Arsip Kategori: Penerjemah

Menilai Kompetensi Penerjemah Bahasa Jepang

Idealnya sebuah profesi memiliki suatu pedoman kompetensi yang objektif agar orang awam dapat mengukur kemampuan yang bersangkutan. Hal yang sama juga berlaku bagi profesi penerjemah. Terlebih lagi pengguna jasa harus percaya bahwa kata-kata atau tulisannya akan disampaikan dengan benar oleh sang penerjemah.

Saat ini boleh dikatakan tidak ada suatu ujian untuk mengukur kompetensi penerjemah pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Dulu pernah ada Ujian Kompetensi Penerjemah (UKP).  Ujian ini terdiri dari ujian teks hukum dan teks umum. Peserta yang lulus ujian teks hukum dengan nilai tertentu (saya tidak tahu persis kriterianya) akan diberi surat keputusan sebagai penerjemah bersumpah. Sayangnya ujian ini sudah vakum cukup lama dan tidak diketahui kapan akan diselenggarakan kembali.

Lalu, bagaimana caranya untuk mengukur kompetensi seorang penerjemah bahasa Jepang? Cara yang mungkin dapat dilakukan adalah dengan mengukur kompetensi bahasa Jepang dan Indonesia sang penerjemah tersebut. Walaupun kemampuan berbahasa yang baik tidak berarti orang tersebut memiliki kemampuan menerjemahkan yang baik, setidaknya hal tersebut dapat dijadikan salah satu tolak ukur kemampuan penerjemah tersebut.

Kemampuan bahasa Indonesia dapat diukur melalui Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Sementara kemampuan bahasa Jepang dapat diukur dengan Japanese Languange Proficiency Test (JLPT).

Saya sendiri tentu menginginkan ada sebuah lembaga di Indonesia ataupun di luar negeri yang menyelenggarakan ujian kompetensi bagi penerjemah pasangan bahasa Jepang-Indonesia. Selain untuk mengukur kemampuan diri sendiri, saya pun ingin agar pengguna jasa merasa yakin ketika mereka menggunakan jasa saya.

Saya berharap semoga UKP dapat diselenggarakan lagi dalam waktu dekat.

Iklan

Penerjemah Bahasa Jepang Tersumpah

Penerjemah tersumpah adalah seorang penerjemah yang lulus dalam Ujian Kemampuan Penerjemah (UKP) untuk teks hukum dan memiliki surat keputusa (SK) serta diambil sumpahnya oleh Gubernur. Oleh karenanya, penerjemah tersumpah biasanya diperlukan ketika perlu untuk menerjemahkan dokumen-dokumen legal seperti surat perjanjian, akta kelahiran, akta nikah dan dokumen-dokumen berkekuatan hukum lainnya.

Perlu diketahui bahwa seorang penerjemah tersumpah adalah penerjemah untuk dokumen tertulis dan bukan untuk penerjemahan lisan. Sangat disayangkan bahwa UKP untuk menjadi seorang penerjemah tersumpah sudah tidak dilaksanakan lagi sejak sekitar tahun 2012. Oleh karena itu, tidak ada lagi penerjemah tersumpah yang baru pada saat ini.

Jika anda memerlukan penerjemah tersumpah bahasa Jepang, maka anda dapat mencarinya melalui Direktori Penerjemah Himpunan Penerjemah Indonesia. Caranya adalah sebagai berikut:

  1. Masuk ke dalam situs Direktori Penerjemah HPI

Capture

2. Kemudian pilih “Translator” pada bagian “Profession”

Capture1

3. Pada bagian “Languange pair”, pilih bahasa yang akan diterjemahkan pada bagian “Source”. Contohnya, jika ingin menerjemahkan bahasa Jepang ke bahasa Indonesia, maka pilih “Japanese” pada bagian “Source” dan pilih “Indonesian” pada bagian “Target”.

Capture1

4. Pilih “Sworn translator”

Capture2

5. Kemudian klik “Browse” yang berada di paling bawah laman.

Capture3

6. Hasil akan muncul penerjemah tersumpah Bahasa Jepang.

hasil

Hasil pencarian tersebut terbatas pada penerjemah yang terdaftar sebagai anggota HPI. Untuk saat ini memang hanya ada 1 orang penerjemah tersumpah bahasa Jepang saja. Mudah-mudahan ke depannya ujian untuk menjadi penerjemah tersumpah dapat diadakan lagi agar semakin banyak penerjemah bahasa Jepang yang dapat menjadi penerjemah tersumpah.

