Dajare

Dajare adalah permainan kata dalam bahasa Jepang. Dajare terdiri dari dua kata da 駄 dan share 洒落. Konon awalnya dajare adalah sesuatu yang intelektual karena memainkan kata-kata yang bunyinya mirip/sama namun ditulis menggunakan huruf yang berbeda. Karena dianggap intelek, maka kesan keren (share) muncul. Namun adanya anggapan bahwa dajare ini lebih sering dilontarkan oleh orang-orang tua, maka lama-kelamaan tidak lagi dianggap keren hingga akhirnya diberi tambahan da 駄 yang artinya tidak menarik.

Bagi yang menonton atau membaca serial Detektif Conan tentu kenal dengan tokoh Prof. Agasa. (Saya sebenarnya bingung, kenapa Agasa Hakase diterjemahkan menjadi ‘Prof. Agasa’, padahal hakase = doktor?). Dalam serial movie, biasanya Prof. Agasa mengeluarkan teka-teki yang jawabannya adalah dajare. Begitu juga dengan Mouri Kogoro, kegemarannya adalah melontarkan dajare. Yaah, bisa dibilang ini menguatkan asumsi bahwa dajare biasa dilontarkan oleh orang-orang tua.

Terlepas dari pandangan itu, saya sendiri merasa dajare adalah sesuatu yang menarik. Karena secara tidak langsung bisa membaca kanji dari huruf-huruf yang berbeda, kita bisa sekaligus melatih kemampuan untuk membaca kanji. Beberapa dajare yang “klasik” adalah:

ねころんだ

布団吹っ飛んだ!

電話でんわ

Bagi yang ingin tahu lebih banyak contoh-contoh dajare, bisa follow @DajareStation. Selamat menikmati!

Iklan

Romanisasi Kata Serapan Bahasa Jepang

オーマイゴッド!!(OMG)

Itu mungkin kata yang paling pas ketika membaca kata serapan asing dalam bahasa Jepang. Kata serapan tersebut umumnya ditulis dengan huruf katakana. Cukup mudah untuk menemukan kata-kata serapan tersebut dalam bahasa Jepang. Beberapa contoh yang lazim digunakan dalam percakapan sehari-hari adalah コンビニ (convinience store), チケット (ticket), ボール (ball), サッカー (soccer) dsb. Ejaan yang dipakai dalam bahasa serapan menggunakan ejaan berdasarkan cara bacanya. Namun karena keterbatasan cara baca dalam bahasa Jepang, pelafalan kata serapan tidak melulu sesuai dengan aslinya.

Ketika saya menerjemahkan komik, saya sering sekali mengalami  kesulitan dalam melakukan romanisasi kata-kata serapan tersebut. Salah satu contohnya adalah komik yang berjudul The Drops of God. Dalam komik yang menceritakan tentang wine ini, terdapat begitu banyak merek wine dan cara penulisan dalam dialognya menggunakan huruf katakana! Saya sangat bersyukur bahwa di zaman modern ini sudah ada yang namanya internet. Saya cukup menulis merek yang ditulis dalam katakana tersebut di dalam kotak pencarian Google dan… yosshiaaa!! Muncullah merek yang ditulis dalam huruf latin. Cara ini tidak selalu berhasil. Kadang karena penulisan dalam katakana yang berbeda (misal: panjang-pendeknya), hasilnyapun menjadi nihil. Kalau sudah begini kadang harus tanya sana-sini ke orang-orang yang lebih paham.

Nah, berikut ada beberapa contoh kata serapan yang cukup untuk membuat bingung bagaimana menulisnya dalam huruf latin. Berminat untuk mencoba?

ベイエ (bahasa Prancis)

サンナクチ (bahasa Korea)

コペルティ (bahasa Italia)

 

