Uncategorized

Demam Batu Akik, Baca Juga Komik Adamas!

Akhir-akhir ini Indonesia sedang dilanda demam batu akik. Saya mulai sering melihat para penjual dan pengasah batu di pinggir jalan. Pameran mengenai batu akik dan batu mulia pun semakin sering diadakan di berbagai kota di Indonesia.

Pada tahun 2012, saya mendapat kesempatan untuk menerjemahkan komik karya Ryoji Minagawa yang berjudul Adamas. Komik ini berceritakan tentang seorang jewerly master atau penguasa batu permata dalam memerangi organisasi jahat yang berusaha menguasai pasar batu permata di seluruh dunia.

DSC_1255

Komik ini pun menceritakan mengenai kekuatan-kekuatan yang dipercayai dimiliki oleh batu permata. Contohnya adalah berlian yang dipercaya sebagai batu yang tidak terkalahkan, alexandrite yang dipercaya dapat memanipulasi cahaya atau kristal yang dipercaya dapat menyembuhkan dan mencegah penuaan.

Bagi yang sedang demam batu akik dan batu mulia, tidak ada salahnya mengikuti kisah dalam komik ini untuk menambah wawasan mengenai seluk-beluk batu.

Iklan
Penerjemahan

Computer Assisted Translation (CAT) Tool

Kadang-kadang saya menemukan kata atau kalimat yang berulang kali muncul dalam teks yang sama ketika sedang menerjemahkan. Biasanya saya pakai cara konvensional dengan “copy-paste” agar tetap menggunakan terjemahan yang sama.

Sebenarnya ada piranti lunak yang memudahkan penerjemah dalam bekerja. Piranti lunak yang dimaksud adalah Computer Assisted Translation (CAT) Tool. CAT berbeda dengan mesin penerjemah karena pada dasarnya hanya membantu saja. Proses penerjemahan tetap dilakukan oleh penerjemah. Namun jika teks asli dan teks terjemahannya tersimpan dalam data CAT, maka piranti lunak tersebut akan mengingat istilah atau kata yang pernah penerjemah gunakan. Sehingga ketika akan menerjemahkan dokumen lain, CAT dapat memberikan rekomendasi kata-kata yang bisa digunakan oleh penerjemah.

Merek piranti lunak CAT ada banyak dan harganya cukup mahal. Namun biasanya mereka menyediakan versi trial-nya secara gratis untuk waktu tertentu. Jika ingin menggunakan yang benar-benar gratis, tidak ada salahnya untuk mencoba Google Translator Toolkit.

Saya sendiri baru akhir-akhir ini mencoba menggunakannya sehingga belum terlalu paham dengan fungsi-fungsinya. Satu hal yang paling terasa adalah saya lebih mudah dalam menerjemahkan karena teksnya sudah terbagi-bagi menjadi satu kalimat-satu kalimat. Oleh karena terintegrasi dengan Google Translate, pada awalnya juga akan muncul terjemahan mesin versi Google-nya. Tentunya terjemahan tersebut perlu diperbaiki agar dapat dibaca lebih ‘alami’.

Sayangnya teks asli komik yang saya terjemahkan masih berupa hardcopy sehingga tidak bisa diunggah ke dalam CAT. Terpaksa masih harus menerjemahkannya secara manual… ( >_<)

Atau…

Sebenarnya ada cara untuk memasukkannya ke dalam CAT?

Penerjemahan

Domestication dan Foreignisation

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel media daring Jepang mengenai perubahan pada Doraemon sehubungan dengan akan ditayangkannya serial tersebut di Amerika Serikat. Perubahan yang dimaksud adalah dilakukannya lokalisasi termasuk penyesuaian dengan kebiasaan yang berlaku di Amerika.

Dalam artikel tersebut dijelaskan beberapa perubahannya sebagai berikut: pada adegan makan, adegan menggunakan sumpit diganti dengan garpu dan nasi omelet diganti dengan pancake. Nilai ulangan Nobita yang mendapat nilai 0 diganti dengan F (sesuai dengan metode penilaian di Amerika).

Nama-nama alat ajaib milik Doraemon juga diterjemahkan. Namun ini tidaklah aneh karena di Indonesia pun peralatan ajaib milik Doraemon juga di terjemahkan. Perubahan juga bahkan terjadi pada nama tokoh, contohnya Nobita menjadi Nobby dan Giant menjadi Big G.

Dalam penerjemahan dikenal metode yang disebut domestication dan foreignisation. Kedua istilah tersebut merujuk pada pendekatan mana yang digunakan oleh penerjemah ketika menerjemahkan. Apabila penerjemahannya lebih mendekati bahasa sasaran, maka penerjemah tersebut menggunakan metode domestication. Sebaliknya, apabila penerjemah lebih mendekati bahasa sumber, maka metode yang digunakan adalah foreignisation.

Dalam kasus Doraemon di Amerika Serikat yang saya sampaikan di atas, penerjemahannya harus mengambil metode domestication untuk menyesuaikan dengan perubahan yang dilakukan pada adegan-adegan dalam serial tersebut.