Penerjemah Bahasa Jepang Untuk Negosiasi Bisnis

Saat ini Jepang sedang gencar-gencarnya untuk mempromosikan teknologi yang dimilikinya ke luar negeri. Walaupun Jepang gagal bersaing dengan Tiongkok dalam proyek kereta cepat Jakarta-Bandung, hal tersebut tidak membuat perusahaan-perusahaan Jepang untuk berhenti mempromosikan keunggulan teknologinya.

Pemerintah Jepang, khususnya pemerintah daerah di tingkat prefektur (setingkat dengan provinsi di Indonesia) sangat gencar untuk membantu perusahaan-perusahaan yang ada di wilayahnya untuk melakukan promosi di luar negeri.

IMG_0052

Metode promosi yang dilakukan adalah dengan mengadakan acara yang biasanya disebut dengan business matching. Dalam acara tersebut, pemerintah prefektur di Jepang akan membawa beberapa perusahaan unggulan di daerahnya untuk dipertemukan dengan perusahaan-perusahaan di Indonesia. Tujuan perusahaan Jepang yang ikut serta di dalamnya bermacam-macam, ada yang hanya ingin menjual produknya saja, ada juga yang ingin mencari mitra bisnis untuk membuat perusahaan patungan di Indonesia dan ada juga yang justru mencari perusahaan Indonesia sebagai pemasok mereka.

Business matching ini tentunya tidak akan berjalan lancar jika komunikasi antara perusahaan Jepang dan Indonesia tidak berjalan dengan lancar. Seorang penerjemah yang paham akan bisnis di Jepang dan Indonesia dapat menjembatani komunikasi tersebut agar kebutuhan dari kedua belah pihak dapat diketahui oleh masing-masing.

Bagi yang membutuhkan penerjemeh bahasa Jepang untuk negosiasi bisnis, silakan untuk menghubungi saya melalui email di: me@hanifcahyono.com

Penerjemah Bahasa Jepang Untuk Masalah Ketenagakerjaan

Jepang merupakan salah satu negara sahabat yang penting bagi Indonesia. Sekalipun Jepang pernah menjajah Indonesia, tidak sedikit “balas budi” yang diberikan oleh Jepang kepada Indonesia seperti pemberian beasiswa, bantuan hibah hingga investasi.

Berdasarkan data dari JETRO, jumlah perusahaan Jepang di Indonesia per Maret 2014 adalah sebanyak 1496 perusahaan. Masih berdasarkan JETRO, masalah utama yang dihadapi oleh perusahaan Jepang di Indonesia saat ini adalah semakin tingginya upah tenaga kerja.

Permasalahan seputar ketenagakerjaan memang sering didengar akhir-akhir ini, terutama mengenai tuntutan kenaikan upah, pemutusan hubungan kerja (PHK) dan Perjanjian Kerja Bersama (PKB). Komunikasi yang baik antara pihak manajemen dan pekerja harus terjadi agar tidak terjadi kesalahpahaman di kedua belah pihak. Seorang penerjemah bahasa Jepang yang memahami masalah ketenagakerjaan dapat menjembatani komunikasi antara manajemen Jepang dengan pekerja Indonesia.

Bagi yang membutuhkan penerjemah bahasa Jepang untuk bidang ketenagakerjaan, dapat menghubungi saya melalui email di me@hanifcahyono.com

Internet Cepat Untuk Bekerja

Tahun lalu ketika Pak Tifatul Sembiring masih menjabat sebagai Menkominfo, beliau pernah melempar tweet yang mempertanyakan untuk apa internet cepat. Berita tersebut sempat ramai dibicarakan dan saya pun tertarik membaca artikelnya karena judulnya yang menantang.

Alasan orang menginginkan internet cepat memang bermacam-macam. Saya sendiri akan menjawab internet cepat saya butuhkan untuk bekerja. Pekerjaan sebagai penerjemah lepas memang sangat erat dengan internet. Mulai dari menerima dan menjawab pesanan melalui surel hingga untuk riset materi terjemahan.