Belajar Bahasa Jepang

Saya sering ditanya oleh teman-teman saya, bagaimana caranya agar bisa lancar berbahasa Jepang. Saya sendiri tidak pernah belajar bahasa Jepang secara formal. Namun kebetulan saya pernah ikut orangtua tugas belajar ke Jepang waktu kecil dan mendapat kesempatan kuliah di Jepang. Total saya tinggal di Jepang selama 9 tahun. Kebanyakan orang-orang yang mendengar cerita tentang lamanya saya tinggal di Jepang berpikir, “tentu saja dia lancar bahasa Jepang-nya, wong dia lama di Jepang kok”. Saya tidak menampik anggapan tersebut, tetapi saya tidak setuju jika lamanya tingal di Jepang dijadikan penyebab lancarnya berbahasa Jepang. Kenapa? Karena berbahasa Jepang bukan berarti sekedar bisa berbicara bahasa Jepang saja, melainkan juga bisa membaca dan menulis. Kedua hal inilah yang menjadi momok bagi orang-orang yang belajar bahasa Jepang. Sebagai orang Indonesia, kita terbiasa untuk membaca dan menulis dengan menggunakan huruf latin. Sehingga mempelajari bahasa yang tidak menggunakan huruf latin memerlukan usaha yang lebih agar dapat menguasainya.

Saya sendiri mengalami kesulitan ketika harus menguasai huruf kanji. Sekalipun waktu kecil saya pernah tinggal di Jepang, ketika itu saya bersekolah di sekolah Indonesia. Sehingga saya hanya mendapat pendidikan bahasa Jepang ala kadarnya. Saya memang dengan mudah mengingat hiragana dan katakana ketika sudah dewasa, tetapi untuk kanji, saya harus berusaha keras untuk menghafalnya. Lalu, bagaimana caranya agar bisa menghafal begitu banyak kanji? Saya sendiri merasa ada 3 hal yang membantu saya untuk menghafal kanji: membaca komik, bermain video game dan menonton acara tv jepang. Mungkin kedengarannya seperti bermain-main, tapi berikut penjelasan dari saya.

Membaca komik sudah tentu membutuhkan kemampuan membaca. Saya sangat senang membaca komik dan pada saat saya kuliah di Jepang pun saya ingin sekali membaca komik. Tetapi disini muncul masalah: bahasanya bahasa Jepang. Tidak mungkin saya bisa mendapatkan komik berbahasa Indonesia di Jepang kecuali titip kepada orang-orang yang pulang ke Indonesia untuk dibawakan. Namun rasanya hal tersebut sangat konyol, lagi pula yang versi bahasa Jepang nomornya sudah jauh dibandingkan dengan yang terjemahan. Akhirnya sayapun membeli komik yang bahasa Jepang dan membacanya sambil menenteng kamus. Tentu saja ini sangat merepotkan. Namun ini sangat membantu saya untuk mempelajari kosakata bahasa Jepang, sekaligus mengingat huruf kanji. Dibandingkan membaca bahan-bahan kuliah, tentu saja lebih menyenangkan untuk membaca komik.

Bermain game juga turut membantu saya untuk belajar kanji. Game yang dimainkan tentu saja bukan yang sekelas tetris atau pacman. Bermain game tipe RPG atau bahkan game olahrsga sekalipun memerlukan kemampuan untuk membaca. Untuk game RPG, sudah jelas sekali perintah-perintah yang ada tertulis dalan bahasa Jepang, sedangkan untuk game olahraga, menu dan strategi yang tertulis dalam huruf Jepang. Hanya saja berbeda dengan membaca komik, biasanya untuk game, cukup hanya sekali saja untuk buka kamus. Kenapa? Karena selanjutnya sudah hafal dengan isinya :p

Yang menurut saya sangat membantu adalah menonton acara tv jepang. Bagi yang pernah lihat mungkin sudah tahu bahwa biasanya acara tv jepang suka menuliskan subtitle atas kata-kata yang diucapkan oleh pengisi acara. Tujuan dari subtitle tersebut adalah untuk membantu mereka yang memiliki pendengaran kurang agar tetap bisa memahami isi acara. Pada awal saya kuliah di Jepang, saya tidak suka menonton acara tv selain kartun yang saya pun kadang tidak memahaminya. Saya mulai menonton acara tv Jepang ketika libur musim panas pertama saya. Ketika itu senior-senior saya banyak yang pulang ke Indonesia, sehingga saya tidak punya kegiatan lain. Iseng-iseng saya menonton tv. Saya perhatikan pada saat itu, hampir semua acara tv bertema variety show dan sering sekali terdengar suara tawa. Saya mulai mencoba memahami dengan menonton sambil membawa kamus. Karena terdapat subtitle, saya jadi tahu cara baca kanjinya. Setelah itu saya cari di kamus artinya. Saya memang tidak bisa memahami secara utuh isi acaranya dan sering terlambat tertawa, tetapi cara tersebut cukup efektif karena berikutnya saya jadi ingin tahu secara utuh isi dari acara-acara tv tersebut. Karena semakin terbiasa membaca, semakin lama semakin banyak huruf yang saya hafal dan semakin banyak kosakata yang saya pahami.

