Arsip Tag: bahasa Jepang

Menilai Kompetensi Penerjemah Bahasa Jepang

Idealnya sebuah profesi memiliki suatu pedoman kompetensi yang objektif agar orang awam dapat mengukur kemampuan yang bersangkutan. Hal yang sama juga berlaku bagi profesi penerjemah. Terlebih lagi pengguna jasa harus percaya bahwa kata-kata atau tulisannya akan disampaikan dengan benar oleh sang penerjemah.

Saat ini boleh dikatakan tidak ada suatu ujian untuk mengukur kompetensi penerjemah pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Dulu pernah ada Ujian Kompetensi Penerjemah (UKP).  Ujian ini terdiri dari ujian teks hukum dan teks umum. Peserta yang lulus ujian teks hukum dengan nilai tertentu (saya tidak tahu persis kriterianya) akan diberi surat keputusan sebagai penerjemah bersumpah. Sayangnya ujian ini sudah vakum cukup lama dan tidak diketahui kapan akan diselenggarakan kembali.

Lalu, bagaimana caranya untuk mengukur kompetensi seorang penerjemah bahasa Jepang? Cara yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mengukur kompetensi bahasa Jepang dan Indonesia sang penerjemah tersebut. Walaupun kemampuan berbahasa yang baik tidak berarti orang tersebut memiliki kemampuan menerjemahkan yang baik, setidaknya hal tersebut dapat dijadikan salah satu tolak ukur kemampuan penerjemah tersebut.

Kemampuan bahasa Indonesia dapat diukur melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara kemampuan bahasa Jepang dapat diukur dengan Japanese Languange Proficiency Test (JLPT).

Saya sendiri tentu menginginkan ada sebuah lembaga di Indonesia ataupun di luar negeri yang menyelenggarakan ujian kompetensi bagi penerjemah pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Selain untuk mengukur kemampuan diri sendiri, saya pun ingin agar pengguna jasa merasa yakin ketika mereka menggunakan jasa saya.

Saya berharap semoga UKP dapat diselenggarakan lagi dalam waktu dekat.

Berbicara dalam Bahasa yang (Tidak) Sama

Inti dari menerjemahan adalah menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Walaupun sepertinya mudah, perbedaan budaya antara bahasa sumber dan bahasa sasaran membuat penerjemah harus dapat menyampaikan pesan tersebut dalam bahasa yang dimengerti oleh sasaran.

Contoh kata yang sederhana tetapi memiliki makna yang dalam adalah kaizen. Istilah yang populer berkat Toyata ini sering diterjemahkan sebagai perbaikan dalam bahasa Indonesia atau improvement dalam bahasa Inggris. 

Apakah ada yang salah dalam penerjemahan tersebut? Jawabannya tidak. Tetapi kemungkinan besar nuansa yang ditangkap akan berbeda dengan pemahaman orang Jepang. Bagi yang pernah bekerja di pabrik tentunya akan sering mendengar kata ini, tetapi mungkin sering juga dimarahi ketika terjadi lagi masalah yang sama padahal kaizen telah dilakukan.

Penyebabnya adalah perbedaan pemahaman mengenai kaizen itu sendiri. Orang Jepang berpikir apabila telah dilakukan kaizen, maka masalah yang sama seharusnya tidak terjadi kembali. Sementara bagi kebanyakan orang Indonesia, kaizen yang diterjemahkan sebagai perbaikan adalah yang penting tidak bermasalah lagi pada saat tersebut dan jika terjadi masalah kembali, maka cukup diperbaiki kembali.

Dari contoh tersebut dapat dilihat bahwa “bahasa” yang dibicarakan sudah berbeda. Contoh lainnya dalam bahasa Indonesia: Konon, jika kita bertanya tentang jarak kepada orang Jawa dan ia mengatakan “dekat” yang disertai jempol sebagai penunjuk arah, maka itu artinya memang benar-benar dekat. Namun jika mengatakan “dekat” yang disertai dengan jari telunjuk sebagai penunjuk arah, maka sebenarnya jaraknya masih cukup jauh (mohon maaf jika contohnya salah).