File yang dikirim untuk menerjemahkan dokumen biasanya tidak berat. Paling besar saya pernah dapat 25MB. File sebesar ini masih mampu diunduh dengan kecepatan internet standar (kurang dari 1 Mbps) dengan waktu yang tidak lama (menurut saya). Namun jika sudah menerjemahkan materi video, saya sungguh membutuhkan kecepatan internet yang sangat cepat. File yang dikirim selalu besar dan jika kecepatan internetnya lama, hasilnya lebih sering error unduhannya. Sementara sedang mengunduh, klien sudah menanyakan apakah file-nya telah diterima dan diperiksa.

Saya baru mulai menikmati internet cepat di rumah (10 Mbps) sejak November 2014. Penantian yang cukup lama hingga akhirnya ada provider internet cepat merambah ke daerah perumahan saya. Semenjak ada internet cepat, pekerjaan yang berhubungan dengan video dapat saya layani dengan cepat karena saya dapat segera memeriksa materinya. Selain itu juga untuk riset pun lebih mudah karena menonton streaming pun sudah tidak lagi terputus-putus.

Hal lain yang saya rasakan adalah semakin mudahnya melakukan briefing. Sebelum memiliki internet yang cepat, saya selalu harus pergi menemui klien untuk melakukan briefing. Namun kini, selama klien bersedia, saya dapat melakukan briefing di depan layar komputer saya di rumah tanpa harus pergi. Tentunya ini sangat menghemat dari segi waktu maupun biaya (apalagi kemacetan Jakarta sangat membuat stres).

Itu adalah kegunaan internet cepat bagi saya. Setidaknya untuk saat ini saya telah dapat menikmati internet cepat di rumah. Menurut saya, tantangan berikutnya adalah internet cepat di perangkat mobile. Untuk hal ini, saya masih belum dapat menikmatinya. Sekalipun ada operator yang mengatakan memiliki teknologi 4G, pada kenyataannya layanan tersebut masih terbatas di kota-kota (dan tempat-tempat) tertentu saja.

Semoga internet di Indonesia dapat semakin cepat sehingga dapat membantu pembangunan dan produktifitas kerja di Indonesia. ^^

Pekerjaan Saya Di KTP: Penterjemah

Beberapa waktu yang lalu Pak RT mendatangi rumah saya. Beliau membawa draft Kartu Keluarga (KK) yang baru dan meminta saya untuk mengkoreksinya. Nama, tempat tanggal lahir, nama orang tua hingga akhirnya pekerjaan.

Selama ini saya selalu menulis pekerjaan sebagai karyawan swasta. Namun ternyata status pekerjaan tersebut pernah sedikit merepotkan saya ketika memperpanjang paspor karena ternyata kalau karyawan swasta harus melampirkan surat keterangan kerja dari perusahaannya.

Berbekal pengalaman tersebut, saya tidak mau mengulangi lagi hal merepotkan seperti itu. Lalu, apa jenis pekerjaan yang harus saya cantumkan? Apakah profesi penerjemah ada dalam pilihan administrasi negara?

Sempat terpikir oleh saya untuk menulis sebagai wiraswasta, tapi kok sepertinya bukan ya (memang bukan, ‘kan). Lagipula kalau ditulis seperti itu, jangan-jangan berikutnya saya malah dimintai SIUP oleh petugas imigrasi ketika perpanjang paspor lagi.

Daripada bingung, saya pun mencoba untuk googling. Saya pun menemukan blog milik Bapak Ria Saptarika yang mencantumkan klasifikasi profesi dan pekerjaan di Indonesia yang sesuai dengan administrasi kependudukan (terima kasih kepada Bapak Ria Saptarika).

Dari daftar tersebut, saya menemukan ternyata profesi penterjemah ada di dalamnya! Ya, tulisannya penterjemah. Wah, pas sekali. Ternyata pilihan profesi berdasarkan Formulir F-1.01 ada sampai 80 jenis. Mulai dari pilihan standar seperti pelajar, karyawan swasta, TNI, POLRI, terdapat juga beberapa jenis tukang seperti tukang kayu, tukang batu, tukang sol dan sebagainya. Untuk klasifikasi profesional ada dokter, pengacara, akuntan, konsultan dan lain-lain.

Dengan ini saya jadi tidak perlu bingung lagi menyebutkan apa pekerjaan saya. Seperti dialog dalam fim Spiderman: “Who am I? I’m an interpreter and translator

Mendaftar BPJS

Sebagai pekerja lepas, saya tidak memiliki perlindungan asuransi kesehatan seperti ketika saya masih bekerja sebagai karyawan tetap. Secara pribadi, saya sangat bersyukur dengan adanya program BPJS. Walaupun program ini wajib bagi seluruh WNI, saya pun baru mendaftar setelah melihat sendiri manfaat dari BPJS ini yang dialami oleh keluarga saya.

