perbelanjaan di Bekasi. Mereka adalah Akira, Genki dan The Three. Masing-masing dari mereka memiliki gaya lawak yang berbeda-beda.

Akira banyak menggunakan pernak-pernik dalam melawak.

  
Genki lebih seperti stand up comedy.

  
Sedangkan The Three yang merupakan grup dari 3 orang lebih ke gaya sketsa tanpa dialog yang lebih universal.

  
Bagi saya, sungguh menarik melihat mereka tampil di hadapan penonton Indonesia, khususnya Genki karena dia benar-benar mengolah kata-kata yang sehari-hari digunakan oleh orang Indonesia seperti kepo, PHP dan kata-kata untuk menggombal di dalam lawakannya.

Menarik untuk melihat seperti apa mereka akan berkembang nantinya. Semoga mereka bisa memberikan warna lain bagi panggung komedi di Indonesia.

Uncategorized

Komedi Jepang – Manzai

Satu hal yang saya suka dari tontonan di Jepang adalah acara komedi. Ada beberapa tipe komedi di Jepang. Saya akan mencoba untuk menulis beberapa diantaranya. Jenis komedi yang paling saya suka adalah manzai 漫才. Manzai bisa dibilang mirip dengan stand up comedy yang saat ini sedang populer di Indonesia. Boleh dibilang satu-satunya perbedaan adalah jumlah penampilnya. Jika dalam stand up comedy, jumlah penampilnya satu orang, maka dalam manzai terdapat 2 orang. Kedua penampil ini memiliki peran yang berbeda-beda. Satu orang akan menjadi boke ボケ, sedangkan satu lagi akan menjaditsukkomi つっこみ . Saya tidak yakin bagaimana menerjemahkan kedua istilah ini, tetapi menurut saya contoh yang pas di Indonesia untuk boke adalah Bolot dan tsukkomi adalah Malih .

Boke berperan sebagai pengumpan tawa. Biasanya boke akan bercerita atau memperagakan sesuatu tetapi salah. Fungsi tsukkomi adalah memberitahukan kesalahan yang dilakukan oleh boke. Ketika tsukkomi sedang ‘membetulkan’ boke, disanalah penonton akan tertawa. Kombinasi antara umpan dari boke dan ‘smash’ dari tsukkomi akan menjadi penentu lucu atau tidaknya materi yang disampaikan oleh pasangan manzai atau biasa disebut dengan istilah kombi コンビ.

Materi yang disampaikan oleh pasangan manzai umumnya disampaikan dengan cepat. Pada waktu pertama kali saya melihat manzai, saya tidak bisa menangkap dengan utuh pembicaraan mereka. Jangankan untuk melihat kamus, mendengarkan apa yang disampaikannyapun cukup sulit. Namun setelah terbiasa, saya sungguh merasa sangat terhibur. Materi yang dibawakan biasanya berupa permainan kata atau kejadian-kejadian yang umum di Jepang.

Menurut saya, apa yang membuat materi manzai dapat diterima oleh mayoritas warga Jepang adalah keseragaman pengalaman yang dirasakan oleh setiap orang Jepang. Ketika masih bersekolah, mereka pasti merasakan yang namanya makan siang bersama. Ketika bekerja, mereka pasti akan merasakan lembur dan diajak minum-minum oleh bos. Keseragaman dalam kehidupan sehari-hari menjadikan orang Jepang memiliki ‘pengalaman’ yang sama terhadap hal-hal yang umum. Ketika kejadian-kejadian tersebut diangkat menjadi materi manzai, semua orang akan memiliki memori yang sama.

Bagi yang ingin tahu seperti apa manzai tersebut, saya sertakan link di youtube dari salah satu grup manzai favorit saya, Taka and Toshi タカアンドドシ. Selamat menonton!

Uncategorized

Dajare

Dajare adalah permainan kata dalam bahasa Jepang. Dajare terdiri dari dua kata da 駄 dan share 洒落. Konon awalnya dajare adalah sesuatu yang intelektual karena memainkan kata-kata yang bunyinya mirip/sama namun ditulis menggunakan huruf yang berbeda. Karena dianggap intelek, maka kesan keren (share) muncul. Namun adanya anggapan bahwa dajare ini lebih sering dilontarkan oleh orang-orang tua, maka lama-kelamaan tidak lagi dianggap keren hingga akhirnya diberi tambahan da 駄 yang artinya tidak menarik.

Bagi yang menonton atau membaca serial Detektif Conan tentu kenal dengan tokoh Prof. Agasa. (Saya sebenarnya bingung, kenapa Agasa Hakase diterjemahkan menjadi ‘Prof. Agasa’, padahal hakase = doktor?). Dalam serial movie, biasanya Prof. Agasa mengeluarkan teka-teki yang jawabannya adalah dajare. Begitu juga dengan Mouri Kogoro, kegemarannya adalah melontarkan dajare. Yaah, bisa dibilang ini menguatkan asumsi bahwa dajare biasa dilontarkan oleh orang-orang tua.

Terlepas dari pandangan itu, saya sendiri merasa dajare adalah sesuatu yang menarik. Karena secara tidak langsung bisa membaca kanji dari huruf-huruf yang berbeda, kita bisa sekaligus melatih kemampuan untuk membaca kanji. Beberapa dajare yang “klasik” adalah:

ねころんだ

布団吹っ飛んだ!

電話でんわ

Bagi yang ingin tahu lebih banyak contoh-contoh dajare, bisa follow @DajareStation. Selamat menikmati!