Jika orang Jepang yang hanya mengerti bahasa Indonesia saja, kemungkinan besar dia akan menangkap bahwa kedua “dekat” tersebut memiliki makna yang sama. Kesalahpahaman akan makna yang sesungguhnya sering sekali terjadi pada orang Jepang yang baru bisa bahasa Indonesia. Sering kalanya hal-hal sederhana seperti inilah yang membuat komunikasi terhambat.

Say pribadi meyakini bahwa salah satu fungsi penerjemah adalah menjembatani perbedaan budaya tersebut. Saya pernah menjadi juru bahasa bagi orang Jepang yang menurut saya cukup fasih bahasa Indonesia-nya. Namun ia tetap menggunakan jasa saya sebagai juru bahasa pada saat meeting atau pertemuan penting karena ia mengatakan bahwa ia sering mengalami kesulitan memahami makna sesungguhnya yang disampaikan.

Dalam hal ini, juru bahasa khususnya juru bahasa konsekutif memiliki keuntungan dibandingkan penerjemah tulisan. Selain memiliki kesempatan untuk memberikan penjelasan tambahan, dapat berdiskusi terlebih dahulu mengenai tujuan yang hendak disampaikan membuat juru bahasa dapat menyiapkan strategi penerjemahan yang terbaik bagi sasarannya.

Bagaimana pun juga, pemahaman yang baik mengenai kebudayaan yang terkandung dalam bahasa sumber dan bahasa sasaran akan membuat seorang penerjemah menjadi penyampai pesan yang efektif dan tepat sasaran. Kemudian yang paling penting adalah dapat berbicara dengan bahasa yang benar-benar sama (dimengerti) kepada sasarannya.

Penerjemah Bahasa Jepang Untuk Negosiasi Bisnis

Saat ini Jepang sedang gencar-gencarnya untuk mempromosikan teknologi yang dimilikinya ke luar negeri. Walaupun Jepang gagal bersaing dengan Tiongkok dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, hal tersebut tidak membuat perusahaan-perusahaan Jepang untuk berhenti mempromosikan keunggulan teknologinya.

Pemerintah Jepang, khususnya pemerintah daerah di tingkat prefektur (setingkat dengan provinsi di Indonesia) sangat gencar untuk membantu perusahaan-perusahaan yang ada di wilayahnya untuk melakukan promosi di luar negeri.

IMG_0052

Metode promosi yang dilakukan adalah dengan mengadakan acara yang biasanya disebut dengan business matching. Dalam acara tersebut, pemerintah prefektur di Jepang akan membawa beberapa perusahaan unggulan di daerahnya untuk dipertemukan dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Tujuan perusahaan Jepang yang ikut serta di dalamnya bermacam-macam, ada yang hanya ingin menjual produknya saja, ada juga yang ingin mencari mitra bisnis untuk membuat perusahaan patungan di Indonesia dan ada juga yang justru mencari perusahaan Indonesia sebagai pemasok mereka.

Business matching ini tentunya tidak akan berjalan lancar jika komunikasi antara perusahaan Jepang dan Indonesia tidak berjalan dengan lancar. Seorang penerjemah yang paham akan bisnis di Jepang dan Indonesia dapat menjembatani komunikasi tersebut agar kebutuhan dari kedua belah pihak dapat diketahui oleh masing-masing.

Bagi yang membutuhkan penerjemeh bahasa Jepang untuk negosiasi bisnis, silakan untuk menghubungi saya melalui email di: me@hanifcahyono.com

Penerjemah Bahasa Jepang Untuk Masalah Ketenagakerjaan

Jepang merupakan salah satu negara sahabat yang penting bagi Indonesia. Sekalipun Jepang pernah menjajah Indonesia, tidak sedikit “balas budi” yang diberikan oleh Jepang kepada Indonesia seperti pemberian beasiswa, bantuan hibah hingga investasi.

Berdasarkan data dari JETRO, jumlah perusahaan Jepang di Indonesia per Maret 2014 adalah sebanyak 1496 perusahaan. Masih berdasarkan JETRO, masalah utama yang dihadapi oleh perusahaan Jepang di Indonesia saat ini adalah semakin tingginya upah tenaga kerja.

Permasalahan seputar ketenagakerjaan memang sering didengar akhir-akhir ini, terutama mengenai tuntutan kenaikan upah, pemutusan hubungan kerja (PHK) dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Komunikasi yang baik antara pihak manajemen dan pekerja harus terjadi agar tidak terjadi kesalahpahaman di kedua belah pihak. Seorang penerjemah bahasa Jepang yang memahami masalah ketenagakerjaan dapat menjembatani komunikasi antara manajemen Jepang dengan pekerja Indonesia.

