Banyak Jalan Menuju JLPT N1

Beberapa waktu yang lalu, untuk pertama kalinya saya menonton serial anime One Punch Man. Sudah lama saya mendengar tentang anime yang satu ini, tetapi tidak sampai tertarik untuk mencarinya sendiri. Hingga akhirnya ditayangkan pada salah satu saluran televisi berbayar, barulah saya menonton serial tersebut.

One Punch Man bercerita tentang tokoh bernama Saitama yang hobinya adalah menjadi hero (pahlawan). Saitama adalah tokoh yang sangat kuat dan hanya membutuhkan sekali pukulan (one punch) untuk mengalahkan musuhnya. Saking kuatnya, bahkan seorang (atau sebuah?) manusia robot pun ingin berguru kepadanya.

Dalam  salah satu episode, Saitama ditanya mengenai rahasia kekuatannya. Bagaimana caranya agar bisa sekuat itu? Saitama pun menjawab bahwa rahasianya adalah setiap har melakukan push up 100 kali, sit up 100 kali, squat 100 kali, berlari 10 km, dan tidak menggunakan AC. Jawaban yang sungguh sederhana, sehingga yang bertanya merasa itu bukan jawaban yang sesungguhnya dan merasa masih ada yang dirahasiakan oleh Saitama.

Saya jadi ingat pernah ada beberapa orang yang bertanya kepada saya tentang bagaimana caranya untuk bisa lulus JLPT N1, apa buku yang saya gunakan, berapa lama waktu belajarnya, siapa yang mengajari, dan sebagainya. Saya pun menjawab sesuai dengan apa yang saya lakukan, yaitu menonton acara televisi Jepang, membaca komik Jepang, dan bermain game dalam bahasa Jepang. Setiap kali saya menjawab seperti itu, setiap kali juga orang tidak percaya dan merasa saya merahasiakan metode belajar saya (padahal memang itu yang saya lakukan…).

Saya sendiri secara pribadi merasa bahwa bahasa adalah suatu alat komunikasi yang harus digunakan. Sehingga menurut saya, cara yang paling efektif untuk menguasainya adalah dengan menggunakannya: berbicara, mendengar, dan membaca.

Sekalipun ketika masih kecil tinggal di Jepang, kemampuan bahasa Jepang saya ketika kuliah hanyalah setara dengan kelas 2 SD. Huruf kanji yang saya ingat hanya sedikit, kosakata yang saya ketahui juga hanya sedikit. Menulis? Saya hanya mampu menulis hiragana dan katakana saja.

Hal yang saya lakukan pertama kali untuk belajar bahasa Jepang adalah menulis kanji. Kebetulan ayah saya masih menyimpan buku kamus kanji yang disertai dengan cara baca dan terjemahannya dalam bahasa Inggirs. Setiap hari saya menyalin 10 kanji dalam buku kotak-kotak. Setiap huruf kanjinya saya salin dalam satu halaman buku kotak-kotak tersebut. Kemudian saya mulai mencoba membaca huruf yang pernah saya salin tersebut di setiap kesempatan, seperti ketika sedang berbelanja, pergi dan pulang kampus, jalan-jalan, dan menonton televisi.

Saya pun akhirnya menyadari bahwa acara televisi Jepang sering menampilkan subtitle dari yang diucapkan oleh pembicara. Sejak saat itu saya mulai rajin menonton acara televisi untuk memperbanyak kanji dan kosakata. Pada awal-awal menonton, saya selalu siap dengan kamus agar memahami topik apa yang sedang dibicarakan.

Ternyata cara ini sangat nyaman bagi saya. Saya berhasil lulus JLPT Level 2 (masih sistem lama yang terdiri dari 4 level) pada tahun pertama saya kuliah (2002) dan tahun berikutnya saya lulus JLPT Level 1 pada keikutsertaan yang pertama. Setelah JLPT berubah menjadi 5 level pun, saya langsung lulus N1 pada keikutsertaan yang pertama.

Seperti yang Saitama lakukan, menurut saya hal yang terpenting adalah konsistensi dalam berinteraksi dengan bahasa Jepang. Sebagai penerjemah, tentu saya selalu berhubungan dengan bahasa Jepang. Namun di luar itu pun, saya masih membaca berita bahasa Jepang dari page Facebook yang saya ikuti, menonton dorama di saluran TV berbayar, dan membaca komik bahasa Jepang.

Bagaimana jika tidak suka menonton atau membaca? Menurut saya, tidak suka menonton tidak menjadi masalah. Namun tidak suka membaca adalah masalah. Bagaimana mungkin dapat mengingat kanji yang lebih dari 2000 huruf dengan kombinasi cara baca yang berbeda-beda tanpa pernah menggunakannya?

Seribu jalan menuju ke Roma. Seribu cara juga untuk belajar. Tips yang dapat saya bagikan adalah:

  1. Temukan sesuatu yang disukai sebagai media untuk berinteraksi dengan bahasa Jepang (contoh: komik, buku, televisi, internet, dsb.)
  2. Konsisten untuk berinteraksi (setiap hari)
  3. Setelah terbiasa berinteraksi secara pasif, mulailah berinteraksi secara aktif (berbicara atau menulis)

Semoga dapat menemukan jalannya sendiri untuk mencapai JLPT N1 (^^)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s