Mendaftar BPJS sendiri sangat mudah. Caranya bisa dilakukan via online maupun datang langsung ke kantor BPJS. Di sini saya akan tuliskan pengalaman saya ketika mendaftar langsung ke kantor BPJS.

Persyaratan untuk mendaftar BPJS adalah membawa:

1. Fotokopi KTP

2. Fotokopi Kartu Keluarga

3. Paspoto ukuran 3×4

Jangan lupa juga untuk membawa aslinya ketika mendaftar. Kemudian di BPJS tempat saya mendaftar, mereka juga mensyaratkan untuk membawa buku tabungan BNI, BRI atau Mandiri. Ketika saya tanyakan alasan buku tabungan ini, petugasnya hanya menjawab, “Sudah aturan dari sananya, mas”. Menurut saya pribadi, fungsinya adalah agar BPJS yakin bahwa pesertanya dapat membayar melalui bank-bank tersebut. Ya, karena pembayaran BPJS dilakukan melalui salah satu dari ketiga bank tersebut.

Setelah menyiapkan persyaratan di atas. Datanglah ke kantor BPJS mana pun yang terdekat. Mereka tidak mempermasalahkan sekalipun alamat domisili di KTP berbeda dengan aslinya.

Mintalah formulir pendaftaran di kantor BPJS tersebut. Jika yang mendaftarkannya adalah kepala keluarga (suami), maka wajib baginya untuk mendaftarkan juga seluruh anggota keluarganya. Ketika saya mendaftar bulan November 2013, orangtua masih belum bisa diikutsertakan oleh anaknya. Oleh karena itu, jika hendak mendaftarkan orangtua, harus dilakukan di formulir yang terpisah.

Dalam formulir tersebut akan dimintai untuk mengisi data-data pribadi, kelas yang ingin diikuti dan fasilitas kesehatan pertama (faskes I) mana yang akan kita pilih. Premi untuk masing-masing kelasnya adalah:

1. Kelas 1 : Rp. 59.500/bulan

2. Kelas 2: Rp. 42.500/bulan

3. Kelas 3: Rp. 25.500/bulan

Sedangkan untuk faskes I yang dapat dipilih dapat dilihat pada daftar faskes yang ditempel di kantor BPJS. Kita dapat memilih faskes yang terdekat dengan tempat tinggal kita. Faskes tersebut tidak selalu puskesmas, tetapi juga bisa klinik atau dokter pribadi yang sudah bekerja sama dengan BPJS.

Setelah mendaftar, maka petugas BPJS akan memberikan nomor rekening virtual untuk membayar iuran bulan pertama. Pembayarannya dapat dilakukan via teller, ATM dan internet banking. Setelah melakukan pembayaran, datang kembali ke kantor BPJS dengan membawa bukti pembayarannya. Setelah diverifikasi, kartu BPJS pun akan diberikan kepada peserta. Namun kartu tersebut baru dapat digunakan 7 hari setelah pembayaran.

Persyaratan dan proses pendaftarannya sesederhana yang saya tulis di atas. Namun perjuangannya ada pada menunggu antrian. Saya sendiri beruntung tidak perlu mengalami yang namanya menunggu antrian sejak pukul 2 pagi. Ketika saya mendaftar, saya datang pukul 7.30 pagi dan nomor antrian ternyata sudah mulai dibagikan. Saya kebagian nomor 80-an.

Karena sudah yakin akan menunggu, saya pun membawa laptop agar bisa menunggu sambil bekerja. Akhirnya nomor saya pun dipanggil sekitar pukul 1 siang. Di kantor BPJS tempat saya mendaftar, mereka tetap melayani pendaftaran walaupun pada jam istirahat siang.

Setelah menerima nomor rekening virtual, saya pergi ke ATM untuk membayar dan kembali lagi untuk mengambil kartunya. Namun saya tidak bisa mendapatkan kartunya pada hari yang sama karena nomor antrian untuk pengambilan kartu sudah habis.

Saya pun akhirnya datang keesokan harinya. Namun ternyata pada hari tersebut kantor BPJS-nya hanya melayani pendaftaran saja.