Bagi yang membutuhkan penerjemah bahasa Jepang untuk bidang ketenagakerjaan, dapat menghubungi saya melalui email di me@hanifcahyono.com

Belajar Bahasa Jepang dari TV Berbayar

Suatu kali, pernah ada orang Jepang yang berkata kepada saya seperti ini,

“Kemarin saya menonton anime Jepang di TV berbayar. Maksud saya adalah untuk belajar bahasa Indonesia karena ada subtitlenya. Tapi kok, ketika saya perhatikan terjemahannya berbeda ya? Penerjemahnya tidak mengerti atau apa?”

Mungkin di antara pembaca blog ini yang mengerti bahasa Jepang juga pernah punya pengalaman seperti di atas. Dialog dalam bahasa Jepang mengatakan A, tetapi terjemahannya menjadi B. Seakan-akan tidak sesuai antara dialog asli dengan terjemahannya.

Namun pernahkah Anda mengganti audionya dari bahasa Jepang ke bahasa Inggris? Jika ya, maka pasti akan terima dengan hasil terjemahan tersebut. Ya, perlu diketahui bahwa film Jepang (termasuk anime, dokumenter dsb.) yang di TV berbayar di Indonesia tidak diterjemahkan dari bahasa Jepang, melainkan dari bahasa Inggris. Saya pribadi tidak dapat mengatakan bahwa semuanya seperti itu. Namun berdasarkan pengalaman saya pribadi, sepertinya hampir semuanya memang diterjemahkan dari bahasa Inggris. Hal tersebut tentunya akan mengganggu bagi orang Jepang yang hendak belajar bahasa Indonesia melalui media film seperti orang Jepang yang saya ceritakan di atas.

Terlepas dari bahasa sumbernya, acara-acara berbahasa Jepang di TV berbaya tetap dapat menjadi untuk bahan belajar bahasa Jepang. Terutama untuk  melatih pendengaran, pelafalan, ekspresi dan tempo berbicara. Selain Animax yang menayangkan anime-anime Jepang, terdapat juga saluran Waku Waku Japan yang menayangkan drama, hiburan dan dokumenter. Kedua saluran tersebut memiliki subtitle dalam bahasa Indonesia sehingga tidak perlu khawatir jika belum bisa menyimak dengan baik dalam bahasa Jepang.

Jika bahasa Jepang sudah tidak masalah, menonton NHK World Premium juga bisa menjadi pilihan. Bagi sebagian orang, NHK terkesan lebih banyak menyiarkan berita. Namun sebenarnya itu adalah sungguh tidak benar. NHK World Premium juga menayangkan drama, dokumeter, hiburan bahkan acara komedi.

Bagi yang sedang belajar untuk JLPT, tidak ada salahnya untuk memanfaatkan TV berbayar sebagai sarana untuk belajar.

Selamat mencoba v(^^)

Domestication dan Foreignisation

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel media daring Jepang mengenai perubahan pada Doraemon sehubungan dengan akan ditayangkannya serial tersebut di Amerika Serikat. Perubahan yang dimaksud adalah dilakukannya lokalisasi termasuk penyesuaian dengan kebiasaan yang berlaku di Amerika.

Dalam artikel tersebut dijelaskan beberapa perubahannya sebagai berikut: pada adegan makan, adegan menggunakan sumpit diganti dengan garpu dan nasi omelet diganti dengan pancake. Nilai ulangan Nobita yang mendapat nilai 0 diganti dengan F (sesuai dengan metode penilaian di Amerika).

Nama-nama alat ajaib milik Doraemon juga diterjemahkan. Namun ini tidaklah aneh karena di Indonesia pun peralatan ajaib milik Doraemon juga di terjemahkan. Perubahan juga bahkan terjadi pada nama tokoh, contohnya Nobita menjadi Nobby dan Giant menjadi Big G.