Cara-cara diatas mungkin berhasil bagi saya karena saya menyukai ketiga hal diatas. Namun intinya adalah belajar bahasa Jepang bisa dilakukan melalui media yang kita sukai. Kemampuan membaca dapat diasah melalui hal-hal yang disukai tersebut. Jika sudah bisa membaca, maka menulis di komputer pasti akan bisa. Namun untuk menulis tangan hanya bisa dilakukan dengan latihan menukis saja. Sedangkan untuk kemampuan berbicara, cara yang paling baik adalah berkomunikasi langsung dengan orang Jepang. Cara lain yang bisa dilakukan adalah memaksakan diri untuk berbicara dengan menggunakan bahasa Jepang kepada sesama orang Indonesia. Tentu saja hasilnya tidak akan seefektif ketika berkomunikasi dengan orang Jepang.

Mudah-mudahan tips ini dapat membantu. Gambatte kudasai!

Penerjemah komik Jepang

Pada saat blog ini ditulis, sudah hampir 2 tahun saya menjadi penerjemah komik jepang. Awalnya sekedar iseng-iseng ketika sedang browsing di internet, saya menemukan lowongan untuk menjadi penerjemah lepas komik Jepang di sebuah penerbit. Setelah lulus ujian penerimaan berupa menerjemahkan kurang lebih 20 halaman komik, saya pun mulai bekerja sebagai penerjemah komik Jepang di penerbit tersebut. Jika saya bandingkan hasil terjemahan dulu dan sekarang, saya merasakan perbedaan dalam hasil terjemahannya. Satu yang paling terasa adalah mengenai tingkat kewajaran atau keberterimaan dalam Bahasa Indonesia. Tentunya saya tidak memungkiri bahwa peran editor sangatlah besar untuk memperbaiki hasil terjemahan saya. Setiap hasil terjemahan saya terbit, saya selalu membandingkan dengan terjemahan yang saya kirimkan ke penerbit dan memperhatikan perbedaan-perbedaannya. Pada saat-saat awal, saya melihat cukup banyak perbaikan yang dilakukan terhadap hasil terjemahan saya. Hal tersebut membuat saya paham bahwa menerjemahkan bukanlah sekedar mengganti kata dari bahasa asli saja. Dalam sebuah buku mengenai teori penerjemahan dikatakan bahwa menerjemahkan adalah menyampaikan pesan dari bahasa sumber ke bahasa sasaran. Hal inilah yang sebelumnya kurang saya perhatikan. Sering kali saya terlalu terpaku untuk menerjemahkan kata perkata dari bahasa Jepang, sehingga ketika dibaca kembali susunan bahasa Indonesia-nya menjadi kacau atau menjadi kalimat yang sulit di mengerti.

Saya pun kemudian berusaha agar terjemahan saya menjadi lebih baik. Selain membaca buku mengenai teori penerjemahan, saya pun membaca komik-komik terjemahan baik yang diterjemahkan oleh saya maupun oleh orang lain. Tujuannya adalah untuk mengetahui penggunaan kosakata yang lebih tepat. Terutama penulisan sound effect yang banyak ditemukan pada komik-komik Jepang. Sampai sekarangpun saya masih terus berusaha untuk memperbaiki kualitas terjemahan saya. Saya sering singgah ke situs forum milik penerbit untuk melihat apakah ada komentar mengenai terjemahan saya. Selain itu juga masukan dari teman-teman dan keluarga yang membaca komik hasil terjemahan saya menjadi pendorong agar saya terus memperbaiki diri. Saya juga berharap melalui blog ini dan jejaring sosial, saya bisa mendapat masukan secara langsung dari pembaca komik hasil terjemahan saya.

Beberapa judul komik yang sudah saya terjemahkan adalah:
– Jepang Tenggelam mulai no. 9
– Adamas mulai no.1
– Misaki no.1 mulai no.1
– Hikayat Genji mulai no. 2
– Homunculus mulai no. 9
– Until Death Do Us Part mulai no. 10

Masih ada lagi beberapa judul lain baik yang sudah maupun belum diterbitkan. Saya berharap untuk mendapat masukan yang berarti dari para pembaca. Yoroshiku onegaishimasu. m(_ _)m