Interpreter

Penjurubahasaan Simultan dan Konsekutif: Bagaikan F1 dan Le Mans 24 Jam

Secara umum, penjurubahasaan dibagi menjadi dua, yaitu juru bahasa simultan dan konsekutif. Sebenarnya masih ada satu lagi, yaitu whispering, tetapi prinsip yang digunakannya dapat dimasukkan ke dalam dua jenis yang pertama.

Penjurubahasaan simultan sering dianggap sebagai jenis penjurubahasaan yang lebih “mentereng” karena memerlukan kemampuan untuk menerjemahkan hampir bersamaan dengan ketika pembicara berbicara.

Namun, sebenarnya kemampuan yang dibutuhkan antara penjurubahasaan simultan dan konsekutif adalah berbeda sehingga tidak bisa dikatakan bahwa yang satu lebih superior dibandingkan yang lainnya. Ini ibaratnya adalah seperti balapan F1 dan Le Mans 24 Jam, keduanya sama-sama mengemudi, tetapi kemampuan mengemudi yang diperlukannya masing-masing berbeda.

Photo by Markus Spiske on Pexels.com

Kemampuan utama yang diperlukan oleh seorang juru bahasa (jurbah) simultan adalah kemampuan memprediksi isi yang akan dibicarakan. Jurbah simultan biasanya akan mendengar sepenggal kalimat dari pembicara untuk langsung diterjemahkan seraya memprediksi apa yang akan disampaikan berikutnya. Dengan cara demikian, jurbah dapat menyampaikan terjemahan yang berterima.

Sedangkan kemampuan utama yang diperlukan oleh jurbah konsekutif adalah kemampuan untuk mencatat isi pembicaraan. Jurbah tidak dapat memperkirakan kapan pembicara akan selesai berbicara dan sangat mengandalkan catatannya agar dapat menerjemahkan secara akurat.

Dari segi daya tahan, penjurubahasaan simulatan adalah seperti mobil F1, sedangkan penjurubahasaan konsekutif adalah seperti mobil Le Mans.

Mobil F1 digunakan untuk balapan yang jumlah putarannya telah ditentukan. Komponen mobilnya ditingkatkan sedemikian rupa, tetapi bukan untuk jangka panjang. Penjurubahasaan simultan juga demikian. Jurbah simultan hanya mampu menerjemahkan maksimal 30 menit karena kegiatan ini sangat menguras otak. Untuk acara-acara yang panjang seperti konferensi atau seminar, biasanya diperlukan 2-3 jurbah yang bekerja secara bergantian.

Mobil Le Mans dirancang agar tahan untuk melakukan balapan selama 24 non-stop. Beberapa komponennya ada yang diganti selama balapan, tetapi kebanyakan komponennya dibuat sedemikian rupa agar memiliki daya tahan yang tinggi. Jurbah konsekutif juga memerlukan daya tahan yang tinggi karena umumnya tidak disediakan pengganti. Ada kalanya juga jurbah harus mengikuti perjalanan yang menguras tenaga sesuai jadwal pembicara.

Mengetahui perbedaan ini sangat penting agar pengguna jasa dapat mengetahui jenis penjurubahasaan apa yang menjadi kebutuhannya. Sungguh sangat sayang jika mobil F1 (jurbah simulatan) digunakan untuk balapan Le Mans (kegiatan panjang yang membutuhkan daya tahan). Tidak cocok juga jika mobil Le Mans (jurbah konsekutif) digunakan untuk balapan F1 (kegiatan yang sangat singkat).

Konsekuensi yang paling jelas adalah biaya. Penjurubahasaan simultan bagaikan balapan F1 yang memakan banyak biaya karena memerlukan peralatan (booth jurbah, transmisi, dan alat pendengar) dan orang yang banyak (beberapa jurbah dan teknisi peralatan).

Semoga tulisan ini bisa menjadi referensi untuk memilih jenis penjurubahasaan yang dibutuhkan.