Dalam penerjemahan dikenal metode yang disebut domestication dan foreignisation. Kedua istilah tersebut merujuk pada pendekatan mana yang digunakan oleh penerjemah ketika menerjemahkan. Apabila penerjemahannya lebih mendekati bahasa sasaran, maka penerjemah tersebut menggunakan metode domestication. Sebaliknya, apabila penerjemah lebih mendekati bahasa sumber, maka metode yang digunakan adalah foreignisation.

Dalam kasus Doraemon di Amerika Serikat yang saya sampaikan di atas, penerjemahannya harus mengambil metode domestication untuk menyesuaikan dengan perubahan yang dilakukan pada adegan-adegan dalam serial tersebut.

Ketika menerjemahkan komik Jepang, saya pun harus memutuskan apakah akan menggunakan metode domestication atau foreignisation. Pihak penerbit sebenarnya sudah memberikan aturan mengenai hal ini. Terutama untuk penggunaan kata panggilan seperti –san, -chan atau –kun memang tidak diperbolehkan. Lalu, apakah dengan demikian komik terjemahan saya bisa disebut sudah didomestikasi?

Saya pribadi akan mengatakan tidak. Khususnya karena tidak ada perubahan drastis seperti perubahan adegan seperti yang dilakukan pada contoh kasus Doraemon di atas. Terjemahannya cenderung foreignisation karena dalam beberapa kasus saya atau editor saya memberikan catatan kaki untuk menjelaskan istilah yang memang khusus atau tidak bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Metode manapun yang digunakan, pada akhirnya yang penting adalah keberterimaan pada pembacanya. Salah satu latar belakang munculnya fansub di internet adalah karena adanya ketidakpuasan terhadap hasil terjemahan.

Para pembaca komik yang terhormat, semoga terjemahan saya dapat diterima oleh anda sekalian. ^^

Tes Penerjemah Subtitle Film

Saya pernah mendapat tawaran untuk mengikuti tes sebagai penerjemah subtitle film di salah satu penyedia TV berbayar. Saya mengiyakan tawaran tersebut karena saya rasa itu akan menambah pengalaman saya sebagai penerjemah.

Materi tes yang diberikan adalah menerjemahkan cuplikan acara (sekitar 10 menit) dari bahasa asing ke bahasa Indonesia dalam waktu 1 jam. Di sini kemampuan untuk mendengarkan (listening) sangat dibutuhkan karena pada saat tes tidak diberikan skrip dalam bahasa aslinya. Kalimat-kalimat dalam acara tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan sesuai dengan format yang telah ditentukan.

Untuk tesnya sendiri hanya menerjemahkan saja tanpa melakukan timing (menyesuaikan kapan teks terjemahan harus tampil dalam gambar). Waktu yang disediakan adalah 1 jam dan pada hari itu juga hasilnya diumumkan. Apabila dinyatakan lolos, nanti akan diberikan 1 keping DVD berisi sebuah acara utuh untuk latihan menerjemahkan sekaligus timing dengan menggunakan piranti lunak.

Menurut saya sendiri, tingkat kesulitan menerjemahkannya relatif karena tergantung dari konten acara atau filmnya. Hal yang cukup sulit adalah justru menggunakan piranti lunak untuk timing-nya karena bisa memakan waktu lebih banyak dibandingkan dengan menerjemahkan konten itu sendiri. Namun apabila sudah cukup familiar dengan short key-nya, sebenarnya tidak terlalu sulit.

Jika dibandingkan dengan menerjemahkan komik, saya rasa menerjemahkan subtitle adalah seperti menjadi penerjemah dan editornya sekaligus. Ketika menerjemahkan komik, saya hanya cukup fokus dalam proses menerjemahkannya saja. Hal-hal yang berkaitan dengan penempatan ke dalam balon-balon dialog, tidak menjadi tugas saya. Sedangkan dalam menerjemahkan subtitle, selain menerjemahkan, saya juga harus menentukan kapan teks tersebut harus muncul dalam gambarnya.

Tips saya bagi yang ingin mengikuti tes sebagai penerjemah subtitle film:

– Tidak perlu terburu-buru hendak menyelesaikan materi tes. Fokus saja dengan yang bisa dikerjakan.

– Perhatikan penggunaan EYD.

– Ketika hendak memotong kalimat, pastikan agar kalimat berikutnya berbentuk utuh sehingga tidak membingungkan penonton.

Contoh: Dia adalah anak…              →            Dia adalah…

              …tetangga yang hilang.                     …anak tetangga yang hilang.

