Uncategorized

Ber-Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar

“Sebaiknya sudah punya JLPT (Japanese Languange Proficiency Test) level berapa untuk bisa menjadi penerjemah?”

Saya sering mendapat pertanyaan seperti itu dari orang-orang yang ingin menjadi penerjemah bahasa Jepang. Biasanya saya menjawab lebih baik minimal N2 agar kosa katanya sudah cukup banyak. Selain kemampuan bahasa Jepang, usahakan juga untuk belajar lagi Bahasa Indonesia.

Banyak calon penerjemah yang tidak sadar bahwa seorang penerjemah tidak cukup hanya menguasai bahasa asing saja, tetapi juga harus menguasai Bahasa Indonesia. Mengapa demikian? Ketika sedang menerjemahkan seorang penutur asing atau teks dengan bahasa asing, seorang penerjemah tidak cukup hanya memahami pesan dalam bahasa asing tetapi juga harus dapat menyampaikan kembali pesan tersebut dalam Bahasa Indonesia. Penguasaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar diperlukan agar pendengar atau pembaca dapat menangkap dengan benar pesan yang hendak disampaikan.

Mungkin ada yang masih ingat pemberitaan mengenai nilai UN mata pelajaran Bahasa Indonesia yang rendah? Saya pun harus mengakui bahwa NEM (Nilai Ebtanas Murni) saya untuk mata pelajaran Bahasa Indoensia lebih rendah daripada nilai Bahasa Inggris.

Pada saat awal-awal menjadi penerjemah, saya tidak terlalu memikirkan mengenai penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Salah satunya disebabkan karena awalnya saya lebih sering menjadi seorang juru bahasa (interpreter). Tugas utamanya adalah lebih pada menyampaikan pesan dari bahasa Jepang ke dalam Bahasa Indonesia.

Namun setelah mulai banyak menerima pekerjaan penerjemahan (translation), apalagi setelah menjadi penerjemah komik yang hasilnya akan dibaca oleh banyak orang, saya mulai belajar kembali mengenai Bahasa Indonesia. Saya juga mulai sering membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) untuk memastikan ejaan suatu kata.

DSC_1249

Rasanya memang aneh ketika mulai belajar Bahasa Indonesia lagi. Namun akan lebih aneh hasil terjemahannya jika tidak belajar Bahasa Indonesia lagi. Mari kita ber-Bahasa Indonesia yang baik dan benar!

Penerjemah

Internet Cepat Untuk Bekerja

Tahun lalu ketika Pak Tifatul Sembiring masih menjabat sebagai Menkominfo, beliau pernah melempar tweet yang mempertanyakan untuk apa internet cepat. Berita tersebut sempat ramai dibicarakan dan saya pun tertarik membaca artikelnya karena judulnya yang menantang.

Alasan orang menginginkan internet cepat memang bermacam-macam. Saya sendiri akan menjawab internet cepat saya butuhkan untuk bekerja. Pekerjaan sebagai penerjemah lepas memang sangat erat dengan internet. Mulai dari menerima dan menjawab pesanan melalui surel hingga untuk riset materi terjemahan.

File yang dikirim untuk menerjemahkan dokumen biasanya tidak berat. Paling besar saya pernah dapat 25MB. File sebesar ini masih mampu diunduh dengan kecepatan internet standar (kurang dari 1 Mbps) dengan waktu yang tidak lama (menurut saya). Namun jika sudah menerjemahkan materi video, saya sungguh membutuhkan kecepatan internet yang sangat cepat. File yang dikirim selalu besar dan jika kecepatan internetnya lama, hasilnya lebih sering error unduhannya. Sementara sedang mengunduh, klien sudah menanyakan apakah file-nya telah diterima dan diperiksa.

Saya baru mulai menikmati internet cepat di rumah (10 Mbps) sejak November 2014. Penantian yang cukup lama hingga akhirnya ada provider internet cepat merambah ke daerah perumahan saya. Semenjak ada internet cepat, pekerjaan yang berhubungan dengan video dapat saya layani dengan cepat karena saya dapat segera memeriksa materinya. Selain itu juga untuk riset pun lebih mudah karena menonton streaming pun sudah tidak lagi terputus-putus.

