Teknologi dan Penerjemah

Dulu sebelum pergi ke Jepang untuk kuliah, modal saya adalah kamus bahasa Jepang-Indonesia yang tebalnya minta ampun. Setelah tiba di Jepang, saya mengetahui keberadaan kamus elektronik. Walaupun ketika itu hanya ada untuk pasangan Inggris-Jepang saja, kamus elektronik tersebut sudah sangat membantu karena saya dapat mengetahui cara baca kanjinya dengan menuliskannya di kamus tersebut.

Namun kamus elektronik versi tulis tersebut memiliki kekurangan, yaitu jumlah kosakatanya yang minim. Saya pun akhirnya membeli lagi kamus elektronik versi ketik yang kosakatanya lebih lengkap. Saya masih menggunakan kamus elektronik ini pada awal-awal saya menjadi penerjemah sekitar tahun 2005 hingga akhirnya rusak.

Kamus elektronik tersebut bisa dikatakan sebagai teknologi yang pertama kali saya gunakan sebagai penerjemah profesional selain komputer beserta piranti lunaknya.

Sekarang, teknologi yang saya pakai sudah semakin banyak mulai dari internet, CAT Tools, ponsel pintar dan sabak elektronik alias tablet. Adanya teknologi tersebut sangat menunjang pekerjaan saya sebagai penerjemah.

Jika dulu bingung dengan cara baca kanji, kini hal tersebut bisa diselesaikan dengan menyalinnya atau menulisnya di Google Translate. Bahkan jika malas menulisnya, cukup memfotonya saja melalui aplikasi Google Translate dan dalam sekejap muncullah cara bacanya beserta terjemahannya (terlepas dari terjemahannya sesuai atau tidak, ya).

Begitu juga untuk riset. Kadang-kadang ketika menerjemahkan, saya tidak tahu barangnya seperti apa dan prosesnya seperti apa. Jika sudah begitu, maka biasanya saya langsung kw Om Google danan syukur-syukur ada fotonya atau videonya di Youtube.

Untuk urusan efisiensi waktu, keberadaan CAT Tools juga membantu saya. Saya sendiri baru beberapa bulan ini saja memakai CAT Tools bernama SDL Trados Studio 2014. Sekarang masih suka bingung dengan shortcut-nya, tetapi lumayan membantu mempercepat proses terjemahan saya.

Beberapa yang saya sebutkan di atas adalah teknologi yang saya gunakan sebagai penerjemah (translator). Sebagai interpreter pun, sebenarnya ada teknologi yaang saya inginkan: Google Glass.

Seandainya saya memiliki alat tersebut, saya rasa alat tersebut dapat membantu saya untuk membuat terjemahan saya menjadi lebih baik. Terutama ketika mendengar istilah yang asing atau ketika lupa padanan katanya.

Semoga teknologi untuk interpreter pun semakin berkembang.

Iklan

Honyaku Konyaku dan Mesin Penerjemah

Bagi yang pernah menonton serial kartun Doraemon, mungkin tahu bahwa Doraemon memiliki alat yang dapat membuat orang mengerti dan dapat berbicara bahasa asing. Nama alat (lebih tepatnya adalah makanan) tersebut dalam bahasa Jepang adalah Honyaku Konyaku. Saya lupa apa versi terjemahan Bahasa Indonesia-nya untuk alat ini.

Siapa pun yang memakan alat (sekali lagi, lebih tepatnya adalah makanan) tersebut, maka secara otomatis akan mampu mengerti dan berbicara bahasa asing bahkan bahasa makhluk di luar bumi.

Sepertinya pekerjaan penerjemah akan hilang jika alat tersebut benar-benar ada di dalam dunia nyata. Sekalipun Honyaku Konyaku tidak ada dalam dunia nyata, alat untuk menerjemahkan bahasa asing sudah lama ditemukan oleh manusia.

Saat ini, jika diminta untuk menyebut satu nama alat penerjemah, saya yakin hampir semua orang akan menyebut nama Google Translate. Ya, alat ini sungguh sangat mudah digunakan. Hanya dengan menulis kata, kalimat bahkan alamat situs yang ingin kita terjemahkan dan  memilih pasangan bahasanya, kita akan mendapatkan terjemahan yang kita inginkan.

Terlepas dari banyak keluhan bahwa sering kali terjemahannya tidak akurat, tetap saja banyak orang yang menggunakan mesin penerjemah ini. Fitur suara sangat membantu ketika kita tidak tahu bagaimana melafalkan kata terjemahan. Fitur fonetik juga membantu untuk membaca huruf non alfabet seperti bahasa Jepang.

Dalam era globalisasi ini, perpindahan manusia dari satu tempat ke tempat lain merupakan hal yang mudah untuk dilakukan. Namun demikian, untuk dapat ‘bertahan hidup’ di tempat yang baru, manusia harus bisa menembus ‘dinding kebudayaan’. Salah satu unsur kebudayaan tersebut adalah bahasa (Koentjaraningrat).

Ketika saya di Jepang pada tahun 2001, jarang bisa menemukan nama stasiun dalam huruf latin kecuali di stasiun-stasiun besar. Namun karena adanya perhelatan Piala Dunia 2002, Jepang pun berbenah untuk mulai mencantumkan huruf latin di stasiunnya.

Kini, menjelang Olimpiade Tokyo di tahun 2020 pun, Jepang kembali bersiap untuk menghilangkan ‘dinding bahasa’. Saya membaca sebuah artikel daring yang memberitakan bahwa sebuah perusahaan Jepang bekerjasama dengan beberapa perusahaan lain untuk membuat mesin penerjemah pasangan bahasa Jepang-Inggris yang sangat powerful.

Mungkin pada saatnya nanti orang asing berbahasa Inggris akan dapat berbicara secara alami dengan orang Jepang seperti saat ini ketika kita berbicara dengan Siri di iPhone.

Jika mengingat ada Honyaku Konyaku, bukan tidak mungkin orang Jepang akan terobsesi untuk mewujudkannya.