– Tidak ada hubungannya langsung dengan proses penerjemahan, tetapi pendingin ruangan (AC) di tempat saya tes sangat dingin. Ada baiknya untuk bawa jaket juga.

Jika diberi DVD untuk latihan, usahakan untuk kuasai short key­ piranti lunak subtitling-nya karena akan lebih cepat dibandingkan klak-klik dengan menggunakan tetikus (mouse).

Semoga bermanfaat. Selamat mencoba dan semoga berhasil ^^

Kewajaran Bahasa

Menerjemahkan adalah sebuah proses untuk menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran. Bahasa sumber dan bahasa sasaran tidak selalu memiliki tata bahasa yang sama. Oleh karena itu, penerjemah harus menyesuaikan tata bahasa dalam bahasa sasarannya. Tujuannya adalah agar naskah terlihat ‘wajar’ ketika dibaca oleh pembaca bahasa sasaran. Inilah yang disebut dengan kewajaran bahasa.

Di bawah ini adalah contoh terjemahan yang biasa saya temukan:

2014年1月1日(水)        diterjemahkan: 1 Januari 2014 (Rabu)

Terjemahan di atas adalah benar, tetapi tidak wajar. Mengapa? Karena di Indonesia, kita biasa menulis tanggal seperti di bawah ini:

Rabu, 1 Januari 2014

Ketidakwajaran seperti di atas biasa terjadi karena cenderung untuk mengikuti bentuk bahasa sumbernya dengan mengabaikan bahasa sasarannya. Padahal kualitas terjemahan akan dinilai dari bahasa sasarannya.

Ketika baru mulai menjadi penerjemah, saya juga sering terlalu fokus dengan tata bahasa Jepang. Bahkan sampai letak tanda baca (titik koma) dan tanda petiknya pun mengikuti pola dalam bahasa Jepang.

Tanda petik Jepang: 「 」

Penting bagi penerjemah untuk membaca kembali hasil terjemahannya. Tidak hanya untuk memeriksa salah ketik saja, tetapi juga untuk memastikan agar hasil terjemahannya terasa “wajar” ketika dibaca tanpa dibandingkan dengan sumbernya. Mohon diingat, menerjemahkan bukanlah mengganti bahasa sumber menjadi bahasa sasaran. Melainkan menyampaikan isi dalam bahasa sumber ke dalam bahasa sasaran.

Mari kita sampaikan pesan yang benar dan wajar ^^

Reimburse

“Apa Bahasa Indonesia-nya seisan (精算)?”

“Hmm, biasanya di sini pakai Bahasa Inggris, bilang saja reimburse

 

Itu adalah penggalan pertanyaan dari orang Jepang ke saya. Setelah mendapat pertanyaan tersebut, saya mencoba untuk mencaritahu apa Bahasa Indonesia untuk kata “reimburse” tersebut. Pertama, saya pastikan dulu definisi reimburse tersebut. Saya mengeceknya di kamus Oxford daring. Di sana tertera seperti ini:

 

Reimburse

verb

[with object]

repay (a person who has spent or lost money)

(sumber: http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/reimburse?q=reimburse)

 

Lalu bagaimana dengan ‘seisan’? Selama ini sepemahaman saya yang dimaksud dengan seisan adalah meminta penggantian pembayaran. Namun setelah mendapat pertanyaan di atas, saya jadi ragu apakah pemahaman saya selama ini benar atau salah. Maka saya cek kembali di kamus daring. Di sana tertera seperti ini:

 

せい‐さん 【精算】

[名](スル)金額などをこまかく計算すること。特に、料金などの過不足を計算しなおすこと。「乗り越し運賃を―する」「―所」

(sumber: http://kotobank.jp/word/%E7%B2%BE%E7%AE%97)

 

Nah, lho!? Kok, malah berbeda jauh. Jika saya artikan definisi di atas secara sederhana seisan adalah menghitung jumlah (uang) dengan rinci, terutama menghitung kekurangan pembayaran.

 

Mengapa berbeda sekali dengan pemahaman saya selama ini? Ketika saya mencoba mencari-cari lagi. Saya temukan jawaban terhadap perbedaan tersebut di sini:

http://english.evidus.com/magazine/ibunka/92.html

 

Berdasarkan penjelasan tersebut, intinya adalah seisan memiliki makna yang cukup luas tergantung pada penggunaannya. Sehingga pemahaman saya sebagai ”penggantian pembayaran” pun tidak salah.