Hal lain yang saya rasakan adalah semakin mudahnya melakukan briefing. Sebelum memiliki internet yang cepat, saya selalu harus pergi menemui klien untuk melakukan briefing. Namun kini, selama klien bersedia, saya dapat melakukan briefing di depan layar komputer saya di rumah tanpa harus pergi. Tentunya ini sangat menghemat dari segi waktu maupun biaya (apalagi kemacetan Jakarta sangat membuat stres).

Itu adalah kegunaan internet cepat bagi saya. Setidaknya untuk saat ini saya telah dapat menikmati internet cepat di rumah. Menurut saya, tantangan berikutnya adalah internet cepat di perangkat mobile. Untuk hal ini, saya masih belum dapat menikmatinya. Sekalipun ada operator yang mengatakan memiliki teknologi 4G, pada kenyataannya layanan tersebut masih terbatas di kota-kota (dan tempat-tempat) tertentu saja.

Semoga internet di Indonesia dapat semakin cepat sehingga dapat membantu pembangunan dan produktifitas kerja di Indonesia. ^^

Uncategorized

Mencari Penerjemah Di Indonesia

Sebagai seorang penerjemah, kadang-kadang saya suka dimintai orang untuk dikenalkan dengan penerjemah lain baik. Kalau penerjemah Jepang saya masih bisa kenalkan beberapa orang karena saya memang kenal dengan mereka, tapi tidak begitu dengan penerjemah bahasa lain.

Saya merasa beruntung sebagai anggota Himpunan Penerjemah Indonesia (HPI) karena mereka memiliki Direktori Penerjemah HPI. Di sana pengunjung situs dapat pencari penerjemah berbagai bahasa yang merupakan anggota HPI.

image

Di sana juga terdapat profil dan spesialisasi para penerjemah yang bersangkutan sehingga pengunjung dapat menemukan penerjemah sesuai dengan yang dicarinya.

Bagi yang ingin mencari penerjemah, silakan untuk mengunjungi direktori tersebut. Semoga anda dapat menemukan penerjemah yang sesuai dengan yang anda cari.

Selamat berburu penerjemah!

Penerjemah

Pekerjaan Saya Di KTP: Penterjemah

Beberapa waktu yang lalu Pak RT mendatangi rumah saya. Beliau membawa draft Kartu Keluarga (KK) yang baru dan meminta saya untuk mengkoreksinya. Nama, tempat tanggal lahir, nama orang tua hingga akhirnya pekerjaan.

Selama ini saya selalu menulis pekerjaan sebagai karyawan swasta. Namun ternyata status pekerjaan tersebut pernah sedikit merepotkan saya ketika memperpanjang paspor karena ternyata kalau karyawan swasta harus melampirkan surat keterangan kerja dari perusahaannya.

Berbekal pengalaman tersebut, saya tidak mau mengulangi lagi hal merepotkan seperti itu. Lalu, apa jenis pekerjaan yang harus saya cantumkan? Apakah profesi penerjemah ada dalam pilihan administrasi negara?

Sempat terpikir oleh saya untuk menulis sebagai wiraswasta, tapi kok sepertinya bukan ya (memang bukan, ‘kan). Lagipula kalau ditulis seperti itu, jangan-jangan berikutnya saya malah dimintai SIUP oleh petugas imigrasi ketika perpanjang paspor lagi.

Daripada bingung, saya pun mencoba untuk googling. Saya pun menemukan blog milik Bapak Ria Saptarika yang mencantumkan klasifikasi profesi dan pekerjaan di Indonesia yang sesuai dengan administrasi kependudukan (terima kasih kepada Bapak Ria Saptarika).

Dari daftar tersebut, saya menemukan ternyata profesi penterjemah ada di dalamnya! Ya, tulisannya penterjemah. Wah, pas sekali. Ternyata pilihan profesi berdasarkan Formulir F-1.01 ada sampai 80 jenis. Mulai dari pilihan standar seperti pelajar, karyawan swasta, TNI, POLRI, terdapat juga beberapa jenis tukang seperti tukang kayu, tukang batu, tukang sol dan sebagainya. Untuk klasifikasi profesional ada dokter, pengacara, akuntan, konsultan dan lain-lain.

