Uncategorized

Catatan Awal Tahun 2019

Tahun baru 2019 sudah memasuki hari ke-4. Tadinya saya hendak membuat catatan akhir tahun, tetapi ternyata waktu berlalu begitu cepat…

Tahun 2018 merupakan tahun peringatan ke-60 hubungan diplomatik antara Jepang dan Indonesia. Begitu banyak rangkaian acara seremonial antara kedua negara pada tahun lalu. Saya pun cukup beruntung karena dapat mengikuti beberapa acara di antaranya yang membuat jadwal saya sebagai juru bahasa cukup padat.

Pada tahun lalu juga diselenggarakan Asian Games dan Asian Para Games di Jakarta dan Palembang. Saya sendiri tidak terlibat langsung selama kedua acara tersebut, tetapi saya berkesempatan untuk mengikuti pertemuan yang melibatkan Japan Sport Agency. Apalagi, Tokyo akan menjadi tuan rumah Olimpiade dan Paralimpiade pada tahun 2020 nanti.

Sementara untuk penerjemahan, tahun lalu akhirnya saya mendapat lagi judul komik versi cetak yang baru. Bidang penerbitan memang menghadapi tantangan yang berat di tengah banyaknya bacaan-bacaan yang dapat dinikmati secara daring. Salah satu berita yang cukup mengejutkan di tahun lalu adalah berakhirnya Tabloid Bola yang terbit sejak tahun 1984. Saya pribadi juga cukup khawatir dengan keberlangsungan komik versi cetak karena penerjemahan komik daring yang saya kerjakan jauh lebih banyak. Untungnya masih ada pecinta komik setia yang rasanya tidak ‘puas’ kalau tidak mengoleksi komik. Selama ceritanya menarik, tampaknya komik versi cetak pun masih akan ada penggemarnya.

Proyek menarik lainnya adalah bekerja sama dengan agensi penerjemah Jepang yang kuat di bidang pertelevisian. Saya mendapat proyek ini berkat rekomendasi salah seorang Jepang yang dulu saya pernah bekerja sama dengannya sebagai juru bahasa. Tema proyeknya adalah memperkenalkan tentang Jepang. Tema yang menurut saya menarik karena membuat saya dapat mengenal Jepang semakin dalam lagi.

Tahun lalu pun saya masih berkesempatan untuk menjadi pembicara di salah satu kampus yang berada di Bekasi. Namun, berbeda dari biasanya yang mengangkat tema seputar penerjemah atau juru bahasa, kali ini saya diminta untuk membicarakan peluang kerja bagi lulusan sastra Jepang. Menurut saya tema ini sangat menarik karena masih banyak yang beranggapan bahwa pilihan karir lulusan sastra Jepang terbatas menjadi penerjemah saja.

Padahal, peluangnya ada macam-macam, apalagi jika memiliki kemampuan selain mampu berbahasa Jepang. Ditambah lagi Jepang juga ke depannya akan semakin terbuka dalam menerima tenaga kerja asing. Salah satu persyaratannya memang harus menguasai bahasa Jepang agar dapat berkomunikasi dengan lancar. Jika para lulusan sastra Jepang memperkaya kemampuan dirinya dengan bidang yang dibutuhkan oleh Jepang, mereka akan unggul karena seharusnya memiliki kemampuan bahasa Jepang yang lebih baik dibandingkan dengan yang baru belajar bahasa Jepang.

Selain hal-hal yang sudah rutin setiap tahunnya, pada tahun 2018 saya mendapatkan dua pengalaman baru, yaitu menjadi pengajar dan pembawa acara alias MC. Tawaran mengajar pertama datang dari salah satu agensi penerjemahan yang sudah lama bekerja sama dengan saya. Mereka ingin memupuk bibit penerjemah baru untuk persiapan seandainya proyek penerjemahan semakin banyak.

Sejujurnya, saya belum pernah mengajar mengenai penerjemahan secara rutin, kecuali untuk satu kali pertemuan saja sebagai pembicara. Oleh karena itu, awalnya saya sempat ragu untuk menerima tawaran mengajar ini. Sambil membongkar catatan ketika masih kuliah S2, saya pun mulai mencoba menyusun rencana pengajarannya sambil di bantu oleh staf dari agensi tersebut. Hasilnya mungkin belum bisa dikatakan sempurna, tetapi setidaknya para peserta memahami dasar-dasar dari penerjemahan dan menjadi terbuka wawasannya mengenai dunia penerjemahan.

Hal itu juga yang turut membantu saya untuk berani menerima tawaran untuk mengajar di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung. Tawaran ini datang dari salah seorang rekan juru bahasa yang juga merupakan Ketua Prodi Bahasa Jepang di kampus tersebut. Saya pribadi sangat berharap agar akan ada semakin banyak penerjemah bahasa Jepang yang berkualitas di Indonesia. Semoga yang saya lakukan ini juga dapat menjadi salah satu cara untuk mewujudkan hal tersebut.