 

Setelah memastikan definisi masing-masing dari seisan dan reimburse, kembali ke pertanyaan asal: apa Bahasa Indonesia-nya?

 

Secara pribadi, saya rasa ’penggantian pembayaran’ bisa digunakan sebagai terjemahan untuk seisan.

Contoh kalimat:

 

「先週の出張の精算をお願いします」

”Saya mau meminta penggantian pembayaran perjalanan dinas minggu lalu”

 

Hmm, jika mengatakan kalimat di atas secara lisan, kedengarannya begitu kaku jika dibandingkan dengan bahasa yang lebih pragmatis:

 

”Mau reimburse uang business trip minggu lalu, dong”

 

Mari kita gunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar ^^

Bikin gambatte?

Banyak produk Jepang yang beredar di Indonesia. Produk tersebut ada mobil, motor, kosmetik hingga makanan dan minuman. Sebagian besar dalam promosinya menegaskan bahwa produknya memang berasal dari Jepang. Hal ini sah-sah saja selama memang benar produk tersebut merupakan brand dari Jepang. Bahkan ada juga yang menggunakan bahasa Jepang sebagai ‘bumbu-bumbu’ dalam promosinya. Nah, untuk yang satu ini, ada sebuah iklan di TV yang cukup menggelitik saya. Sebenarnya iseng juga saya membahas ini, tapi iklan ini memang sudah membuat saya berdiskusi dengan beberapa orang yang bisa berbahasa Jepang (dan semua orang bilang saya kok iseng banget ngurusin kaya gini).

Iklan tersebut adalah iklan minuman teh (ocha) dalam kemasan botol PET. Dalam iklan teh yang mereknya berarti ‘masa depan’ ini, ada versi seorang karyawan laki-laki yang mengejar bosnya untuk mendapatkan tanda tangan sang bos. Sebelum mengejar sang bos, si karyawan minum teh kemasan tersebut dan mengucapkan “gambatte“. Setelah itu adegan berlanjut ke sang karyawan dibonceng sepeda motor (mungkin ojek) untuk mengejar sang bos sambil berteriak “gambatte“. Setelah berhasil mendapatkan tanda tangan, iklan pun ditutup dengan tagline, “teh yang bikin gambatte“.

Penggunaan kata “gambatte” dalam iklan tersebut lah yang menggelitik saya untuk menulis ini. Bentuk kamus dari gambatte adalah gambaru. Kata ini memang sulit untuk diterjemahkan, tetapi masih sepadan dengan kata berusaha, bersemangat atau berjuang. Perubahan bentuk kamus menjadi bentuk –te dapat diartikan menjadi dua. Pertama, sebagai bentuk sambung. Maksudnya, setelah kata gambatte, seharusnya terdapat kata lagi sesudahnya. Contoh, … kare wa gambatte, joushi o otta . Kedua, singkatan dari –tekudasai. Contoh, gambattekedasai.

Berdasarkan keterangan di atas, menurut hemat saya penggunaan kata gambatte dalam iklan tersebut kurang tepat. Kata gambatte tidak bisa dianggap sebagai bentuk sambung karena hanya digunakan secara mandiri.

Namun jika maksudnya adalah gambattekudasai, maka akan menjadi konyol karena sang karyawan berteriak gambatte seolah-olah orang disekitarnya yang sedang berusaha. Padahal yang berusaha dalam iklan tersebut adalah karyawan itu sendiri. Dengan demikian, tagline-nya pun menjadi terasa aneh. Dengan mengatakan “… bikin gambatte“, saya menangkap kesan kalimatnya belum tuntas. Jika diterjemahkan akan menjadi seperti “bikin berusaha dan… (?)”.

Kesimpulannya menurut saya, jika maksud dari copywritter adalah “teh yang bikin jadi punya semangat”, maka saya rasa akan tepat jika menggunakan bentuk kamusnya (teh yang bikin gambaru). Saya mencoba untuk melihatnya dari sisi penerjemahan karena tidak punya latar belakang ilmu linguistik. Minasan, ikagadeshouka?