Dengan ini saya jadi tidak perlu bingung lagi menyebutkan apa pekerjaan saya. Seperti dialog dalam fim Spiderman: “Who am I? I’m an interpreter and translator

Penerjemah

Bekerja Secara Profesional

“Saya sudah bekerja siang-malam. Bahkan sampai bergadang! Saya ini belum tidur. Masa tidak ada pengertiannya sama sekali, sih!”

Demikianlah keluhan yang pernah saya dengar dari sebuah vendor pada suatu rapat yang saya ikuti sebagai interpreter. Permasalahannya saat itu adalah vendor tersebut tidak dapat menepati batas waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Vendor tersebut sebenarnya sudah diberi tambahan waktu, akan tetapi tetap tidak dapat memenuhi janjinya. Alasannya adalah karena sibuk dengan pekerjaan lain juga. Akibatnya adalah pekerjaan yang sudah diterima tidak dapat diselesaikan karena harus mengerjakan beberapa pekerjaan secara bersamaan. 

Saya juga pernah mengalami menerima begitu banyak terjemahan dalam waktu yang bersamaan. Ingin rasanya menolak, tetapi rasanya sayang juga untuk menolak rejeki. Pada akhirnya saya menerima semua pekerjaan terjemahan tersebut. Namun tentu ada konsekuensinya: waktu untuk keluarga yang tersita, tidak ada istirahat dan kelelahan yang berkepanjangan setelah menyelesaikan semua pekerjaan tersebut.

Alasan saya memaksakan diri untuk memenuhi batas waktu adalah satu: demi profesionalisme. Orang mau membayar atas jasa terjemahan yang saya berikan. Jika mereka puas, mereka pun akan memberi saya lebih banyak pekerjaan lagi. Namun jika mereka kecewa, tentunya mereka tidak akan pernah memakai jasa saya lagi. Selain kualitas terjemahan, hal lain yang harus dipenuhi oleh penerjemah adalah menepati batas waktu yang telah ditentukan.

Ketika saya pertama kali membaca lowongan di penerbit komik pun, mereka mencantumkan salah satu persyaratannya adalah orang yang mampu memenuhi tenggat waktu. Ini menandakan bahwa pekerjaan penerjemah memang berpacu dengan waktu.

Berdasarkan pengalaman saya yang pernah sampai kepayahan, saya mulai mencoba mengatur pekerjaan-pekerjaan saya. Ketika ada pekerjaan interpreter, saya usahakan pada hari itu saya tidak menerjemahkan (translate) agar tidak terlalu lelah. Untuk pekerjaan translator, saya usahakan untuk memberi waktu yang cukup untuk menerjemahkan dan juga cadangan hari untuk berjaga-jaga apabila ada pekerjaan mendadak.

Saya selalu berusaha untuk menanyakan kapan kebutuhan tenggat waktu klien. Apabila mereka tidak perlu cepat-cepat, maka saya pun akan memberikan tenggat waktu yang sedikit lebih lama dari yang diperlukan.

Dengan mengatur waktu seperti itu, saya pun punya waktu yang cukup untuk istirahat di sela-sela menejemahkan. Bahkan apabila tiba-tiba datang permintaan mendadak pun, saya masih bisa melayaninya.

Intinya adalah penting bagi seorang penerjemah untuk bisa mengatur waktu kerjanya dan jangan memaksakan diri untuk menerima semuanya jika tidak mampu. Katakan tidak! (seperti iklan anti korupsi saja) jika memang tidak mampu. Negosiasikanlah dengan klien mengenai tenggat waktunya. Jika tetap tidak bisa, maka lebih baik lepaskan saja pekerjaan tersebut. Toh, pada akhirnya, rejeki tidak akan lari. Amiin

Penerjemahan

Teknologi dan Penerjemah

Dulu sebelum pergi ke Jepang untuk kuliah, modal saya adalah kamus bahasa Jepang-Indonesia yang tebalnya minta ampun. Setelah tiba di Jepang, saya mengetahui keberadaan kamus elektronik. Walaupun ketika itu hanya ada untuk pasangan Inggris-Jepang saja, kamus elektronik tersebut sudah sangat membantu karena saya dapat mengetahui cara baca kanjinya dengan menuliskannya di kamus tersebut.