Pada kedatangan yang ketiga lah akhirnya saya bisa memperoleh kartunya. Sama seperti ketika mendaftar, saya pun datang sekitar pukul 7.30 pagi dan mendapat nomor 20-an. Saya dipanggil sekitar pukul 9 pagi.

Tips saya bagi yang hendak mendaftar:

1. Bawa persyaratannya dengan lengkap agar tidak perlu bolak-balik

2. Bawa juga alat tulis karena belum tentu kantor BPJS-nya menyediakan

3. Bawa bacaan agar tidak bosan menunggu.

4. Jika sudah dipanggil sejak pagi, segera bayar iurannya agar bisa mendapat kartu di hari yang sama

Semoga pengalaman dan tips saya di atas dapat membantu.

Terlepas dari antriannya yang luar biasa, terima kasih pada BPJS yang sudah menyediakan program kesehatan bagi seluruh WNI.

Bekerja Secara Profesional

“Saya sudah bekerja siang-malam. Bahkan sampai bergadang! Saya ini belum tidur. Masa tidak ada pengertiannya sama sekali, sih!”

Demikianlah keluhan yang pernah saya dengar dari sebuah vendor pada suatu rapat yang saya ikuti sebagai interpreter. Permasalahannya saat itu adalah vendor tersebut tidak dapat menepati batas waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Vendor tersebut sebenarnya sudah diberi tambahan waktu, akan tetapi tetap tidak dapat memenuhi janjinya. Alasannya adalah karena sibuk dengan pekerjaan lain juga. Akibatnya adalah pekerjaan yang sudah diterima tidak dapat diselesaikan karena harus mengerjakan beberapa pekerjaan secara bersamaan. 

Saya juga pernah mengalami menerima begitu banyak terjemahan dalam waktu yang bersamaan. Ingin rasanya menolak, tetapi rasanya sayang juga untuk menolak rejeki. Pada akhirnya saya menerima semua pekerjaan terjemahan tersebut. Namun tentu ada konsekuensinya: waktu untuk keluarga yang tersita, tidak ada istirahat dan kelelahan yang berkepanjangan setelah menyelesaikan semua pekerjaan tersebut.

Alasan saya memaksakan diri untuk memenuhi batas waktu adalah satu: demi profesionalisme. Orang mau membayar atas jasa terjemahan yang saya berikan. Jika mereka puas, mereka pun akan memberi saya lebih banyak pekerjaan lagi. Namun jika mereka kecewa, tentunya mereka tidak akan pernah memakai jasa saya lagi. Selain kualitas terjemahan, hal lain yang harus dipenuhi oleh penerjemah adalah menepati batas waktu yang telah ditentukan.

Ketika saya pertama kali membaca lowongan di penerbit komik pun, mereka mencantumkan salah satu persyaratannya adalah orang yang mampu memenuhi tenggat waktu. Ini menandakan bahwa pekerjaan penerjemah memang berpacu dengan waktu.

Berdasarkan pengalaman saya yang pernah sampai kepayahan, saya mulai mencoba mengatur pekerjaan-pekerjaan saya. Ketika ada pekerjaan interpreter, saya usahakan pada hari itu saya tidak menerjemahkan (translate) agar tidak terlalu lelah. Untuk pekerjaan translator, saya usahakan untuk memberi waktu yang cukup untuk menerjemahkan dan juga cadangan hari untuk berjaga-jaga apabila ada pekerjaan mendadak.

Saya selalu berusaha untuk menanyakan kapan kebutuhan tenggat waktu klien. Apabila mereka tidak perlu cepat-cepat, maka saya pun akan memberikan tenggat waktu yang sedikit lebih lama dari yang diperlukan.

Dengan mengatur waktu seperti itu, saya pun punya waktu yang cukup untuk istirahat di sela-sela menejemahkan. Bahkan apabila tiba-tiba datang permintaan mendadak pun, saya masih bisa melayaninya.

Intinya adalah penting bagi seorang penerjemah untuk bisa mengatur waktu kerjanya dan jangan memaksakan diri untuk menerima semuanya jika tidak mampu. Katakan tidak! (seperti iklan anti korupsi saja) jika memang tidak mampu. Negosiasikanlah dengan klien mengenai tenggat waktunya. Jika tetap tidak bisa, maka lebih baik lepaskan saja pekerjaan tersebut. Toh, pada akhirnya, rejeki tidak akan lari. Amiin