Ketika menerjemahkan komik Jepang, saya pun harus memutuskan apakah akan menggunakan metode domestication atau foreignisation. Pihak penerbit sebenarnya sudah memberikan aturan mengenai hal ini. Terutama untuk penggunaan kata panggilan seperti –san, -chan atau –kun memang tidak diperbolehkan. Lalu, apakah dengan demikian komik terjemahan saya bisa disebut sudah didomestikasi?

Saya pribadi akan mengatakan tidak. Khususnya karena tidak ada perubahan drastis seperti perubahan adegan seperti yang dilakukan pada contoh kasus Doraemon di atas. Terjemahannya cenderung foreignisation karena dalam beberapa kasus saya atau editor saya memberikan catatan kaki untuk menjelaskan istilah yang memang khusus atau tidak bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Metode manapun yang digunakan, pada akhirnya yang penting adalah keberterimaan pada pembacanya. Salah satu latar belakang munculnya fansub di internet adalah karena adanya ketidakpuasan terhadap hasil terjemahan.

Para pembaca komik yang terhormat, semoga terjemahan saya dapat diterima oleh anda sekalian. ^^

Uncategorized

Reimburse

“Apa Bahasa Indonesia-nya seisan (精算)?”

“Hmm, biasanya di sini pakai Bahasa Inggris, bilang saja reimburse

 

Itu adalah penggalan pertanyaan dari orang Jepang ke saya. Setelah mendapat pertanyaan tersebut, saya mencoba untuk mencaritahu apa Bahasa Indonesia untuk kata “reimburse” tersebut. Pertama, saya pastikan dulu definisi reimburse tersebut. Saya mengeceknya di kamus Oxford daring. Di sana tertera seperti ini:

 

Reimburse

verb

[with object]

repay (a person who has spent or lost money)

(sumber: http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/reimburse?q=reimburse)

 

Lalu bagaimana dengan ‘seisan’? Selama ini sepemahaman saya yang dimaksud dengan seisan adalah meminta penggantian pembayaran. Namun setelah mendapat pertanyaan di atas, saya jadi ragu apakah pemahaman saya selama ini benar atau salah. Maka saya cek kembali di kamus daring. Di sana tertera seperti ini:

 

せい‐さん 【精算】

[名](スル)金額などをこまかく計算すること。特に、料金などの過不足を計算しなおすこと。「乗り越し運賃を―する」「―所」

(sumber: http://kotobank.jp/word/%E7%B2%BE%E7%AE%97)

 

Nah, lho!? Kok, malah berbeda jauh. Jika saya artikan definisi di atas secara sederhana seisan adalah menghitung jumlah (uang) dengan rinci, terutama menghitung kekurangan pembayaran.

 

Mengapa berbeda sekali dengan pemahaman saya selama ini? Ketika saya mencoba mencari-cari lagi. Saya temukan jawaban terhadap perbedaan tersebut di sini:

http://english.evidus.com/magazine/ibunka/92.html

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, intinya adalah seisan memiliki makna yang cukup luas tergantung pada penggunaannya. Sehingga pemahaman saya sebagai ”penggantian pembayaran” pun tidak salah.

 

Setelah memastikan definisi masing-masing dari seisan dan reimburse, kembali ke pertanyaan asal: apa Bahasa Indonesia-nya?

 

Secara pribadi, saya rasa ’penggantian pembayaran’ bisa digunakan sebagai terjemahan untuk seisan.

Contoh kalimat:

 

「先週の出張の精算をお願いします」

”Saya mau meminta penggantian pembayaran perjalanan dinas minggu lalu”

 

Hmm, jika mengatakan kalimat di atas secara lisan, kedengarannya begitu kaku jika dibandingkan dengan bahasa yang lebih pragmatis:

 

”Mau reimburse uang business trip minggu lalu, dong”

 

Mari kita gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar ^^

Uncategorized

Bahasa Jepang Kuno

Dulu ketika menerjamahkan komik Hikayat Genji, kesulitan terbesar yang saya hadapi adalah bahasa jepang kuno. Dalam komik tersebut banyak adegan surat menyurat maupun waka (puisi Jepang kuno). Saya sendiri tidak pernah belajar tentang bahasa Jepang kuno. Teman-teman orang Jepang saya pun tidak semuanya mengerti mengenai ini. Pada saat itu saya berusaha untuk memaknai setiap huruf kanji, sementara untuk hiragana-nya saya setengah menebak padanan kata dalam bahasa Jepang modern-nya.

Beberapa waktu yang lalu saya menemui lagi waka yang menggunakan bahasa Jepang kuno dalam komik. Waka dalam komik tersebut merupakan kunci dari alur cerita dan kata kuncinya ditulis dalam hiragana. Maksud dari komikusnya adalah menggunakan cara baca yang sama untuk kanji yang akan menjadi 2 kata yang berbeda. Permainan kata khas Jepang…

Nah, disaat saya bingung mencari arti dari kata dalam bahasa Jepang kuno tersebut. Saya menyadari bahwa di kamus daring weblio ternyata terdapat kamus bahasa Jepang kuno (Kogo Jiten 古語辞典). Wow, ini sungguh sangat membantu.

Bagi yang ingin mencoba, silakan klik di sini. Lumayan buat yang ingin mengerti manyoshu 万葉集.