Namun kamus elektronik versi tulis tersebut memiliki kekurangan, yaitu jumlah kosakatanya yang minim. Saya pun akhirnya membeli lagi kamus elektronik versi ketik yang kosakatanya lebih lengkap. Saya masih menggunakan kamus elektronik ini pada awal-awal saya menjadi penerjemah sekitar tahun 2005 hingga akhirnya rusak.

Kamus elektronik tersebut bisa dikatakan sebagai teknologi yang pertama kali saya gunakan sebagai penerjemah profesional selain komputer beserta piranti lunaknya.

Sekarang, teknologi yang saya pakai sudah semakin banyak mulai dari internet, CAT Tools, ponsel pintar dan sabak elektronik alias tablet. Adanya teknologi tersebut sangat menunjang pekerjaan saya sebagai penerjemah.

Jika dulu bingung dengan cara baca kanji, kini hal tersebut bisa diselesaikan dengan menyalinnya atau menulisnya di Google Translate. Bahkan jika malas menulisnya, cukup memfotonya saja melalui aplikasi Google Translate dan dalam sekejap muncullah cara bacanya beserta terjemahannya (terlepas dari terjemahannya sesuai atau tidak, ya).

Begitu juga untuk riset. Kadang-kadang ketika menerjemahkan, saya tidak tahu barangnya seperti apa dan prosesnya seperti apa. Jika sudah begitu, maka biasanya saya langsung kw Om Google danan syukur-syukur ada fotonya atau videonya di Youtube.

Untuk urusan efisiensi waktu, keberadaan CAT Tools juga membantu saya. Saya sendiri baru beberapa bulan ini saja memakai CAT Tools bernama SDL Trados Studio 2014. Sekarang masih suka bingung dengan shortcut-nya, tetapi lumayan membantu mempercepat proses terjemahan saya.

Beberapa yang saya sebutkan di atas adalah teknologi yang saya gunakan sebagai penerjemah (translator). Sebagai interpreter pun, sebenarnya ada teknologi yaang saya inginkan: Google Glass.

Seandainya saya memiliki alat tersebut, saya rasa alat tersebut dapat membantu saya untuk membuat terjemahan saya menjadi lebih baik. Terutama ketika mendengar istilah yang asing atau ketika lupa padanan katanya.

Semoga teknologi untuk interpreter pun semakin berkembang.

Uncategorized

Honyaku Konyaku dan Mesin Penerjemah

Bagi yang pernah menonton serial kartun Doraemon, mungkin tahu bahwa Doraemon memiliki alat yang dapat membuat orang mengerti dan dapat berbicara bahasa asing. Nama alat (lebih tepatnya adalah makanan) tersebut dalam bahasa Jepang adalah Honyaku Konyaku. Saya lupa apa versi terjemahan Bahasa Indonesia-nya untuk alat ini.

Siapa pun yang memakan alat (sekali lagi, lebih tepatnya adalah makanan) tersebut, maka secara otomatis akan mampu mengerti dan berbicara bahasa asing bahkan bahasa makhluk di luar bumi.

Sepertinya pekerjaan penerjemah akan hilang jika alat tersebut benar-benar ada di dalam dunia nyata. Sekalipun Honyaku Konyaku tidak ada dalam dunia nyata, alat untuk menerjemahkan bahasa asing sudah lama ditemukan oleh manusia.

Saat ini, jika diminta untuk menyebut satu nama alat penerjemah, saya yakin hampir semua orang akan menyebut nama Google Translate. Ya, alat ini sungguh sangat mudah digunakan. Hanya dengan menulis kata, kalimat bahkan alamat situs yang ingin kita terjemahkan dan  memilih pasangan bahasanya, kita akan mendapatkan terjemahan yang kita inginkan.

Terlepas dari banyak keluhan bahwa sering kali terjemahannya tidak akurat, tetap saja banyak orang yang menggunakan mesin penerjemah ini. Fitur suara sangat membantu ketika kita tidak tahu bagaimana melafalkan kata terjemahan. Fitur fonetik juga membantu untuk membaca huruf non alfabet seperti bahasa Jepang.

Dalam era globalisasi ini, perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Namun demikian, untuk dapat ‘bertahan hidup’ di tempat yang baru, manusia harus bisa menembus ‘dinding kebudayaan’. Salah satu unsur kebudayaan tersebut adalah bahasa (Koentjaraningrat).