Seperti yang sudah ditulis di atas, pengalaman baru saya lainnya di tahun 2018 adalah menjadi MC. Tawaran ini sebenarnya tidak pernah ada dalam bayangan saya. Awalnya saya hanya bekerja sama dengan sebuah EO (event organizer) sebagai juru bahasa. EO tersebut juga sebenarnya pernah bertanya kepada saya apakah saya tertarik untuk menjadi MC. Oleh karena dunia yang menurut saya sangat berbeda, ketika itu saya hanya berkata akan memikirnnya sambil terus menjadi juru bahasa untuk acara-acara yang diselenggarakan oleh EO tersebut.

Hingga suatu ketika dalam suatu acara di salah satu pusat perbelanjaan di Jakarta, ada EO lain yang memberikan tawaran untuk menjadi MC setelah melihat saya dalam acara tersebut. Saya pun akhirnya menerima tawaran dari mereka karena mereka meyakinkan saya untuk membantu saya agar dapat menjadi MC yang baik dan pada kenyataannya pun memang demikian. Dukungan dari tim yang luar biasa membuat saya dapat terus belajar untuk menjadi MC yang lebih baik lagi. Hal ini pun tidak terlepas dari kemampuan bahasa Jepang yang saya miliki karena klien dari EO tersebut umumnya adalah perusahaan atau organisasi pemerintah Jepang. Oleh karena itu, mereka cenderung memilih 1 orang MC yang mampu berbicara dalam bahasa Jepang dan Indonesia sekaligus, alih-alih menyediakan 2 orang MC.

Nah, apa yang kira-kira akan terjadi di tahun 2019 ini? Yang pasti, tahun ini merupakan peringatan 30 tahun kota persahabatan antara Jakarta dan Tokyo. Selain itu, menjelang Olimpiade dan Paralimpiade tahun depan di Tokyo, kemungkinan besar masih akan ada banyak acara promosi di bidang pariwisata. Tidak tertutup kemungkinan juga akan ada kegiatan rekrutmen seiring dengan semakin terbukanya Jepang terhadap tenaga kerja asing seperti yang sempat disinggung juga oleh Kaisar Jepang dalam pidato awal tahunnya.

Semoga hubungan Jepang dan Indonesia dapat menjadi semakin erat dan harmonis. Kemudian, semoga semakin banyak penerjemah dan juru bahasa Jepang yang akan menjembatani komunikasi kedua negara. (^^)v

Uncategorized

Melihat Jepang Melalui Dorama

Pada 6 Juni 2015 yang lalu J Series Festival di adakan di Jakarta. Acara tersebut merupakan ajang untuk memperkenalkan drama TV Jepang di Indonesia. Jepang memang sedang berusaha untuk mengenalkan budayanya melalui drama TV, terlebih lagi beberapa tahun belakangan ini drama TV Korea lebih banyak di tayangkan di TV lokal Indonesia.

Saya sendiri suka menonton drama Jepang, apalagi setelah WakuWaku Japan mulai mengudara di TV berbayar. Namanya juga drama, tentu saja adegan-adegannya kadang dibuat berlebihan dan kadang tidak sesuai dengan kenyataannya. Walaupun begitu, secara pribadi saya merasa drama bisa menjadi “pintu masuk” ke dalam kebudayaan Jepang.

Terlepas dari adegan-adegan yang berlebihan, sebenarnya cukup banyak hal-hal umum mengenai Jepang yang dapat dilihat melalui drama. Contohnya adalah minum-minum setelah pulang kerja, festival sekolah, cara berbicara yang berbeda berdasarkan usia dan jenis kelamin, sopan santun dan sebagainya.

Tidak sedikit juga drama yang pada akhirnya memberikan pengaruh pada kehidupan nyata. Salah satu drama yang mempengaruhi kehidupan nyata adalah drama Hanzawa Naoki. Drama yang episode terakhirnya meraih rating lebih dari 40% ini telah mempengaruhi para pekerja Jepang sehingga mereka mulai berani menentang atasan yang sewenang-wenang. Suatu sikap yang tidak terbayangkan pada tahun 1980-an.

Seperti yang disampaikan oleh Yuki Furukawa, aktor yang menjadi bintang tamu di J Series Festival, salah satu daya tarik drama Jepang adalah variasi genrenya. Tidak melulu drama romantis, terdapat juga drama bertema “berat” seperti Hanzawa Naoki yang mengangkat tema ekonomi, selain juga yang umum seperti drama yang bergenre komedi dan keluarga.

Saat ini saya sedang mengikuti drama The Emperor’s Cook yang sedang ditayangkan di WakuWaku Japan setiap Sabtu pukul 20.00. Drama berlatar Jepang di awal tahun 1900-an ini diangkat berdasarkan kisah nyata seorang pemuda yang pada akhirnya menjadi koki Kaisar Jepang. Tahukah anda bahwa hidangan resmi di Istana Kaisar Jepang adalah masakan Prancis? Mungkin nantinya di dalam drama ini akan dijelaskan mengapa bukan masakan Jepang yang dipilih menjadi hidangan resmi istana.