Ketika saya di Jepang pada tahun 2001, jarang bisa menemukan nama stasiun dalam huruf latin kecuali di stasiun-stasiun besar. Namun karena adanya perhelatan Piala Dunia 2002, Jepang pun berbenah untuk mulai mencantumkan huruf latin di stasiunnya.

Kini, menjelang Olimpiade Tokyo di tahun 2020 pun, Jepang kembali bersiap untuk menghilangkan ‘dinding bahasa’. Saya membaca sebuah artikel daring yang memberitakan bahwa sebuah perusahaan Jepang bekerjasama dengan beberapa perusahaan lain untuk membuat mesin penerjemah pasangan bahasa Jepang-Inggris yang sangat powerful.

Mungkin pada saatnya nanti orang asing berbahasa Inggris akan dapat berbicara secara alami dengan orang Jepang seperti saat ini ketika kita berbicara dengan Siri di iPhone.

Jika mengingat ada Honyaku Konyaku, bukan tidak mungkin orang Jepang akan terobsesi untuk mewujudkannya.

Penerjemahan

Computer Assisted Translation (CAT) Tool

Kadang-kadang saya menemukan kata atau kalimat yang berulang kali muncul dalam teks yang sama ketika sedang menerjemahkan. Biasanya saya pakai cara konvensional dengan “copy-paste” agar tetap menggunakan terjemahan yang sama.

Sebenarnya ada piranti lunak yang memudahkan penerjemah dalam bekerja. Piranti lunak yang dimaksud adalah Computer Assisted Translation (CAT) Tool. CAT berbeda dengan mesin penerjemah karena pada dasarnya hanya membantu saja. Proses penerjemahan tetap dilakukan oleh penerjemah. Namun jika teks asli dan teks terjemahannya tersimpan dalam data CAT, maka piranti lunak tersebut akan mengingat istilah atau kata yang pernah penerjemah gunakan. Sehingga ketika akan menerjemahkan dokumen lain, CAT dapat memberikan rekomendasi kata-kata yang bisa digunakan oleh penerjemah.

Merek piranti lunak CAT ada banyak dan harganya cukup mahal. Namun biasanya mereka menyediakan versi trial-nya secara gratis untuk waktu tertentu. Jika ingin menggunakan yang benar-benar gratis, tidak ada salahnya untuk mencoba Google Translator Toolkit.

Saya sendiri baru akhir-akhir ini mencoba menggunakannya sehingga belum terlalu paham dengan fungsi-fungsinya. Satu hal yang paling terasa adalah saya lebih mudah dalam menerjemahkan karena teksnya sudah terbagi-bagi menjadi satu kalimat-satu kalimat. Oleh karena terintegrasi dengan Google Translate, pada awalnya juga akan muncul terjemahan mesin versi Google-nya. Tentunya terjemahan tersebut perlu diperbaiki agar dapat dibaca lebih ‘alami’.

Sayangnya teks asli komik yang saya terjemahkan masih berupa hardcopy sehingga tidak bisa diunggah ke dalam CAT. Terpaksa masih harus menerjemahkannya secara manual… ( >_<)

Atau…

Sebenarnya ada cara untuk memasukkannya ke dalam CAT?

Penerjemahan

Domestication dan Foreignisation

Beberapa waktu yang lalu saya membaca sebuah artikel media daring Jepang mengenai perubahan pada Doraemon sehubungan dengan akan ditayangkannya serial tersebut di Amerika Serikat. Perubahan yang dimaksud adalah dilakukannya lokalisasi termasuk penyesuaian dengan kebiasaan yang berlaku di Amerika.

Dalam artikel tersebut dijelaskan beberapa perubahannya sebagai berikut: pada adegan makan, adegan menggunakan sumpit diganti dengan garpu dan nasi omelet diganti dengan pancake. Nilai ulangan Nobita yang mendapat nilai 0 diganti dengan F (sesuai dengan metode penilaian di Amerika).

Nama-nama alat ajaib milik Doraemon juga diterjemahkan. Namun ini tidaklah aneh karena di Indonesia pun peralatan ajaib milik Doraemon juga di terjemahkan. Perubahan juga bahkan terjadi pada nama tokoh, contohnya Nobita menjadi Nobby dan Giant menjadi Big G.

Dalam penerjemahan dikenal metode yang disebut domestication dan foreignisation. Kedua istilah tersebut merujuk pada pendekatan mana yang digunakan oleh penerjemah ketika menerjemahkan. Apabila penerjemahannya lebih mendekati bahasa sasaran, maka penerjemah tersebut menggunakan metode domestication. Sebaliknya, apabila penerjemah lebih mendekati bahasa sumber, maka metode yang digunakan adalah foreignisation.

Dalam kasus Doraemon di Amerika Serikat yang saya sampaikan di atas, penerjemahannya harus mengambil metode domestication untuk menyesuaikan dengan perubahan yang dilakukan pada adegan-adegan dalam serial tersebut.

Ketika menerjemahkan komik Jepang, saya pun harus memutuskan apakah akan menggunakan metode domestication atau foreignisation. Pihak penerbit sebenarnya sudah memberikan aturan mengenai hal ini. Terutama untuk penggunaan kata panggilan seperti –san, -chan atau –kun memang tidak diperbolehkan. Lalu, apakah dengan demikian komik terjemahan saya bisa disebut sudah didomestikasi?

Saya pribadi akan mengatakan tidak. Khususnya karena tidak ada perubahan drastis seperti perubahan adegan seperti yang dilakukan pada contoh kasus Doraemon di atas. Terjemahannya cenderung foreignisation karena dalam beberapa kasus saya atau editor saya memberikan catatan kaki untuk menjelaskan istilah yang memang khusus atau tidak bisa diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia.

Metode manapun yang digunakan, pada akhirnya yang penting adalah keberterimaan pada pembacanya. Salah satu latar belakang munculnya fansub di internet adalah karena adanya ketidakpuasan terhadap hasil terjemahan.

Para pembaca komik yang terhormat, semoga terjemahan saya dapat diterima oleh anda sekalian. ^^

Uncategorized

Membaca Kembali Hasil Terjemahan

Dalam blog ini saya pernah menulis tentang kewajaran bahasa dalam penerjemahan. Hasil terjemahan yang terasa wajar bagi pembaca sasaran akan membuat terjemahan tersebut menjadi ‘enak’ dibaca dan tentunya akan membuat penilaian yang baik bagi penerjemahnya.

Cara untuk memeriksanya adalah membaca kembali hasil terjemahan tanpa membandingkan dengan naskah aslinya. Dari situ penerjemah dapat memperbaiki pilihan kata, tata bahasa hingga pencantuman tanda baca.

Saya menemukan contoh ketidakwajaran bahasa seperti yang ada dalam foto di bawah ini.

DSC_0322

Foto di atas adalah tulisan yang tercantum dalam sebuah minimarket (convinience store) di Seoul, Korea Selatan.

Awalnya saya membaca versi bahasa Inggrinya dan merasa ada yang aneh dengan kalimatnya. Namun jujur saja, bahasa Inggris saya juga tidak bagus sekali sehingga mungkin saja saya salah.

Bahasa selanjutnya adalah bahasa Mandarin, saya tidak bisa membaca satu huruf pun.

Bahasa selanjutnya adalah bahasa Jepang. Nah, kalau yang ini saya berani komentar. Kalimatnya sendiri sudah terasa tidak wajar. Ditambah lagi terdapat kesalahan fatal dalam penempatan tanda baca yang membuat kalimat tersebut membingungkan.

Bagian yang saya maksud adalah kalimat berikut:

お客、様楽しみなショ

ッピングしてください。

Pertama kali saya melihatnya, saya bertanya-tanya apa artinya 「様楽」? Setelah melihat secara utuh kalimatnya, saya baru menyadari bahwa kalimat tersebut terputus oleh tanda koma (,). Penempatan tanda baca koma (,) pada kalimat di atas membuat kata 「お客様」terpisah menjadi 「お客」dan「様」.

Selain itu, pemotongan kata 「ショッピング」menjadi 「ショ」dan「ッピング」dibaris selanjutnya membuat kalimat tersebut tidak enak untuk dibaca.

Seperti yang saya tulis sebelumnya, hasil terjemahan akan menentukan kualitas si penerjemah. Terlebih lagi jika hasil terjemahannya akan dibaca oleh banyak orang dan dipublikasikan. Jangan sampai hasil terjemahannya membuat malu baik klien maupun penerjemahnya itu sendiri.